Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Menarik Djief, Mamalia Berkantung Endemik Papua

5 Fakta Menarik Djief, Mamalia Berkantung Endemik Papua
djief (inaturalist.org/Mehd Halaouate)
Intinya Sih
  • Djief adalah mamalia berkantung endemik Papua Barat yang awalnya diklasifikasikan sebagai kanguru sebelum akhirnya dinamai Dorcopsis muelleri pada tahun 1866.
  • Hewan ini hidup di hutan primer dan dataran rendah Papua bagian barat, aktif pada malam hari, serta beradaptasi dengan baik melalui warna tubuh gelapnya.
  • Populasi djief tergolong stabil dan tidak terancam punah, meski sering diburu masyarakat lokal untuk konsumsi sejak ribuan tahun lalu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Tanah Papua menyimpan banyak misteri yang hingga kini belum terungkap. Salah satu misterinya adalah tentang hewan misterius seperti Dorcopsis muelleri atau djief. Ia merupakan hewan berkantung atau marsupial. Selain itu, djief juga merupakan hewan yang berjalan dengan melompat, serupa dengan kanguru.

Penyebaran djief juga cukup sempit, habitatnya sulit dijamah oleh manusia, dan ia kerap diburu oleh masyarakat lokal. Djief juga aktif di malam hari. Badannya berwarna gelap sehingga memudahkan hewan tersebut untuk berkamuflase dan beradaptasi. Tertarik membahas djief? Simak berbagai fakta menariknya di bawah ini, yuk.

1. Awalnya dideskripsikan sebagai spesies kanguru

djief
djief (inaturalist.org/Kristof Zyskowski)

Dilansir iNaturalist, djief dideskripsikan oleh René Lesson. Saat itu ia diklasifikasikan sebagai kanguru dan nama ilmiahnya adalah Kangurus veterum. Hal tersebut dapat terjadi karena saat itu tidak ada spesimen hidup dari hewan ini. Alhasil, para ahli hanya bisa mengamati hewan ini dari kesaksian, ilustrasi, dan spesimen yang sudah mati sehingga menyulitkan klasifikasi dan pendeskripsian. Kemudian, nama hewan ini diubah menjadi Macropus muelleri oleh Hermann Schlegel. Nama itu bertahan selama beberapa tahun sebelum akhirnya diubah lagi menjadi Dorcopsis muelleri pada 1866.

2. Djief hanya bisa ditemukan di Papua bagian barat

djief
djief (inaturalist.org/jverbanck)

Laman GBIF menjelaskan kalau djief merupakan hewan endemik Pulau Papua. Spesifiknya, ia hanya bisa ditemukan di Papua bagian barat, seperti di daerah Misool, Salawati, Batanta, dan Waigeo. Djief sendiri merupakan hewan yang hidup di hutan primer atau hutan belantara yang jarang dijamah oleh manusia. Ia sangat suka mendiami hutan dataran rendah, area lembap, daerah dengan vegetasi rapat, dan area rawa. Namun, terkadang hewan ini juga bisa tinggal hutan sekunder, bahkan banyak yang percaya kalau djief mampu hidup di kebun atau taman yang terbengkalai

3. Djief sering diburu untuk dimakan

djief
djief (inaturalist.org/Kristof Zyskowski)

Data dari IUCN Red List menjelaskan kalau populasi djief cenderung stabil dan ia tidak terancam punah. Saat ini, djief dimasukan ke kategori least concern atau risiko rendah. Populasinya juga melimpah, bahkan ia kerap diburu oleh masyarakat lokal untuk dijadikan bahan makanan. Perburuan terhadap djief juga sudah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu. Hal tersebut terbukti dari ditemukannya bukti arkeologi dan banyaknya sisa tulang djief yang ditemukan di gua dan sedimen tanah.

4. Djief merupakan hewan marsupial berukuran sedang

djief
djief (inaturalist.org/RF)

Djief merupakan mamalia marsupial yang memiliki kantung di tubuhnya. Kantung tersebut digunakan untuk menjaga dan merawat anaknya hingga dewasa. Djief sendiri merupakan spesies marsupial berukuran sedang. Dilansir Zootierliste, panjang maksimalnya sekitar 1,5 meter dan bobotnya ada di angka 5 kilogram. Hewan ini mudah dikenali dari badannya yang ramping dan kecil. Warnanya tak terlalu mencolok, yaitu hitam di bagian atas tubuh dan putih atau abu-abu di bagian bawah. Kakinya panjang, tangannya kecil, dan ekornya panjang untuk menyeimbangkan tubuh.

5. Mampu melompat dan sering aktif pada malam hari

djief
djief (inaturalist.org/rajaampatherping)

Seperti spesies Dorcopsis lain, djief mampu melompat dengan kakinya yang panjang dan berotot. Namun, lompatannya tidak sejauh, setinggi, dan secepat kanguru. Sebaliknya, lompatan hewan ini cenderung pendek. Dilansir World Species, djief merupakan herbivor yang 20 persen makanannya terdiri atas buah-buahan dan 80 persen lainnya terdiri atas material lain seperti dedaunan atau bunga. Biasanya, djief akan aktif pada malam hari dan sering berkelana di lantai hutan. Dengan berkeliaran di malam hari, ia lebih aman dari predator.

Hewan endemik Papua ini menjadi spesies yang cukup misterius, entah soal kebiasaan, makanan, habitat, hingga reproduksinya. Saat ini juga tak banyak yang diketahui tentang djief. Karena itu, penelitian mendalam harus dilakukan untuk menguak berbagai misteri tentangnya. Tak hanya itu, kerja sama antar berbagai pihak juga harus terjalin untuk menjaga populasi hewan ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More