Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Pohon Resurrection, Terlihat Mati tapi Bangkit setelah Hujan
Pohon resurrection (commons.wikimedia.org/Salix)
  • Selaginella lepidophylla dikenal sebagai tanaman kebangkitan yang mampu bertahan di gurun kering dengan menggulung menjadi bola saat dehidrasi ekstrem tanpa mengalami kerusakan struktural.
  • Tumbuhan ini dapat kembali hijau dan aktif hampir seketika setelah terkena air, bahkan setelah kehilangan hingga 97 persen kelembapan internal selama masa dorman panjang.
  • Kemampuan luar biasa Selaginella lepidophylla menarik perhatian ilmuwan karena membantu memahami mekanisme ketahanan kekeringan dan berpotensi mendukung pengembangan tanaman tahan kondisi ekstrem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di kawasan gurun yang panas dan kering, terdapat tumbuhan unik yang sering disebut sebagai resurrection plant atau tanaman kebangkitan. Salah satu spesies yang paling dikenal adalah Selaginella lepidophylla, tumbuhan yang mampu bertahan dalam kondisi kekurangan air yang sangat ekstrem. Bentuknya yang berubah drastis membuat tumbuhan ini sering menarik perhatian bagi siapa pun.

Keunikan tumbuhan ini terletak pada kemampuannya yang tampak seperti mati selama periode kering yang panjang lalu kembali aktif setelah terkena air. Saat kehilangan hampir seluruh kandungan airnya, tumbuhan ini menggulung menjadi bola berwarna cokelat dan tampak tidak bernyawa. Namun di balik penampilannya, tersimpan sejumlah fakta menarik yang menjelaskan bagaimana tumbuhan ini mampu bertahan di lingkungan yang keras.

1. Dapat bertahan dalam kondisi sangat kering

Pohon resurrection (flickr.com/James St. John)

Menurut Washington State University, Selaginella lepidophylla termasuk tumbuhan toleran kekeringan yang hidup di wilayah gurun Amerika Serikat bagian barat daya dan Meksiko utara. Sebagian besar waktu, tumbuhan ini terlihat kering dengan daun berwarna cokelat yang menggulung rapat membentuk bola. Kondisi tersebut merupakan bagian dari strategi bertahan hidup saat air sangat langka.

Berdasarkan kajian yang dimuat dalam jurnal Scientific Reports, tumbuhan ini mampu mengalami dehidrasi tanpa mengalami kerusakan struktural. Saat kehilangan air, batangnya menggulung sehingga membentuk struktur yang lebih kompak. Bentuk tersebut membantu melindungi bagian tumbuhan dari tekanan lingkungan yang keras selama masa kering.

2. Bisa kembali aktif setelah terkena air

Pohon resurrection (commons.wikimedia.org/Redstonequeen)

Dilansir dari Washington State University, resurrection plant mulai menghijau kembali hampir segera setelah terkena hujan. Sel tumbuhannya mampu bertahan meskipun telah kehilangan sekitar 97 persen kelembapan internal selama masa dorman. Kemampuan ini membuatnya tampak seolah hidup kembali setelah sebelumnya terlihat mati.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di PMC, kelompok tumbuhan ini dapat memasuki kondisi dorman selama berbulan bulan hingga bertahun tahun tanpa air. Setelah memperoleh air kembali, aktivitas normalnya dapat pulih dengan cepat. Karakteristik inilah yang membedakan resurrection plant dari banyak tumbuhan lain yang tidak mampu bertahan terhadap kehilangan air dalam jumlah sangat besar.

3. Menggulung menjadi bola sebagai mekanisme perlindungan

Pohon resurrection (commons.wikimedia.org/Asurnipal)

Menurut Scientific Reports, batang Selaginella lepidophylla tersusun secara spiral dan akan menggulung saat mengalami dehidrasi. Batang bagian luar melingkupi batang yang lebih muda di bagian tengah sehingga membentuk bola yang rapat. Struktur ini muncul sebagai respons alami terhadap berkurangnya kandungan air dalam jaringan tumbuhan.

Penelitian yang sama menjelaskan bahwa proses penggulungan tersebut membantu mengurangi risiko kerusakan akibat panas berlebih dan cahaya yang intens di lingkungan gurun. Saat kondisi kembali lembap, struktur yang menggulung dapat membuka lagi dengan relatif cepat. Mekanisme ini menjadi salah satu adaptasi fisik yang penting bagi kelangsungan hidup tumbuhan tersebut.

4. Termasuk tumbuhan berpembuluh yang berkembang biak dengan spora

Pohon resurrection (commons.wikimedia.org/Asurnipal)

Menurut Washington State University, Selaginella lepidophylla merupakan tumbuhan berpembuluh yang menghasilkan spora. Tumbuhan ini termasuk kelompok spikemoss yang telah ada sejak lama dalam sejarah evolusi tumbuhan darat. Meskipun sering disebut sebagai tanaman kebangkitan, secara biologis tumbuhan ini berbeda dari tanaman berbunga.

Melansir Ferns of Texas, Selaginella lepidophylla membentuk roset terbuka ketika lembap dan tumbuh pada lereng kering berbatu maupun tanah yang minim kelembapan. Daunnya tersusun dalam beberapa baris yang saling tumpang tindih. Saat mengering, seluruh roset akan menggulung ke arah dalam hingga membentuk bola berwarna kecokelatan.

5. Menjadi contoh penting dalam penelitian kerahanan kekeringan

Pohon resurrection (commons.wikimedia.org/James St. John)

Resurrection plants menarik perhatian ilmuwan karena memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan terhadap kehilangan air yang ekstrem. Penelitian terhadap kelompok tumbuhan ini membantu mengungkap mekanisme fisiologis dan molekuler yang mendukung toleransi terhadap kekeringan. Pengetahuan tersebut dinilai penting untuk memahami cara tumbuhan menghadapi tekanan lingkungan.

Penelitian mengenai resurrection plants berpotensi mendukung pengembangan tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan. Para ilmuwan mempelajari gen, protein, dan proses metabolisme yang aktif selama fase pengeringan serta pemulihan. Hasil penelitian itu dapat memberikan wawasan baru mengenai adaptasi tumbuhan terhadap perubahan kondisi lingkungan.

Kemampuan Selaginella lepidophylla bertahan dalam kondisi hampir tanpa air menjadikannya salah satu tumbuhan paling unik di dunia. Dari kemampuan memasuki fase dorman hingga kembali aktif setelah terkena air, setiap adaptasinya menunjukkan strategi bertahan hidup yang sangat efisien. Tidak mengherankan jika resurrection plant terus menjadi objek penelitian penting untuk memahami ketahanan tumbuhan terhadap kekeringan ekstrem.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article