Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Kedasi Emas, Burung Parasit yang Mampu Terbang Melintasi Samudra

5 Fakta Kedasi Emas, Burung Parasit yang Mampu Terbang Melintasi Samudra
Kedasi Emas (commons.wikimedia.org/Paul Balfe)
Intinya Sih
  • Kedasi emas adalah burung kecil berwarna hijau perunggu mengilap dengan panjang tubuh 13–18 cm dan kaki zigodaktil yang memudahkannya bertengger saat berburu serangga.
  • Burung ini tersebar luas di kawasan Australasia, meliputi Australia hingga Selandia Baru, dengan habitat beragam dari hutan hujan tropis hingga savana.
  • Kedasi emas merupakan parasit sarang yang menitipkan telurnya pada burung lain, memiliki kemampuan meniru suara anak inang, dan berstatus konservasi risiko rendah meski menghadapi ancaman predator serta kerusakan habitat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Kawasan Australasia menjadi habitat bagi kedasi emas (Chalcites lucidus), burung berukuran kecil yang dikenal karena warna bulunya yang berkilau. Burung yang dalam bahasa Inggris disebut shining bronze cuckoo ini memiliki bulu berwarna hijau perunggu yang memantulkan cahaya.

Selain penampilannya, kedasi emas menarik perhatian para peneliti karena perilaku ekologisnya. Burung ini memiliki kebiasaan menitipkan telur di sarang burung lain serta memiliki rute migrasi yang sangat jauh melintasi lautan. Berikut adalah 5 fakta mengenai kedasi emas.

1. Ciri fisik dan warna bulu

Kedasi Emas
Kedasi Emas (commons.wikimedia.org/Aviceda)

Kedasi emas termasuk salah satu jenis burung kangkok terkecil dengan panjang tubuh antara 13 hingga 18 cm, atau kira-kira seukuran burung gereja. Bobot tubuhnya berkisar antara 23 hingga 50 gram. Burung ini memiliki struktur kaki zigodaktil, yaitu dua jari menghadap ke depan dan dua jari menghadap ke belakang, yang membantunya bertengger erat di ranting pohon saat mencari serangga.

Warna bulu bagian atas, seperti punggung, sayap, dan mahkota, didominasi oleh warna hijau perunggu yang mengilap. Sementara itu, bagian bawah tubuhnya berwarna putih dengan garis-garis mendatar berwarna perunggu kehijauan.

2. Luas daerah persebaran mencapai 19,7 juta kilometer persegi

Kedasi Emas
Kedasi Emas (commons.wikimedia.org/Sammy Sam)

Wilayah jelajah kedasi emas sangat luas, meliputi Australia, Indonesia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Kaledonia Baru, hingga Selandia Baru. Luas daerah persebarannya diperkirakan mencapai 19,7 juta kilometer persegi. Burung ini bukan merupakan spesies endemik di satu negara, melainkan burung yang berpindah tempat sesuai musim.

Habitat yang disukai burung ini bervariasi, mulai dari hutan hujan tropis, hutan terbuka, daerah bersemak, hingga savana. Di Selandia Baru, mereka sering ditemukan di hutan podokarp, sedangkan di Australia lebih menyukai hutan eukaliptus yang lembap.

3. Menitipkan telur di sarang burung lain

Kedasi Emas
Kedasi Emas (inaturalist.org/abnatural)

Kedasi emas merupakan parasit sarang obligat, yang berarti burung ini tidak membangun sarang sendiri atau mengerami telurnya. Burung betina akan meletakkan telurnya di sarang burung lain agar dierami dan dibesarkan oleh induk asuh tersebut. Strategi ini membuat kedasi emas dapat memproduksi telur hingga 16 butir dalam satu musim kawin.

Target utama tempat menitipkan telur adalah sarang burung dari genus Gerygone, seperti Grey Warbler (Gerygone igata). Telur kedasi emas yang berwarna hijau pucat atau kecokelatan diletakkan satu per satu di sarang inang. Setelah menetas, anak kedasi emas akan mendorong telur atau anak burung asli keluar dari sarang agar mendapatkan seluruh pasokan makanan dari induk asuh.

4. Kemampuan anak kedasi emas meniru suara anak burung inang

Kedasi Emas
Kedasi Emas (commons.wikimedia.org/Paul Balfe)

Anak kedasi emas memiliki kemampuan meniru suara (begging call mimicry). Burung ini dapat menghasilkan suara minta makan yang sangat mirip dengan suara anak burung inang yang mereka tumpangi.

Kemampuan meniru suara ini bertujuan untuk mengurangi risiko penolakan dari induk asuh. Dengan suara yang mirip, induk asuh tidak menyadari bahwa anak burung di sarangnya adalah spesies lain.

5. Status perlindungan dan ancaman terhadap kedasi emas

Kedasi Emas
Kedasi Emas (inaturalist.org/caiden_b)

Lembaga konservasi International mengategorikan kedasi emas sebagai spesies berisiko rendah (Least Concern). Status ini diberikan karena wilayah persebarannya yang luas dan jumlah populasi yang dinilai belum mengalami penurunan yang tajam.

Meski demikian, burung ini tetap menghadapi beberapa ancaman di alam liar. Di Selandia Baru, keberadaan predator bawaan seperti tikus, musang possum, dan kucing peliharaan menjadi ancaman bagi telur dan anakan kedasi emas. Selain itu, kasus burung menabrak kaca jendela bangunan juga sering terjadi. Karena kelangsungan hidupnya bergantung pada burung lain, berkurangnya populasi burung genus Gerygone akibat kerusakan habitat secara langsung juga akan memengaruhi populasi kedasi emas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More