Dinding cermin (yang secara lokal dikenal sebagai Katapath Pawura) di Sigiriya. (commons.wikimedia.org/Cherubino)
Sebelum naik lewat tangga spiral menuju area lukisan, pengunjung akan melewati dinding cermin yang ikonik. Dinding bata sepanjang 15 meter dan tinggi 1,5 meter ini dulunya dilapisi plester putih khusus yang dipoles sangat halus hingga mengkilap. Saking mengkilapnya, Kashyapa I bahkan bisa melihat bayangannya sendiri terpantul jelas saat berjalan di samping dinding ini.
Sekarang, permukaan dinding tersebut dipenuhi oleh lebih dari 1.500 coretan puisi kuno dari para pengunjung abad ke-8 hingga ke-10. Menariknya, sebagian besar puisi ini ditulis oleh para pria yang memuji kecantikan wanita di lukisan dinding, serta para wanita yang mengungkapkan rasa iri mereka. Meski begitu, ada juga curhatan dari pengunjung wanita zaman dulu yang terkesan cuek dan sama sekali tidak kagum dengan lukisan tersebut.
Sigiriya adalah mahakarya sejarah yang luar biasa. Diakui dunia sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO, tempat ini menjadi salah satu contoh perencanaan kota kuno yang paling rapi dan terawat dengan sangat baik hingga hari ini. Menjelajahi Sigiriya rasanya seperti berjalan melintasi waktu, di mana kita bisa melihat langsung kehebatan dan keindahan peradaban masa lalu yang masih berdiri kokoh.