Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Kupu-Kupu Apollo, Serangga dari Gunung Eropa dan Asia Tengah
Kupu-kupu Apollo (Parnassius apollo). (commons.wikimedia.org/Hectonichus)
  • Kupu-kupu Apollo hidup di pegunungan Eropa hingga Asia Tengah, pada ketinggian 400–2.300 meter, dan dikenali lewat sayap putih transparan dengan bintik hitam serta merah.
  • Ulat Apollo berwarna hitam beludru berbintik oranye, memakan houseleek dan stonecrop, lalu bermetamorfosis di tanah; kupu-kupu dewasa mengisap nektar bunga.
  • Populasinya menurun akibat perubahan iklim, kerusakan habitat, dan penangkapan liar; sejumlah negara Eropa melindunginya melalui pemulihan habitat serta pelibatan warga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupu-kupu Apollo (Parnassius apollo) hidup di pegunungan tinggi Eropa dan Asia Tengah. Warna sayapnya yang putih transparan berhias bintik hitam serta lingkaran merah membuatnya mudah kamu kenali. Keindahan tersebut membuat banyak orang kagum saat melihatnya terbang di alam liar.

Spesies ini menyimpan banyak fakta menarik tentang cara hidupnya. Ulatnya sanggup memanfaatkan tanaman sebagai bentuk pertahanan diri dari pemangsa. Sayangnya, keberadaan kupu-kupu ini makin terancam punah di alam bebas.

Yuk, baca artikel ini untuk mengetahui fakta seru Kupu-kupu Apollo!

1. Punya penampilan yang khas

Kupu-kupu Apollo (Parnassius apollo). (commons.wikimedia.org/Bouke ten Cate)

Dilansir Ausonia Vini Abruzzo, kupu-kupu Apollo punya bentang sayap sekitar 5 hingga 8 cm dengan tampilan yang sangat cantik. Sayap putihnya yang mengilap dihiasi bintik hitam di bagian depan dan bintik merah melingkar di bagian belakang. Bagian tepi sayapnya sedikit agak transparan, bahkan beberapa di antaranya punya warna dasar yang lebih gelap.

Bentuk dan ukuran bintik merah pada sayapnya bisa berbeda-beda tergantung tempat tinggal kupu-kupu ini. Warna merah cerah tersebut lama-lama bisa memudar kalau sering terkena paparan sinar matahari. Makanya, bintik merah pada kupu-kupu yang sudah tua biasanya akan berubah warna menjadi agak oranye.

2. Tersebar luas di berbagai wilayah pegunungan eropa hingga asia tengah

Kupu-kupu Apollo (Parnassius apollo). (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)

Dilansir Animalia, kupu-kupu Apollo tersebar luas di berbagai wilayah pegunungan di benua Eropa hingga kawasan Asia Tengah. Tempat tinggal favorit mereka berada di padang rumput berbunga, perbukitan, serta area penggembalaan alpine yang terbuka. Kupu-kupu ini biasanya hidup di dataran tinggi dengan ketinggian antara 400 sampai 2.300 meter di atas permukaan laut.

Supaya bisa bertahan hidup dengan baik, spesies ini membutuhkan kondisi iklim khusus seperti musim dingin yang sangat dingin dan musim panas yang cerah. Mereka juga memerlukan area terbuka yang luas dengan sedikit semak-semak dan hamparan rumput yang lebat. Kondisi lingkungan seperti inilah yang membuat mereka bisa berkembang biak dengan nyaman di alam bebas.

3. Ulatnya berwarna hitam beludru yang dihiasi bintik-bintik oranye

Ulat kupu-kupu Apollo (Parnassius apollo). (commons.wikimedia.org/Oleg Kosterin)

Dilansir Earth's Endangered Creatures, ulat kupu-kupu Apollo punya warna hitam beludru yang dihiasi bintik-bintik oranye hingga kemerahan di sisi tubuhnya. Makanan utama ulat ini adalah tanaman seperti houseleek dan stonecrop yang tumbuh di sekitar habitatnya. Setelah tubuhnya cukup besar, ulat ini akan turun ke tanah untuk bersiap membentuk kepompong.

Di dalam tanah, ulat tersebut akan berubah menjadi pupa dan beristirahat selama beberapa waktu. Lewat proses metamorfosis ini, pupa perlahan-lahan berubah menjadi kupu-kupu dewasa yang siap keluar dari kepompongnya. Setelah dewasa, kupu-kupu Apollo akan mencari makan dengan cara mengisap nektar dari berbagai bunga.

4. Kupu-kupu jantan menghasilkan sebuah struktur supaya betina tidak bisa kawin lagi dengan jantan lain

Sphragis (juga dikenal sebagai sumbat kopulasi) pada kupu-kupu Apollo betina (Parnassius apollo). (commons.wikimedia.org/ Harald Süpfle)

Dilansir Nature Gate, saat musim kawin tiba, kupu-kupu jantan biasanya akan terbang berkeliling untuk mencari pasangan betina. Betina yang sudah pernah kawin mempunyai ciri khas berupa struktur mirip cangkang di bagian belakang tubuhnya. Struktur unik ini dinamakan sphragis dan dibuat oleh sang jantan saat proses perkawinan berlangsung.

Keberadaan sphragis ini dipercaya berfungsi agar si betina tidak bisa kawin lagi dengan jantan lain. Setelah proses itu selesai, kupu-kupu betina akan mulai mencari tempat untuk bertelur. Ia meletakkan telurnya satu persatu di antara lumut dan ranting yang ada di dekat tanaman makanannya.

5. Dilindungi di banyak negara eropa karena populasinya menurun

Kupu-kupu Apollo (Parnassius apollo). (commons.wikimedia.org/Francescapalli)

Populasi kupu-kupu Apollo saat ini mengalami penurunan akibat perubahan iklim, kerusakan tempat tinggal, serta penangkapan liar yang berlebihan. Dilansir European Wilderness Society, serangga cantik ini akhirnya dilindungi secara hukum di berbagai negara di Eropa. Berbagai pihak kini gencar melakukan upaya penyelamatan agar populasinya di alam bebas tidak punah.

Langkah pelestarian ini berfokus pada pemulihan alam dan perbaikan habitat asli kupu-kupu Apollo yang sudah rusak. Para ahli bekerja sama untuk menanam kembali tanaman asli, memberantas tanaman liar pengganggu, serta merawat ekosistem agar tetap subur. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan warga sekitar dan membuat aturan khusus supaya lingkungan hidup kupu-kupu ini tetap terjaga dengan aman.

Kehadiran kupu-kupu Apollo menjadi bukti nyata betapa indahnya kekayaan alam yang tersimpan di dataran tinggi Eropa. Dengan mengenali fakta dan status konservasinya, kita diharapkan bisa lebih bijak dalam ikut serta melindungi lingkungan sekitar. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article