Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Catalhoyuk, Permukiman Purba Berusia 9000 Tahun

5 Fakta Catalhoyuk, Permukiman Purba Berusia 9000 Tahun
Catalhoyuk, Turki (commons.wikimedia.org/Murat Özsoy 1958)
  • Catalhoyuk di Anatolia Selatan, Turki, merupakan permukiman Neolitikum berusia sekitar 9.000 tahun yang merekam peralihan manusia dari berburu-meramu menuju pertanian dan peternakan menetap.
  • Rumah-rumah bata lumpur dibangun rapat tanpa jalan, diakses dari atap; interiornya memuat tungku, mural, relief tanduk banteng, serta penguburan keluarga di bawah lantai.
  • Warganya bertani, beternak, berburu, dan mengolah obsidian; situs dua bukit ini masih diteliti, dengan baru sekitar 5 persen area keseluruhan telah digali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Catalhoyuk merupakan situs arkeologi purba yang terletak di Dataran Anatolia Selatan, Turki. Situs proto kota yang telah berusia sekitar 9.000 tahun ini diperkirakan berkembang pada era Neolitikum sekitar tahun 7500 SM hingga 5700 SM. Permukiman kuno ini menjadi salah satu bukti awal perubahan pola hidup manusia dari berburu dan meramu menuju sistem pertanian serta peternakan menetap.

Struktur bangunan dan tata ruang permukiman di situs ini memiliki karakter yang berbeda dari banyak permukiman prasejarah lainnya. Berbagai penggalian arkeologi di kawasan ini menemukan sisa bangunan, perhiasan, artefak seni, hingga kerangka manusia yang tersimpan di bawah tanah. Yuk, langsung saja simak lima fakta menarik tentang Catalhoyuk berikut ini!

  1. 1. Rumah dibangun berdempetan tanpa jalur jalan

    Catalhoyuk, Turki
    Catalhoyuk, Turki (commons.wikimedia.org/Omar hoftun)

    Catalhoyuk menempati area seluas sekitar 37 hektare di Dataran Anatolia Selatan. Dilansir laman UNESCO World Heritage Centre, permukiman prasejarah ini memiliki tata letak bangunan unik berupa rumah-rumah yang dibangun saling menempel tanpa adanya jalur jalan di antaranya. Akses keluar masuk rumah dilakukan melalui lubang di bagian atap menggunakan tangga kayu. Atap-atap rumah yang datar dan saling terhubung difungsikan sebagai area aktivitas harian warga sekaligus jalur lalu lintas utama.

    Model arsitektur seragam ini dibangun menggunakan bahan utama berupa bata lumpur dengan dinding tebal mencapai 50 sentimeter. Rumah-rumah tersebut umumnya terdiri dari satu ruang utama dan dua ruang pendukung yang difungsikan sebagai gudang penyimpanan bahan pangan. Pola tata ruang yang tertata rapi serta memiliki ukuran relatif sama pada tiap rumah mengindikasikan struktur masyarakat yang hidup berdasarkan prinsip egaliter tanpa adanya perbedaan kelas sosial.

  2. 2. Interior rumah dilengkapi lukisan dinding dan relief tanduk banteng

    Catalhoyuk, Turki
    Catalhoyuk, Turki (commons.wikimedia.org/Verity Cridland)

    Kehidupan harian warga Catalhoyuk berpusat di dalam ruang utama rumah yang dilengkapi dengan tungku dan perapian. Dilansir laman National Geographic, penggunaan bahan tanah liat dan plesteran dinding membuat warga harus rutin memperbarui interior rumah mereka secara berkala. Pembaruan dinding ini menghasilkan ratusan lapisan plester tebal dari aktivitas penghuninya. Area dalam rumah dibagi secara tegas menjadi area kerja di sekitar tungku api dan area bersih berupa platform tinggi.

    Dinding di area bersih dihiasi lukisan mural menggunakan pigmen warna merah dan hitam yang menggambarkan motif geometris, cap tangan, hingga adegan berburu. Selain lukisan, interior rumah dihiasi pula dengan relief timbul berupa kepala serta tanduk banteng liar yang dipasang pada dinding atau platform. Ruang bersih ini juga dimanfaatkan sebagai lokasi penguburan jenazah keluarga di bawah lantai rumah, di mana jasad diletakkan dalam keranjang atau gulungan tikar sebelum ditutup kembali.

  3. 3. Perdagangan obsidian pada masa Neolitikum

    Artefak obsidian dari situs Catalhoyuk yang dipamerkan di Museum Peradaban Anatolia, Ankara
    Artefak obsidian dari situs Catalhoyuk yang dipamerkan di Museum Peradaban Anatolia, Ankara (commons.wikimedia.org/Georges Jansoone)

    Masyarakat Catalhoyuk menjalankan sistem ekonomi berbasis gabungan antara pertanian, peternakan, juga kegiatan berburu atau meramu. Dilansir laman Turkish Archaeological News, jenis tanaman yang dibudidayakan di sekitar kawasan ini meliputi gandum, jelai, hingga kacang polong, di samping pemanfaatan hasil hutan seperti almond atau pistacio. Selain memelihara domba maupun kambing yang telah didomestikasi, warga setempat mulai mempraktikkan peternakan sapi serta berburu hewan liar seperti bison atau rusa.

    Di bidang kerajinan, mata pencaharian utama warga berpusat pada pembuatan gerabah hingga pengolahan alat-alat obsidian. Batuan obsidian berkualitas tinggi dari Gunung Hasan dimanfaatkan untuk membuat berbagai perkakas tajam hingga cermin. Kerang asal Laut Tengah maupun kayu kurma dari wilayah Levant tersimpan di area penggalian.

  4. 4. Pembagian area permukiman Bukit Timur dan Bukit Barat

    Catalhoyuk, Turki
    Catalhoyuk, Turki (commons.wikimedia.org/Murat Özsoy 1958)

    Struktur fisik situs Catalhoyuk terdiri dari dua gundukan tanah utama yang dinamakan Bukit Timur juga Bukit Barat. Merujuk kembali pada laman UNESCO World Heritage Centre, Bukit Timur merupakan area permukiman tertua yang menyimpan 18 lapisan pendudukan dari zaman Neolitikum sekitar 7400 SM hingga 6200 SM. Pembentukan lapisan-lapisan tanah ini terjadi akibat tradisi warga yang meratakan rumah lama untuk kemudian membangun rumah baru tepat di atas reruntuhan bangunan sebelumnya secara terus-menerus selama lebih dari seribu tahun.

    Memasuki periode sekitar 6200 SM, fokus aktivitas permukiman berpindah ke area Bukit Barat yang berkembang hingga era Tembaga (Chalcolithic) sekitar 5200 SM. Pada fase peralihan ini, pola kehidupan masyarakat mulai mengalami perubahan, ditandai dengan ditemukannya keramik berhias cat warna-warni maupun pergeseran fungsi rumah menjadi pusat produksi mandiri. Tim arkeolog memetakan alur transisi dari bentuk desa pertanian awal menuju pemukiman pra-perkotaan melalui tiap lapisan stratigrafi di kedua bukit.

  5. 5. Penggalian arkeologi yang masih berlangsung

    Catalhoyuk, Turki
    Catalhoyuk, Turki (commons.wikimedia.org/Dr._Colleen_Morgan)

    Keberadaan Bukit Catalhoyuk pertama kali diidentifikasi oleh peneliti barat pada tahun 1952 sebelum dilanjutkan dengan ekskavasi sistematis oleh James Melaart pada periode 1961 hingga 1965. Merujuk kembali pada laman Turkish Archaeological News, penelitian di lokasi ini sempat terhenti cukup lama hingga akhirnya dilanjutkan kembali pada tahun 1993 di bawah pimpinan Ian Hodder lewat pendekatan analisis arkeologi modern. Hingga saat ini, luas area yang berhasil digali oleh tim peneliti internasional baru mencapai sekitar 5 persen dari keseluruhan total luas situs.

    Untuk melindungi sisa-sisa dinding bata lumpur maupun struktur kuno dari risiko erosi akibat cuaca, pihak pengelola membangun struktur atap pelindung di area gundukan utara atau selatan. Kawasan ini dilengkapi dengan fasilitas Visitor Centre yang menampilkan papan informasi, replika artefak, juga bangunan rekonstruksi rumah Neolitikum bagi para pengunjung. Sementara itu, patung wanita Seated Woman maupun perkakas obsidian disimpan di Museum Peradaban Anatolia di Ankara atau Museum Arkeologi Konya.

    Dengan usia sekitar 9.000 tahun, Catalhoyuk menjadi salah satu permukiman purba terpenting yang pernah ditemukan di Anatolia. Berbagai temuan arkeologi di situs ini terus membantu para peneliti mengungkap kehidupan masyarakat Neolitikum, mulai dari tata ruang permukiman hingga aktivitas ekonomi mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More