Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta EA-18G Growler, Jet Spesialis Perang Elektronik Asal AS
potret jet tempur perang elektronik EA-18G Growler milik US Navy yang memiliki kemampuan meretas pertahanan udara musuh (commons.wikimedia.org/Senior Airman John Linzmeier)

Peperangan modern telah menciptakan sebuah medan perang baru di spektrum elektromagnetik yang tak kelihatan (invisible battlefield). Berbeda dengan peperangan konvensional di mana dua kekuatan militer saling berhadapan di medan tempur, peperangan elektronik terjadi di medan tak kasat mata untuk melumpuhkan pertahanan musuh secara senyap melalui peretasan elektronik terhadap sistem radar dan sistem elektronik alutsista lawan. Salah satu alutsista canggih yang didesain untuk melakukan peperangan elektronik dari udara adalah jet tempur EA-18G Growler asal Amerika Serikat (AS)

Dilansir Military Watch Magazine, jet tempur EA-18G Growler inilah yang kemudian memainkan peranan vital dalam meretas sistem pertahanan udara Venezuela yang menyebabkan sistem radar dan senjata pertahanan udara Venezuela menjadi lumpuh ketika militer AS melakukan serangan udara terhadap Venezuela pada tanggal 3 Januari 2026 silam yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai jet tempur perang elektronik canggih ini? Simak 5 fakta menariknya berikut ini, yuk!

1. Menggunakan basis jet tempur F/A-18F Super Hornet

potret upacara peluncuran perdana (roll out) jet tempur perang elektronik EA-18G Growler pada tanggal 3 Augustus 2006 silam (commons.wikimedia.org/Marv Lynchard)

Airframe jet tempur EA-18G Growler menggunakan basis airframe jet tempur multi misi terkenal AL AS yaitu varian kursi ganda F/A-18F Super Hornet. F/A-18 Super Hornet adalah jet tempur buatan pabrikan aviasi terkenal Boeing yang dalam operasionalnya dapat digunakan untuk multi misi sebagai fighter untuk supremasi udara maupun untuk menyerang (attack) target militer di darat. Skuadron F/A-18 Super Hornet AL AS menginduk dan beroperasi dari atas geladak kapal induk tenaga nuklir AL AS sebagai ujung tombak dukungan serangan udara.

Menurut laman National Interest, sekilas tampilan visual EA-18G Growler tampak persis seperti F/A-18 Super Hornet, terlebih di bagian kanopi dan permukaan sayapnya, namun terdapat perbedaan di antara kedua jet tempur tersebut. EA-18G Growler yang memiliki spesialisasi untuk peperangan elektronik didesain ulang untuk memungkinkan penerbangan yang lebih stabil. Untuk tujuan tersebut pabrikan Boeing menyesuaikan fairing (panel penutup) tepi depan dan fairing engsel lipat sayap. Bagian meriam Super Hornet dilepas menjadikan EA-18G Growler tanpa meriam dan ruang meriamnya digunakan untuk menampung peralatan perang elektronik.

2. Hanya 2 negara yang mengoperasikan jet canggih ini

Menurut laman Boeing, saat ini ada 2 negara yang menjadi operator jet perang elektronik EA-18G Growler ini yaitu pihak Us Navy atau Angkatan Laut (AL) AS dan The Royal Australian Air Force (RAAF) atau AU Australia. AL AS mengoperasikan sekitar 150 unit EA-18G Growler yang merupakan jet pengganti dari pesawat perang elektronik lama Northrop Grumman EA-6B Prowlers. EA-18G Growler terbang perdana di tahun 2006, memasuki lini produksi di tahun 2007 dan memasuki dinas operasional di AL AS pada akhir tahun 2009.

Australia adalah negara pertama yang mendapatkan penawaran dari AS untuk jet tempur perang elektronik ini dalam sebuah program kerja sama militer. Pihak AU Australia membeli dan mengoperasikan sekitar 12 unit EA-18G Growler yang memasuki dinas operasional di AU Australia sejak tahun 2017 silam.

3. Berharga Rp. 1,1 triliun per unitnya

potret jet tempur perang elektronik EA-18G Growler sedang bersiap untuk lepas landas dari kapal induk USS Theodore Roosevelt (CVN71) (commons.wikimedia.org/US Navy)

EA-18G Growler adalah salah satu jet tempur yang mahal di kelasnya karena airframe yang didesain lebih khusus dan sistem peralatan perang elektronik yang canggih. Menurut laman Fox5 San Diego, setiap unit jet tempur EA-18G Growler AL AS memiliki harga sekitar USD 67 juta atau sekitar Rp. 1,1 triliun (dengan asumsi kurs 1 USD = Rp. 16.500).

Untuk biaya operasional menerbangkan dan mengoperasikan EA-18G Growler ini, dibutuhkan biaya sekitar USD 19,500 atau Sekitar Rp. 321-an juta per jamnya. Jet tempur yang memiliki spesialisasi di bidang perang elektronik ini memiliki dimensi panjang: 18,28 m, rentang sayap 13,7m dan brat kosong seberat 14.900-an kg.

4. Dilengkapi peralatan canggih untuk peperangan elektronik

potret jet tempur EA-18G Growler AL AS dengan peralatan perang elektroniknya, rudal udara ke permukaan serta rudal udara ke udaranya (commons.wikimedia.org/Cmdr. Ian C. Anderson)

EA-18G Growler adalah jet tempur berbahaya yang dikenal bukan karena kekuatan munisi bom atau rudalnya namun karena kemampuan perang elektroniknya. Prefiks "EA" di depan EA-18G memiliki arti "Electronic Attack". Dalam peperangan misi utama jet tempur ini adalah untuk pengintaian, intelijen elektronik, menipu dan mengganggu radar pertahanan udara serta menggagalkan berbagai sistem elektronik musuh dengan melakukan serangan elektronik (jamming) sehingga sistem radar dan pertahanan udara pihak musuh menjadi "buta" dan "lumpuh".

Menurut laman Simple Flying, EA-18G Growler memiliki 11 unit ruang senjata untuk membawa sistem senjata perang elektronik dan rudal udara ke udara AIM-120 AMRAAM untuk bela diri serta rudal udara permukaan anti radar AGM-88 HARM. Untuk peralatan perang elektroniknya, EA-18G dilengkapi radar-radar dan sensor canggih, diantaranya: radar canggih peringatan dini ALQ-218 buatan pabrikan Northrop Grumman, EDO Corporation ALQ-99 pods yaitu sistem untuk melakukan jamming sistem elektronik dan radar musuh, Raytheon APG-79 (AESA) radar untuk deteksi target di udara dan darat, BAE Systems Electronics ALE-47 yang akan melindungi jet tempur dari deteksi radar dan kuncian rudal penjejak panas.

5. Combat proven

potret jet tempur EA-18G Growler dari skuadron serang elektronik VAQ-129 "Vikings" yang akan mendarat di atas kapal induk tenaga nuklir USS Ronald Reagan (CVN-76) (commons.wikimedia.org/Torrey W. Lee)

Reputasi jet tempur EA-18G Growler milik AL AS ini telah diakui combat proven atau telah teruji di medan tempur yang sesungguhnya. Menurut laman National Security Journal, debut perang pertama untuk jet tempur perang elektronik ini terjadi pada tahun 2011 ketika ambil bagian dalam operasi militer bertajuk "Odyssey Dawn", intervensi NATO di Libya untuk menegakkan Resolusi PBB no 1973 ketika terjadi perang saudara di Libya. Dalam operasi militer tersebut EA-18G Growler ditugaskan untuk mendobrak pertahanan udara terpadu dan modern milik Libya yang berhasil dilaksanakan dengan baik.

Kisah EA-18G Growler berlanjut di langit Irak dan Suriah selama operasi militer bertajuk "Inherent Resolve" yang dimulai sejak tahun 2014 silam hingga hari ini dalam melawan kelompok teroris ISIS. Dalam operasi militer tersebut para awak EA-18G Growler dengan perangkat perang elektroniknya berhasil mengacaukan jaringan komunikasi dan komando kelompok teroris ISIS. Bahkan dalam salah satu upaya inovatifnya, dengan memanfaatkan kecanggihan perangkat perang elektroniknya, para awak EA-18G Growler tersebut berhasil menggunakan pod pengacau sinyalnya untuk meledakkan dari jarak jauh bom yang dikendalikan oleh remote control untuk melindungi gerak maju pasukan kawan di darat.

Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu mengenai salah satu jet tempur canggih yang memiliki kemampuan unik, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team