Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Kota Sarajevo, Kota yang Jadi Pemicu Pecahnya Perang Dunia I

5 Fakta Kota Sarajevo, Kota yang Jadi Pemicu Pecahnya Perang Dunia I
Kota Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina (commons.wikimedia.org/Julian Nyča)
Intinya Sih
  • Sarajevo berkembang dari pemukiman kuno Butmir menjadi pusat perdagangan Ottoman, lalu mengalami masa sulit akibat perang dan wabah sebelum ditetapkan sebagai pusat administratif Bosnia oleh Kekaisaran Ottoman.
  • Penembakan Archduke Franz Ferdinand di Sarajevo tahun 1914 memicu Perang Dunia I, diikuti periode pendudukan dan konflik hingga perang Bosnia yang menghancurkan infrastruktur kota secara besar-besaran.
  • Pascaperang, Sarajevo terbelah menjadi dua entitas politik dengan perubahan demografi signifikan, sementara pembangunan kembali menonjolkan identitas etnis serta menjaga tradisi budaya seperti ritual kopi Bosnia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Nama Sarajevo melekat kuat dalam sejarah dunia gara-gara satu peristiwa di tahun 1914 yang menyeret banyak negara ke dalam perang besar. Kota yang menjadi ibu kota Bosnia dan Herzegovina ini berada di lembah sungai Miljacka dan dikelilingi pegunungan Alpen Dinaric, sebuah posisi yang secara teknis sangat strategis di jantung semenanjung Balkan. Perpaduan antara geografi pegunungan dan letaknya yang menjepit wilayah timur dan barat Eropa menciptakan dinamika politik yang sangat panas pada masanya.

Selain sejarah perangnya, karakter wilayah ini tumbuh dari campuran budaya Ottoman dan Austro-Hungaria yang masih bisa dilihat langsung pada bangunan-bangunannya. Keberagaman etnis yang sudah menetap selama berabad-abad di sini menciptakan pola hidup yang unik dan penuh tantangan. Mari kita lihat lebih dekat detail teknis dan peristiwa penting yang pernah terjadi di kota ini.

1. Transformasi pemukiman Butmir hingga pusat perdagangan Ottoman

Kota Sarajevo,  Bosnia dan Herzegovina
Kota Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina (commons.wikimedia.org/Bernard Gagnon)

Wilayah ini memiliki akar sejarah yang sangat tua, dimulai dari pemukiman Neolitikum kebudayaan Butmir hingga pembangunan pusat peristirahatan oleh bangsa Romawi di Ilidza. Dilansir laman Britannica, nama Sarajevo mulai dikenal luas sebagai pusat perdagangan dan benteng budaya Muslim setelah invasi Turki pada akhir abad ke-15. Pertumbuhan kota ini ditandai dengan munculnya berbagai kawasan etnis, seperti Latinluk yang dibangun pedagang Dubrovnik serta kawasan Cifuthani yang didirikan oleh imigran Yahudi Sephardik.

Meskipun sempat berkembang pesat, kota ini melewati masa sulit pada abad ke-17 dan ke-18 akibat serangan Pangeran Eugene dari Savoy yang menghanguskan sebagian besar wilayahnya. Selain kerusakan akibat perang, populasi penduduk juga berkurang drastis karena wabah penyakit dan kebakaran hebat yang berulang kali melanda. Namun, posisi strategisnya membuat wilayah ini tetap dipertahankan hingga akhirnya ditetapkan sebagai pusat administratif Bosnia dan Herzegovina oleh Kekaisaran Ottoman pada tahun 1850.

2. Pemicu pecahnya Perang Dunia I

War Tunnel, Kota Sarajevo,  Bosnia dan Herzegovina
War Tunnel, Kota Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina (commons.wikimedia.org/Bernard Gagnon)

Era modern kota ini ditandai dengan proses modernisasi besar-besaran setelah Kekaisaran Austro-Hungaria mengambil alih kekuasaan dari tangan Turki pada tahun 1878. Masih dari laman Britannica, periode ini juga menjadi saksi tumbuhnya gerakan perlawanan Serbia Bosnia yang dikenal sebagai Mlada Bosna. Puncak dari ketegangan politik tersebut terjadi pada 28 Juni 1914, ketika Gavrilo Princip menembak mati putra mahkota Austria, Archduke Franz Ferdinand, beserta istrinya di jalanan Sarajevo.

Pemerintah Austro-Hungaria menggunakan insiden penembakan ini sebagai dasar untuk melakukan mobilisasi militer melawan Serbia, yang secara teknis memicu dimulainya Perang Dunia I. Setelah perang berakhir, kota ini menyatakan bergabung dalam persatuan Yugoslavia dan kembali melewati masa sulit saat pendudukan Jerman di Perang Dunia II. Pasca-kemerdekaan Bosnia dan Herzegovina tahun 1992, wilayah ini kembali menjadi pusat pertempuran sengit di pertengahan dekade 90-an yang menyebabkan kerusakan infrastruktur sangat parah.

3. Pemisahan wilayah administratif pasca-perang

Kota Sarajevo,  Bosnia dan Herzegovina
Kota Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina (commons.wikimedia.org/Library of Congress)

Setelah perang berakhir melalui Perjanjian Dayton, kondisi fisik kota ini sempat lumpuh dengan 65% bangunan rusak dan 80% layanan utilitas hancur total. Dilansir laman Society of Architectural Historians, dampak paling mencolok adalah terbelahnya wilayah ini menjadi dua entitas politik yaitu Federasi Sarajevo dan Sarajevo Timur (Republika Srpska). Garis batas antar-entitas (IEBL) bahkan membelah lingkungan Dobrinja, yang secara teknis membuat satu kawasan pemukiman berada di bawah dua pemerintahan berbeda.

Pemisahan ini juga mengubah komposisi penduduk secara besar-besaran, dari yang semula sangat beragam menjadi mayoritas tunggal Muslim Bosnia (87%) di wilayah Federasi. Perubahan demografi ini mengakhiri struktur sosial yang cair dan menggantinya dengan pemisahan geografis berdasarkan kelompok etnis mayoritas di masing-masing sisi. Hingga saat ini, batas wilayah tersebut masih terlihat jelas dalam pembagian administratif dan cara pemerintah setempat mengelola tata ruang kota.

4. Dominasi simbol identitas baru dalam pembangunan kota

Kota Sarajevo,  Bosnia dan Herzegovina
Kota Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina (commons.wikimedia.org/Julian Nyča)

Proses pembangunan kembali setelah perang tidak hanya fokus pada perbaikan gedung, serta turut menonjolkan identitas kelompok melalui kemunculan rumah ibadah baru secara masif. Masih dari laman Society of Architectural Historians, lanskap Sarajevo kini dipenuhi monumen peringatan, pemakaman militer, serta peningkatan jumlah masjid dan gereja di wilayah etnis masing-masing. Kondisi ini mencerminkan identitas masyarakat yang terbentuk setelah konflik panjang.

Secara arsitektural, sejumlah bangunan bersejarah yang diperbaiki tetap mempertahankan jejak kerusakan masa lalu sebagai pengingat pengepungan yang pernah terjadi di kota ini. Pemulihan kota juga berkaitan dengan cara ruang publik menyimpan memori kolektif warganya.

5. Ritual penyajian kopi Bosnia yang presisi

Kopi di kota Sarajevo
Kopi di kota Sarajevo (commons.wikimedia.org/Sarah Wattouat)

Kopi merupakan fondasi budaya masyarakat setempat yang dibawa oleh Ottoman Empire sejak abad ke-15, namun secara teknis berbeda dengan kopi Turki. Dilansir laman Undiscovered Balkans, pembuatan kopi Bosnia (Bosanska kahva) melibatkan pemanasan air hingga sekitar 90-an derajat sebelum dituangkan ke bubuk kopi di dalam bejana tembaga bernama dzezva. Kopi ini disajikan terpisah di atas nampan besi bersama cangkir keramik (fildzan), gula kotak, dan rahat lokum.

Tradisi meminumnya memiliki cara khas, yaitu mencelupkan ujung gula kotak ke dalam kopi, menggigitnya sedikit, lalu menyeruput kopi. Teknik menyeruput ini disebut srkati dan digunakan untuk mendinginkan kopi lebih cepat. Kepekatan kopi juga bisa dilihat dari desain bulan bintang di dasar cangkir, jika terlihat jelas maka kopi tergolong ringan (tanka), sedangkan jika tertutup berarti kopi sangat kuat (jaka).

Kota Sarajevo sanggup mengolah memori sejarahnya yang berat menjadi identitas kota yang unik di Eropa. Dari jembatan pemicu perang besar hingga ritual kopi yang dijaga keasliannya, wilayah ini punya daya tahan yang luar biasa dalam menghadapi setiap transisi zaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More