Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Fakta Kumbang Jerapah, Serangga Leher Panjang Penghuni Madagaskar

Kumbang jerapah jantan (Trachelophorus giraffa), serangga endemik Madagaskar.
Kumbang jerapah jantan (Trachelophorus giraffa), serangga endemik Madagaskar. (commons.wikimedia.org/Kristof Zyskowski & Yulia Bereshpolova)
Intinya sih...
  • Kumbang Jerapah memiliki leher panjang dan tubuh berwarna hitam legam dengan cangkang sayap merah terang atau oranye. Pejantan memiliki leher lebih panjang daripada betina, yang digunakan sebagai alat pertarungan.
  • Kumbang Jerapah hidup di hutan Madagaskar dan bergantung pada dua jenis pohon kecil bernama Dichaetanthera arborea dan D. cordifolia. Mereka tidak pernah pergi jauh dari pohon tempat tinggalnya.
  • Kumbang Jerapah pertama kali ditemukan pada tahun 1860 oleh ahli serangga asal Prancis, Henri Jekel. Populasinya saat ini masuk dalam kategori "Hampir Terancam" menurut Daftar Merah IUCN.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Serangga adalah invertebrata, alias hewan yang tidak memiliki tulang belakang, dengan ciri khas tubuh "terbagi tiga", yaitu kepala, dada, dan perut. Mereka memiliki rangka luar yang keras, sepasang antena, mata majemuk, serta tiga pasang kaki yang menempel pada bagian dadanya. Sebagai kelompok hewan dengan jumlah jenis terbanyak di bumi, serangga hadir dengan berbagai bentuk dan kemampuan yang luar biasa.

Namun, di tengah keberagaman yang luas itu, ada satu penghuni hutan Madagaskar yang penampilannya benar-benar mencuri perhatian, yaitu Kumbang Jerapah. Sesuai namanya, serangga ini memiliki keistimewaan berupa leher yang sangat panjang dan proporsi tubuh yang tampak mustahil bagi seekor kumbang. Lantas, apa sebenarnya fungsi dari leher panjang tersebut bagi kelangsungan hidup mereka di alam liar?

Mari kita telusuri lebih dalam fakta-fakta unik di balik kehidupan kumbang jerapah dalam artikel berikut ini!

1. Si leher panjang

Kumbang jerapah jantan (Trachelophorus giraffa), serangga endemik Madagaskar.
Kumbang jerapah jantan (Trachelophorus giraffa), serangga endemik Madagaskar. (commons.wikimedia.org/Frank Vassen)

Kumbang jerapah memiliki penampilan yang sangat mencolok dengan tubuh berwarna hitam legam dan cangkang sayap berwarna merah terang atau oranye. Sebagai anggota terbesar di kelompok kumbang penggulung daun, serangga ini bisa tumbuh hingga sepanjang 25 mm. Keunikan utamanya terletak pada perbedaan fisik antara jantan dan betina, di mana leher pejantan jauh lebih panjang—bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat ukuran leher betina—dan hampir setara dengan setengah panjang total tubuhnya.

Perbedaan ukuran leher ini dikenal sebagai fenomena dimorfisme seksual, yang menjadikannya subjek penelitian yang sangat menarik dalam dunia serangga. Betina memiliki leher yang lebih pendek untuk membantu menggulung daun sebagai sarang, sementara leher panjang milik pejantan berevolusi sebagai alat pertarungan yang tangguh.

2. Hidup di hutan Madagaskar

Kumbang jerapah jantan (Trachelophorus giraffa), serangga endemik Madagaskar.
Kumbang jerapah jantan (Trachelophorus giraffa), serangga endemik Madagaskar. (commons.wikimedia.org/Axel Strauß)

Kumbang jerapah merupakan serangga asli Madagaskar yang menghabiskan seluruh masa hidupnya—sekitar satu tahun—hanya di atas pohon tertentu. Mereka sangat bergantung pada dua jenis pohon kecil bernama Dichaetanthera arborea dan D. cordifolia yang memiliki daun hijau berbulu halus. Karena hampir tidak pernah pergi jauh dari pohon pilihannya, kumbang ini bisa dibilang sebagai penghuni pohon sejati yang menggantungkan seluruh siklus hidupnya di sana.

Makanan utama kumbang jerapah adalah daun-daun dari pohon tempat tinggalnya tersebut. Para ahli menduga bahwa mereka juga mengonsumsi getah daun untuk bertahan hidup, meski penelitian mendalam mengenai hal ini masih terus dikembangkan. Kesetiaan mereka pada pohon inangnya menjadikan kumbang jerapah spesies yang sangat unik karena mereka tidak membutuhkan wilayah yang luas asalkan pohon favoritnya tetap terjaga.

3. Baru ditemukan di era modern

Kumbang jerapah jantan (Trachelophorus giraffa), serangga endemik Madagaskar.
Kumbang jerapah jantan (Trachelophorus giraffa), serangga endemik Madagaskar. (commons.wikimedia.org/Heinonlein)

Kumbang jerapah (Trachelophorus giraffa) pertama kali ditemukan pada tahun 1860 oleh ahli serangga asal Prancis, Henri Jekel, saat melakukan ekspedisi di Madagaskar. Ia menjadi orang pertama yang mendeskripsikan penampilan unik serangga ini dan memberinya nama karena lehernya yang sangat panjang. Hingga saat ini, para ilmuwan masih terus meneliti perilaku asli mereka di alam liar, mengingat tempat tinggal mereka tersembunyi jauh di dalam hutan pedalaman Madagaskar yang terisolasi.

Selain menjadi objek penelitian, kumbang ini juga memiliki nilai seni dan budaya bagi masyarakat lokal di Madagaskar. Keunikan bentuknya membuat kumbang jerapah sering dijadikan sebagai hiasan, elemen dekorasi, hingga perhiasan. Di sana, serangga eksotis ini juga diperjualbelikan kepada para kolektor atau wisatawan, di mana pada tahun 2021 harganya berkisar sekitar 10 USD, atau sekitar 150 ribu rupiah.

4. Menggulung daun untuk dijadikan sarang

Daun yang digulung, kemungkinan dibentuk oleh kumbang daun jerapah betina (Trachelophorus giraffa).
Daun yang digulung, kemungkinan dibentuk oleh kumbang daun jerapah betina (Trachelophorus giraffa). (commons.wikimedia.org/Kristof Zyskowski & Yulia Bereshpolova)

Proses perkembangbiakan kumbang jerapah dimulai dengan ritual yang unik, di mana pejantan akan melakukan "tarian" rumit menggunakan leher panjangnya dan memamerkan warna tubuhnya yang cerah untuk menarik perhatian betina. Jika betina terpikat dan menyetujui tarian tersebut, barulah proses perkawinan terjadi. Setelah itu, tugas besar berpindah ke tangan sang ibu yang berperan sebagai arsitek hebat untuk menyiapkan tempat bagi calon anaknya.

Kumbang betina akan membangun sarang yang luar biasa dengan cara menggulung daun pohon inang menjadi tabung kecil yang sangat presisi. Ia mengiris urat daun agar layu dan mudah dilipat, lalu meletakkan satu butir telur di dalamnya sebelum menjatuhkan gulungan tersebut ke lantai hutan yang lembap. Sarang ini berfungsi ganda, yaitu sebagai benteng perlindungan dari pemangsa sekaligus sumber makanan segar bagi larva yang baru menetas agar ia bisa tumbuh dengan aman.

5. Warna tubuhnya sebagai mekanisme pertahan diri

Kumbang jerapah (Trachelophorus giraffa), serangga endemik Madagaskar.
Kumbang jerapah (Trachelophorus giraffa), serangga endemik Madagaskar. (commons.wikimedia.org/Heinonlein)

Hingga saat ini, belum ditemukan hewan yang secara khusus hanya memangsa kumbang jerapah. Meski begitu, mereka tetap harus waspada terhadap predator umum di hutan Madagaskar, seperti burung dan mamalia kecil semacam lemur atau fossa. Menariknya, warna merah cerah pada tubuhnya bukanlah tanda bahwa mereka beracun, melainkan bentuk penyamaran agar serupa dengan tunas pohon yang juga kemerahan. Bagi manusia, kumbang ini sepenuhnya aman karena tidak memiliki kemampuan untuk menggigit ataupun menyengat.

Sebagai bentuk perlindungan diri, kumbang jerapah memiliki trik unik saat merasa terancam. Alih-alih melawan, mereka akan menjatuhkan diri dari daun ke permukaan tanah dan berpura-pura mati agar tidak terlihat oleh pemangsa. Strategi ini sangat efektif untuk mengelabui musuh yang biasanya hanya tertarik pada mangsa yang bergerak. Dengan kombinasi penyamaran warna dan akting pura-pura mati, kumbang unik ini berhasil bertahan hidup di tengah kerasnya alam liar.

6. Populasinya tergolong stabil

Kumbang jerapah (Trachelophorus giraffa), serangga endemik Madagaskar.
Kumbang jerapah (Trachelophorus giraffa), serangga endemik Madagaskar. (commons.wikimedia.org/Kristof Zyskowski & Yulia Bereshpolova)

Saat ini, kumbang jerapah masuk dalam kategori "Hampir Terancam" menurut Daftar Merah IUCN. Meski populasinya saat ini masih tergolong stabil, status ini menjadi peringatan bahwa mereka bisa menghadapi risiko kepunahan di masa depan. Ancaman terbesarnya adalah penggundulan hutan di Madagaskar yang merusak pohon inang mereka, serta adanya perdagangan ilegal di mana kumbang unik ini sering ditangkap untuk dijadikan perhiasan atau koleksi bagi wisatawan.

Beruntungnya, sebagian besar populasi kumbang ini tinggal di dalam kawasan taman nasional yang dilindungi, sehingga pengambilan secara liar dilarang ketat oleh hukum. Selama hutan tempat tinggal mereka tetap terjaga, kumbang jerapah memiliki daya tahan hidup yang lebih baik. Upaya perlindungan habitat menjadi kunci utama agar keajaiban kecil dari Madagaskar ini tetap bisa kita saksikan di alam liar.

Kumbang jerapah bukan sekadar serangga biasa, melainkan bukti nyata betapa unik dan kreatifnya alam dalam menciptakan makhluk hidup. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan baru bagi kamu tentang keajaiban kecil di dunia serangga yang luar biasa ini, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

Fenomena Parade Planet Februari 2026, Catat Tanggal dan Waktunya

06 Feb 2026, 20:04 WIBScience