Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Roseate Spoonbill, Spesies Burung Berparuh Sendok yang Eksotis

5 Fakta Roseate Spoonbill, Spesies Burung Berparuh Sendok yang Eksotis
Roseate spoonbill (pexels.com/Flickr)
Intinya Sih
  • Roseate spoonbill adalah burung berwarna merah muda dengan paruh datar menyerupai sendok, digunakan untuk mencari makan di perairan dangkal menggunakan sentuhan, bukan penglihatan.
  • Meskipun mirip flamingo dalam warna dan gaya berdiri, roseate spoonbill berasal dari keluarga Threskiornithidae dan memiliki ciri khas kepala tanpa bulu serta kombinasi warna tubuh yang unik.
  • Spesies ini pernah hampir punah akibat perburuan pada abad ke-19, namun populasinya pulih berkat perlindungan hukum; kini hidup di wilayah pesisir Amerika seperti Florida dan Texas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kilasan bulu berwarna merah muda cerah yang eksotis tidak hanya milik flamingo saja. Di tengah hamparan lahan basah, burung roseate spoonbill tampil dengan visual yang nyaris mengecoh mata yang memandanginya dari kejauhan. Bagaimana tidak, warna bulu dan gerak-gariknya hampir sama seperti flamingo. Tubuhnya di dominasi warna bulu merah muda yang membuatnya terlihat anggun.

Alih-alih memiliki paruh melengkung seperti flamingo, roseate spoonbill justru dibekali paruh datar dan lebar yang bentuknya persis seperti sendok. Lebih dari itu, jika ditelusuri lebih dalam, roseate spoonbill tidak ada hubungan kekerabatan dengan flamingo meskipun warnanya sama-sama merah muda. Untuk mengenal lebih jauh apa itu burung roseate spoonbill, yuk, sama-sama simak 5 fakta menariknya berikut ini!

1. Bentuk paruhnya seperti sendok

Burung roseate spoonbill
Roseate spoonbill (pexels.com/Antonio)

Sesuai dengan namanya, burung roseate spoonbill memiliki paruh yang bentuknya menyerupai sendok. Bentuk paruh yang pipih dan lebar ini dirancang sempurna untuk mencari makan di perairan dangkal. Burung roseate spoonbill menengelamkan paruhnya di perairan untuk berburu makan, menggerakkan kepalanya dari sisi ke sisi, meraba-raba mangsa. Ujung saraf yang sensitif di paruh memungkinkannya menutup dengan cepat begitu menyentuh sesuatu yang dapat dimakan.

Sementara itu, sebagian besar burung perairan berburu dengan mengandalkan penglihatan, strategi berbasis sentuhan yang digunakan burung sendok memungkinkannya untuk mencari makan di malam hari, ketika persaingan untuk mendapatkan sumber daya lebih sedikit.

2. Mirip flamingo tapi tidak ada hubungan kekerabatan

Burung roseate spoonbill
Roseate spoonbill (pexels.com/Felix)

Seperti flamingo, warna merah muda pada burung roseate spoonbill berasal dari makanan yang mereka makan. Bulu burung ini berubah menjadi merah muda ketika makanan mereka kaya akan karotenoid, yaitu pigmen alami yang ditemukan pada krustasea dan hewan air kecil lainnya. Sama seperti flamingo, roseate spoonbill juga tidur dalam posisi berdiri dan mengangkat satu kaki, kemudian kepalanya terselip di bawah bulu punggung dan bahunya.

Meskipun secara visual dan gaya berdirinya menyerupai flamingo, namun burung roseate spoonbill tidak termasuk dalam kelompok flamingo. Roseate spoonbill termasuk dalam keluarga Threskiornithidae. Secara penampilan burung ini memiliki leher dan punggung berwarna putih, kepala kehijauan tanpa bulu, bahu berwarna merah, ekor oranye, dan paruh panjangnya yang tampak seperti sendok. Burung muda sebagian besar berwarna putih dengan sayap merah muda pucat dan kepala berbulu putih.

3. Hampir punah karena perburuan

Burung roseate spoonbill
Roseate spoonbill (pexels.com/Tina)

Di balik penampilannya yang menawan, burung ini memiliki catatan kelam pada tahun 1800-an. Mereka diburu habis-habisan oleh pemburu tak bertanggung jawab yang menginginkan bulunya untuk perdagangan topi. Hanya 179 burung yang tersisa di Texas pada tahun 1920. Untungnya burung roseate spoonill ini mampu kembali mendiami daerah-daerah di sepanjang Pantai Teluk, membangun kembali populasinya, dan pulih dengan sangat baik.

Sebelumnya, hanya dalam beberapa dekade, jutaan burung liar dibantai, dan beberapa spesies punah sepenuhnya. Sampai akhirnya undang-undang konservasi seperti Undang-Undang Perjanjian Burung Migrasi tahun 1918 memberikan perlindungan hukum kepada burung-burung tersebut, dan populasi burung sendok perlahan pulih selama beberapa dekade berikutnya.

4. Proses kawin yang dramatis

Burung roseate spoonbill
Roseate spoonbill (pexels.com/Jean)

Usia minimum untuk berkembang biak adalah 33-36 bulan. Namun, sebagian besar tidak kawin sampai tahun keempat mereka. Siklus perkembangbiakan dapat dibagi menjadi fase, yaitu pembentukan pasangan, masa pertunangan, kopulasi dan pembuatan sarang, serta penetasan dan perawatan anak.

Burung roseate spoonbill betina biasanya mengiklankan keinginannya untuk berpasangan dengan mengasingkan diri di pohon atau semak dan menggoyangkan ranting atau cabang dengan paruhnya ketika didekati oleh burung roseate spoonbill lain. Jantan terbang ke arahnya mengepakkan sayap saat mencoba bertengger di sebelahnya dan menganggukkan kepala ke atas bawah.

Setelah betina menerima jantan, mereka kemudian dianggap sebagai pasangan. Selama masa pertunangan, jantan akan mengusir burung roseate spoonbill dewasa lainnya. Ia tidak berusaha melawan invasi spesies lain, burung ini berada di urutan terbawah dalam hal hierarki sosial di koloni berkembang biak campuran. Kemudian ia menawarkan ranting kepada betina di lokasi sarang. Betina mengambilnya dengan paruh, menggelengkan kepalanya dan meletakkan ranting di cabang-cabang di kakinya. Ini adalah bagian dari pembangunan sarang, di mana jantan mengumpulkan ranting dan betina membangun sarang.

Proses kawin dimulai ketika betina berdiri di atas sarang, sedikit condong ke depan dan menggoyangkan ranting kecil di paruhnya. Jantan mengamatinya, lalu perlahan bergerak tepat di belakangnya. Kemudian ia meraih ranting yang sama di punggung betina. Jantan lalu menaiki betina dan mencengkram bagian tengah rahangnya dengan kuat di antara rahangnya sendiri. Betina meratakan tubuhnya di atas sarang, jantan menggelengkan kepalanya lalu melepaskan paruhnnya dan melompat turun.

5. Tidak dapat ditemukan di Indonesia

Burung roseate spoonbill
Roseate spoonbill (pexels.com/Jose)

Roseate spoonbill adalah satwa endemik di Amerika Serikat, burung ini dapat ditemukan di daerah pesisir Florida, Georgia, Texas. dan Louisiana barat daya. Jadi, secara alami, burung roseate spoonbill tidak dapat ditemukan di Indonesia. Kadang kala burung ini akan bermigrasi ke utara sepanjang Pantai Timur, dan telah terlihat hingga sejauh Maine dan Minnesota. Wilayah perkembangbiakannya membentang ke selatan dari Florida melalui Antillen Besar hingga Argentina, Chili, dan Uruguay. Burung roseate spoonbill biasanya hidup di daerah rawa dan hutan bakau.

Demikian 5 fakta menarik burung roseate spoonbill. Meskipun sama-sama berwarna pink dan suka berdiri dengan satu kaki, ketahuilah bahwa roseate spoonbill sama sekali tidak ada hubungannya dengan flamingo. Warna merah muda dihasilkan dari pigmen krustasea yang dimakannya. Burung-burung ini memiliki proses kawin yang cukup rumit. Berkat kecantikannya, roseate spoonbill sempat dikabarkan nyaris punah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More