Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Unik Eswatini, Negara Kecil Penuh Kisah

5 Fakta Unik Eswatini, Negara Kecil Penuh Kisah
rumah adat Eswatini (ZS Khumalo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Pada 2018, Raja Mswati III mengganti nama Swaziland menjadi Eswatini untuk menegaskan identitas pra-kolonial dan menghapus jejak pengaruh penjajahan Inggris.
  • Eswatini merupakan monarki absolut terakhir di Afrika, di mana Raja Mswati III memegang kekuasaan penuh dibantu Ratu Ibu dalam menjaga tradisi dan pemerintahan.
  • Festival Umhlanga menjadi simbol kuat budaya Swazi, melibatkan ribuan gadis yang menari dan mempersembahkan alang-alang sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai kesucian dan warisan leluhur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jauh di jantung Afrika bagian selatan, tersembunyi sebuah negara kecil yang mungkin belum banyak dikenal, bernama Eswatini. Negara ini, sebelumnya bernama Swaziland, menyimpan segudang cerita dan keunikan yang memikat. Perjalanannya dari sebuah protektorat Inggris hingga menjadi monarki absolut terakhir di benua hitam ini, menawarkan perspektif menarik tentang kekayaan budaya dan ketahanan sebuah bangsa.

Perubahan nama yang terjadi belum lama ini hanyalah satu dari banyak fakta menarik yang melekat pada Eswatini. Bagaimana sebuah negara yang dikelilingi oleh daratan dan berukuran relatif kecil ini dapat mempertahankan tradisi kuno sekaligus beradaptasi dengan dunia modern? Mari kita selami lebih dalam lima fakta mengejutkan tentang Eswatini yang akan membuka mata kita tentang pesona tak terduga dari permata Afrika ini.

1. Perubahan nama yang historis

sekolah di Eswatini
sekolah di Eswatini (Heather Dowd, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Pada April 2018, Raja Mswati III membuat pengumuman penting yang mengubah identitas internasional negaranya. Nama resmi negara yang sebelumnya dikenal sebagai Kerajaan Swaziland secara resmi diubah menjadi Kerajaan Eswatini. Pengumuman ini disampaikan pada perayaan ulang tahun ke-50 kemerdekaan Swaziland dari kekuasaan Inggris, sebuah momen yang sarat makna historis.

Perubahan nama "Swaziland" menjadi "Eswatini" memiliki alasan yang mendalam. Kata "Eswatini" sendiri berarti "tanah Swazi" dalam bahasa Swati, bahasa asli penduduknya. Langkah ini bukan sekadar pergantian nama biasa, melainkan upaya untuk kembali ke identitas pra-kolonial dan melepaskan sisa-sisa pengaruh penjajahan. Ini juga menghindari kebingungan nama dengan Swiss atau Switzerland, seperti yang dilaporkan oleh Atlas & Boots.

2. Monarki absolut terakhir di Afrika yang masih bertahan

Raja Mswati III
Raja Mswati III (Babukisi, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Eswatini memegang gelar sebagai monarki absolut terakhir yang tersisa di benua Afrika. Sistem pemerintahan ini memberikan kekuasaan tertinggi kepada seorang raja, tanpa dibatasi oleh hukum tertulis, lembaga legislatif, atau adat istiadat secara eksplisit. Raja Mswati III adalah kepala negara dan pemerintahan saat ini, dan ia diyakini memiliki otoritas penuh atas segala aspek kehidupan bernegara.

Meskipun disebut monarki absolut, ada pula peran penting bagi sistem tradisional Swazi. Raja dibantu oleh ibunya, yang bergelar Ndlovukazi atau Ratu Ibu, dalam menjalankan pemerintahan dan menjaga tradisi. Perpaduan antara struktur monarki yang kuat dan penghormatan terhadap adat istiadat membuat Eswatini menjadi contoh unik dalam lanskap politik global.

3 Eswatini memiliki dua ibu kota dengan fungsi berbeda

Eswatini
Eswatini (Stefan Krasowski, CC BY 2.0, via Wikipedia)

Tidak seperti kebanyakan negara yang hanya memiliki satu ibu kota, Eswatini memilih untuk memiliki dua pusat pemerintahan. Mbabane berfungsi sebagai ibu kota administratif dan yudisial negara. Ini adalah pusat kegiatan bisnis, pemerintahan harian, dan sistem hukum.

Sementara itu, Lobamba diakui sebagai ibu kota nasional dan legislatif. Lobamba merupakan kedudukan Raja Mswati III dan Ratu Ibu, serta menjadi lokasi gedung parlemen dan institusi nasional penting lainnya. Pembagian fungsi ini mencerminkan dualitas dalam pemerintahan Eswatini, antara administrasi modern dan pelestarian nilai-nilai kerajaan serta budaya tradisional.

4. Tanah kelahiran raja dengan rekor tak tertandingi di dunia

Eswatini adalah tanah kelahiran Raja Sobhuza II, yang mencatatkan rekor pemerintahan terlama dalam sejarah dunia. Ia naik takhta pada tahun 1899 dan memerintah hingga tahun 1982, selama 82 tahun dan 253 hari. Durasi pemerintahannya yang luar biasa panjang ini menjadikannya salah satu figur monarki paling berpengaruh dalam sejarah Afrika.

Di bawah kepemimpinan Raja Sobhuza II, Eswatini mengalami transisi penting dari protektorat Inggris menuju negara merdeka pada tahun 1968. Masa pemerintahannya ditandai dengan upaya mempertahankan identitas Swazi sambil menavigasi kompleksitas politik regional. Warisan kepemimpinannya masih terasa kuat dalam struktur masyarakat dan politik Eswatini hingga saat ini.

5. Umhlanga, perayaan budaya tarian ribuan gadis yang megah

rumah adat Eswatini
rumah adat Eswatini (ZS Khumalo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Salah satu perayaan budaya paling ikonik di Eswatini adalah festival Umhlanga, atau dikenal juga sebagai Tari Reeds (Reed Dance). Festival tahunan ini melibatkan puluhan ribu gadis dan wanita muda dari seluruh negeri. Umhlanga adalah perayaan kesucian dan keperawanan, di mana para gadis memotong alang-alang dan mempersembahkannya kepada Ratu Ibu.

Perayaan ini bukan hanya sekadar tarian, melainkan sebuah ritual penting yang menegaskan nilai-nilai budaya dan tradisi Swazi. Meskipun belakangan ini juga fokus pada pelestarian warisan budaya, festival ini tetap menjadi magnet yang menarik perhatian dunia. Umhlanga menunjukkan betapa kuatnya akar budaya yang dipegang teguh oleh masyarakat Eswatini di tengah arus modernisasi.

Eswatini, dengan segala keunikan dan fakta menariknya, adalah sebuah negara yang patut untuk dijelajahi. Dari perubahan namanya yang monumental hingga tradisi monarki absolut dan perayaan budayanya yang megah, Eswatini menawarkan perspektif berbeda tentang kehidupan di Afrika. Negara kecil ini membuktikan bahwa ukuran bukanlah penentu kekayaan sejarah dan budaya sebuah bangsa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More