Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Unik Hutan Petungkriyono, Rumah Bagi Hewan Terancam!
Sungai Welo Hutan Petungkriyono (visitjawatengah.jatengprov.go.id)
  • Hutan Petungkriyono di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, seluas sekitar 5.847,29 hektar, mencakup 10 desa dan berada di dataran tinggi 500–1.700 mdpl.
  • Hutan ini menjadi habitat satwa dilindungi, termasuk macan tutul jawa, owa jawa, lutung jawa, dan elang jawa, tetapi populasinya menurun akibat kerusakan habitat, konflik, aktivitas manusia, serta perburuan liar.
  • Dikelola Perhutani KPH Pekalongan Timur, Petungkriyono berfungsi menjaga air dan mencegah bencana, sekaligus berkembang sebagai ekowisata dengan curug, telaga, sungai, bukit, serta jalur pendakian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pulau Jawa biasanya identik dengan industri, kemacetan, kepadatan, dan berbagai hal modern lainnya. Namun, masih ada beberapa tempat di Pulau Jawa yang sangat asri dan hampir tak tersentuh oleh manusia. Salah satu di antaranya adalah Hutan Petungkriyono yang merupakan hutan hujan tropis.

Hutan Petungkriyono bukan hutan biasa, melainkan hutan dengan keanekaragaman satwa yang luar biasa. Hutan Petungkriyono juga sangat luas, bahkan mencakup beberapa daerah sekaligus. Hutan tersebut juga punya banyak manfaat, entah bagi manusia, hewan, atau alam itu sendiri. Mau tahu tentang seluk-beluk dan berbagai fakta unik Hutan Petungkriyono? Selengkapnya di bawah ini.

1. Hutan Petungkriyono berlokasi di Kabupaten Pekalongan

Hutan Petungkriyono (visitjawatengah.jatengprov.go.id)

Dilansir Universitas Gajah Mada, Hutan Petungkriyono berlokasi di Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Lebih lanjut, luasnya sekitar 5.847,29 hektar dan mencakup 10 desa, yaitu Desa Curug, Muncar, Gumelem, Kasimpar, Kayupuring, Simego, Songgodadi, Tlogohendro, Tlogopakis, serta Desa Yosorejo. Hutan Petungkriyono juga berada pada satu bentang alam yang sama dengan Pegunungan Dieng, membuatnya berlokasi di dataran tinggi dengan elevasi sekitar 500-1,700 mdpl. Karena itu, hutan tersebut punya hawa yang sejuk serta suhu dingin, serupa dengan wilayah Dieng di Banjarnegara dan Wonosobo.

2. Hutan Petungkriyono jadi rumah bagi hewan terancam

owa jawa, salah satu hewan di Hutan Petungkriyono (commons.wikimedia.org/A.Baihaqi)

Sebagai hutan hujan tropis Hutan Petungkriyono menjadi rumah bagi berbagai hewan terancam punah dan dilindungi. Beberapa di antaranya adalah macan tutul jawa (Panthera pardus melas), owa jawa (Hylobates moloch), lutung jawa (Trachypithecus auratus), dan elang jawa (Nisaetus bartelsi). Mereka semua hidup dengan tenang di dalam hutan, entah itu di semak-semak atau bergelantungan di atas pohon.

Sayangnya, populasi hewan terancam di Hutan Petungkriyono kian menurun. Salah satu contohnya adalah populasi macan tutul jawa yang diperkirakan hanya tersisa kurang dari 20 ekor. Pada 2010 populasi owa jawa juga diperkirakan hanya tersisa sekitar 30 ekor. Penurunan populasi tersebut disebabkan oleh kerusakan habitat, konflik dengan manusia, aktivitas manusia, hingga perburuan liar.

3. Hutan Petungkriyono dikelola oleh Perhutani

ilustrasi hutan hujan tropis (commons.wikimedia.org/Vyacheslav Argenberg)

Laman resmi Perhutani menerangkan bahwa Hutan Petungkriyono dikelola oleh Perhutani itu sendiri, tepatnya oleh Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pekalongan Timur. Secara hukum lokasi hutan tersebut berada di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Petungkriyono, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Doro. Semua hal yang berkaitan dengan Hutan Petungkriyono akan diawasi dan dikelola oleh Perhutani dan KPH Pekalongan Timur, mulai dari pemanfaataan, pengelolaan tempat wisata, akses masuk hutan, kegiatan industri di area hutan, hingga perlindungan serta konservasi satwa liar.

4. Salah satu hutan hujan tropis terakhir di Jawa Tengah

ilustrasi hutan hujan tropis (commons.wikimedia.org/Vyacheslav Argenberg)

Hutan Petungkriyono merupakan salah satu hutan hujan tropis terakhir di Pulau Jawa dan Jawa Tengah. Karena itu, areanya masih sangat asri, terjaga, dan sebagai besar wilayahnya merupakan wilayah hutan lindung yang dijaga sangat ketat. Hutan Petungkriyono juga menjadi salah satu pemasok oksigen utama bagi daerah Pekalongan dan sekitarnya. Selain itu, Hutan Petungkriyono punya fungsi yang krusial bagi manusia, yaitu menampung air hujan sehingga mampu mencegah berbagai bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Sebagai hutan hujan tropis Hutan Petungkriyono juga memiliki curah hujan yang tinggi, yaitu sekitar 34,8 milimeter per hari.

5. Hutan Petungkriyono memiliki banyak tempat wisata

Black Canyon di Petungkriyono (visitjawatengah.jatengprov.go.id)

Hutan Petungkriyono bukan hutan biasa, melainkan sudah bertransformasi menjadi ekowisata yang populer di Jawa Tengah. Ekowisata paling terkenal di hutan tersebut adalah wisata alam seperti Curug Bajing, Lawe, dan Muncar. Ada juga Black Canyon Petungkriyono, Telaga Sigebyar Mangunan, dan Sungai Welo di mana kamu bisa menikmati suasna hutan yang asri hingga berenang di sungai. Suka mendaki? Ada beberapa spot menarik seperti Bukit Kendalisodo dan Puncak Tugu. Di Petungkriyono juga ada Gunung Ragajembangan yang masih sangat asri sehingga cocok buat pendaki yang mencari suasana alam yang kuat.

Berbagai fakta unik Hutan Petungkriyono tersebut menunjukkan bahwa Pulau Jawa belum kehilangan ekosistem dan keindahan alamnya. Di tengah padatnya perkotaan dan gedung yang menjulang tinggi masih ada Hutan Petungkriyono yang asri, sejuk, dan belum tersentuh oleh tangan jahil manusia. Lebih lanjut, tugas kita adalah menjaga, mempromosikan, dan melestarikan Hutan Petungkriyono.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article