Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Cecak Jari Lengkung Jawa, Reptil Endemik dengan Corak Marmer

5 Fakta Cecak Jari Lengkung Jawa, Reptil Endemik dengan Corak Marmer
Cecak jari-lengkung jawa (inaturalist.org/rizkymudzakir)
Intinya Sih
  • Cecak jari-lengkung jawa adalah reptil endemik Jawa dan Bali dengan pola marmer serta jari melengkung yang memudahkan memanjat di habitat hutan hingga pegunungan.
  • Spesies ini aktif pada malam hari untuk berburu serangga, memanfaatkan kemampuan kamuflase dan penglihatan tajam guna menghindari predator diurnal.
  • Cecak ini berkembang biak dengan bertelur dua butir per siklus, sementara kelestarian populasinya bergantung pada perlindungan habitat dari ancaman alih fungsi lahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cecak jari-lengkung jawa (Cyrtodactylus marmoratus) merupakan jenis geko yang memiliki ciri khas pola warna menyerupai marmer. Spesies ini memiliki struktur jari melengkung yang mendukung kemampuan memanjat di berbagai permukaan.

Sebagai hewan nokturnal, cecak ini berperan sebagai predator serangga kecil di ekosistem hutan, mulai dari wilayah dataran rendah hingga pegunungan. Meskipun sering ditemukan di habitat berbatu, cecak jari-lengkung jawa menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Yuk, simak fakta lengkap tentang cecak jari-lengkung jawa di bawah ini!

1. Wilayah sebaran terbatas di Pulau Jawa dan Bali

Cecak jari-lengkung jawa
Cecak jari-lengkung jawa (inaturalist.org/jasonalexander)

Secara geografis, penyebaran cecak jari-lengkung jawa hanya tercatat di Pulau Jawa dan Bali. Beberapa lokasi temuan mencakup Bogor, Depok, Cibodas, hingga wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan ketinggian mencapai 1.500 meter di atas permukaan laut.

Penelitian taksonomi terbaru menunjukkan bahwa wilayah sebarannya lebih terbatas dibandingkan dugaan awal yang mencakup Asia Tenggara. Habitat utamanya adalah hutan hujan primer dan sekunder, namun mereka juga dapat ditemukan di pinggiran perkebunan atau tepi sungai yang menyediakan celah batu dan akar pohon sebagai tempat berlindung.

2. Ciri fisik tubuh mendukung kemampuan memanjat dan menyamar

Cecak jari-lengkung jawa
Cecak jari-lengkung jawa (inaturalist.org/rizkymudzakir)

Spesies ini memiliki kepala pipih dan moncong yang meruncing untuk memudahkan pergerakan di permukaan vertikal. Panjang tubuh dewasa mencapai sekitar 76 mm dengan panjang ekor yang hampir serupa.

Punggungnya berwarna cokelat terang dengan bintik cokelat gelap yang berfungsi sebagai kamuflase di kulit pohon atau lumut. Selain pola warna, jari-jarinya dilengkapi dengan lamela yang kuat, sehingga memungkinkan cecak ini menempel pada permukaan batang pohon atau batu yang kasar.

3. Aktivitas berburu dilakukan pada malam hari untuk bertahan hidup

Cecak jari-lengkung jawa
Cecak jari-lengkung jawa (inaturalist.org/nmoorhatch)

Sebagai hewan nokturnal, cecak jari-lengkung jawa mulai aktif mencari makan saat cahaya matahari meredup. Pola aktivitas malam hari ini bertujuan untuk menghindari predator diurnal dan memanfaatkan tingkat kelembapan hutan tropis yang stabil.

Dengan kemampuan penglihatan malam yang tajam, spesies ini dapat berburu serangga dengan efektif sambil tetap terlindungi oleh penyamaran alaminya agar tidak terdeteksi oleh ancaman di sekitar.

4. Proses reproduksi dengan cara bertelur

Cecak jari-lengkung jawa
Cecak jari-lengkung jawa (inaturalist.org/rizkymudzakir)

Cecak jari-lengkung jawa berkembang biak dengan cara bertelur atau ovipar. Dalam satu siklus reproduksi, betina biasanya menghasilkan dua butir telur bercangkang keras yang diletakkan di tempat lembap, seperti di bawah gumpalan lumut.

Telur-telur ini memerlukan waktu inkubasi sekitar 93 hari sebelum menetas. Anak cecak yang baru menetas memiliki panjang antara 57 hingga 64 mm dan sudah memiliki struktur fisik serta pola warna yang serupa dengan individu dewasa untuk bertahan hidup di habitatnya.

5. Kelestarian habitat menjadi kunci perlindungan populasi

Cecak jari-lengkung jawa
Cecak jari-lengkung jawa (inaturalist.org/fathur_s)

Berdasarkan penilaian status konservasi, cecak jari-lengkung jawa berada dalam kategori berisiko rendah (least concern). Hal ini didasari oleh kemampuannya untuk mendiami berbagai tipe habitat yang telah mengalami modifikasi.

Namun, hilangnya tutupan hutan akibat alih fungsi lahan tetap menjadi ancaman utama yang dapat memicu fragmentasi populasi. Pemantauan di kawasan konservasi seperti taman nasional diperlukan untuk memastikan populasi reptil endemik ini tetap stabil di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More