Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Kamakura, Kota Ikonik yang Kaya Peninggalan Sejarah dan Budaya

6 min read
5 Fakta Kamakura, Kota Ikonik yang Kaya Peninggalan Sejarah dan Budaya
potret para wisatawan yang sedang mengunjungi Kuil Tsurugaoka Hachimangu, kuil ikonik di Kota Kamakura, Jepang (commons.wikimedia.org/Fg2)
  • Kamakura di Prefektur Kanagawa, sekitar satu jam dari Tokyo, dikenal sebagai “Kyoto dari timur” dan bekas pusat Keshogunan Kamakura, pemerintahan militer pertama Jepang pada 1192–1333.
  • Bentang pegunungan dan pantai menjadikan Kamakura benteng alami; kota ini memiliki Kuil Tsurugaoka Hachimangu, Pantai Yuigahama, serta pemandangan Gunung Fuji saat cuaca cerah.
  • Warisan Kamakura mencakup festival Yabusame, patung Buddha raksasa abad ke-13, jejak perkembangan Zen, dan kuliner shirasu dari ikan teri putih atau sarden muda Teluk Sagami.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamakura adalah sebuah kota bersejarah yang terletak di Pulau Honshu Prefektur Kanagawa, Jepang. Kota ini dapat dicapai dengan perjalanan kereta api selama sekitar 1 jam dari Kota Tokyo. Menurut laman Japan-Travel, Kamakura adalah sebuah kota pesisir yang sering dijuluki sebagai "Kyoto dari timur". Pada zaman Edo (1603-1867), Kamakura sudah menjadi destinasi populer bagi penduduk Edo (sekarang Tokyo) karena keberadaan kuil-kuil bersejarah Shinto dan kuil Zen. Salah satu kuil ikonik dan sangat terkenal adalah kuil bersejarah dari era Keshogunan Kamakura yakni Kuil Shinto Tsurugaoka Hachimangu yang menarik banyak wisatawan untuk mengunjunginya.

Kamakura juga memiliki sejumlah pantai yang menyuguhkan pemandangan yang memukau. Dalam perjalanan sejarahnya, Kota Kamakura menjadi tempat lahirnya Keshogunan pertama atau pemerintahan diktator militer pertama Jepang, Keshogunan Kamakura, karenanya kota ini dijuluki ibu kota para Samurai di masa lalu. Di masa modern saat ini, landskap Kota Kamakura merupakan perpaduan beragam gaya seni arsitektur dengan kekayaan sejarah, seni budaya serta ritual yang semuanya hidup berdampingan secara harmonis.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai kota yang menjadi tempat lahirnya Keshogunan pertama dalam sejarah masa lalu Jepang ini? Simak lima fakta menariknya berikut ini, yuk!

  1. 1. Tempat berdirinya Keshogunan pertama

    lukisan yang dianggap menggambarkan Minamoto Yorimoto, Shogun pertama, sang pendiri Keshogunan Kamakura di tahun 1192
    lukisan yang dianggap menggambarkan Minamoto Yorimoto, Shogun pertama, sang pendiri Keshogunan Kamakura di tahun 1192 (commons.wikimedia.org/Fujiwara no Takanobu)

    Kota Kamakura merupakan tempat berdirinya Keshogunan (Shogunate) pertama di Jepang. Menurut Britannica, Keshogunan adalah dinasti pemerintahan diktator militer Jepang yang dipimpin oleh seorang pimpinan tertinggi militer bergelar Shogun. Era Keshogunan Jepang berlangsung dari tahun 1192 hingga 1868. Gelar Shogun pernah digunakan para Jenderal pada periode Heian di abad ke-8 hingga 9 M ketika melawan suku-suku di bagian utara Jepang saat itu. Gelar itulah yang kembali dihidupkan oleh pimpinan Samurai dan pemegang hegemoni militer bernama Minamoto Yoritomo untuk melegitimasi kekuasaanya. Ia mendirikan Keshogunan Kamakura yang berpusat di Kota Kamakura. Dinasti Keshogunannya berlangsung selama 141 tahun (1192-1333).

    Meskipun secara legal kedudukan Shogun berada di bawah Kaisar, namun karena para Shogun memiliki kekuatan militer yang besar, maka secara de facto para Shogunlah penguasa Jepang di masa lalu yang menempatkan Kaisar hanya sebagai simbol kedaulatan negara. Dalam sejarahnya Jepang memiliki 3 era Keshogunan yang membentang selama hampir 7 abad, setelah Keshogunan Kamakura muncul Keshogunan Ashikaga (1338-1573) yang berpusat di Kyoto. Setelah Keshogunan Ashikaga runtuh, muncul dinasti Keshogunan ketiga yang merupakan Keshogunan terakhir dan terkuat yakni Keshogunan Tokugawa (1603-1868) yang didirikan oleh Tokugawa Ieyasu dan berpusat di Edo (Tokyo saat ini). Era Keshogunan berakhir ketika Kaisar Meiji melakukan restorasi yang dikenal dengan restorasi Meiji dan mengembalikan seluruh kekuasaan ke tangan Kaisar.

  2. 2. Dikelilingi pegunungan dan lautan

    potret pemandangan Pantai Yuigahama di Kamakura
    potret pemandangan Pantai Yuigahama di Kamakura (commons.wikimedia.org/Kurofune)

    Kota Kamakura dikelilingi oleh bentang alam berupa pegunungan dan pantai yang memberikan keuntungan strategis militer karena menjadi benteng alami untuk bertahan dari serangan musuh. Dilansir laman Japan Experience, dipindahkannya kuil utama Shinto dari era Keshogunan Kamakura yang bernama Kuil Tsurugaoka Hachimangu ke lokasinya saat ini oleh Minamoto Yoritomo, Shogun pertama Jepang juga didasarkan atas perhitungan secara cermat yang memadukan unsur-unsur Feng Shui tradisional dengan letak bentang alam agar membawa keberuntungan. Ketika cuaca cerah, Gunung Fuji akan terlihat dari kejauhan dengan pesonanya yang memukau.

    Menurut laman Visit Trip-Kamakura, bagi para pecinta pantai, Kamakura memiliki sejumlah pantai dengan pemandangannya yang memukau. Pantai-pantai tersebut juga menyimpan sejumlah kisah sejarah masa lalu. Salah satu pantainya yang terkenal adalah Pantai Yuigahama. Shogun Minamoto Yoritomo diyakini selalu menyucikan diri dengan air di Yuigahama setiap kali melakukan ritual ziarah ke 3 kuil. Pantai tersebut juga merupakan lokasi upacara keagaaman yang diadakan pada tahun 1193 yang juga melibatkan Minamoto Yoritomo dalam melepaskan burung bangau dan binatang lainnya selama upacara Hojoe, yang merupakan salah satu upara terpenting yang diadakan oleh Kuil Tsurugaoka Hachimangu. Hingga saat ini, Pantai Yuigahama masih ramai dikunjungi oleh para wisatawan di bulan-bulan musim panas.

  3. 3. Kaya festival budaya dan sejarah

    potret parade budaya di Kota Kamakura selama periode festival Kamakura
    potret parade budaya di Kota Kamakura selama periode festival Kamakura (commons.wikimedia.org/Urashimataro)

    Salah satu fakta menarik dari Kota Kamakura ini adalah memiliki festival budaya dan sejarah yang terus dilestarikan. Festival sejarah dan budaya di Kota Kamakura ini menarik banyak wisatawan dan menjadi salah satu atraksi turisme di sana. Menurut laman Enjyu-Japan Travel, pada bulan April setiap tahunnya, Kamakura menyambut musim semi dengan festival yang berpusat di Kuil Tsurugaoka Hachimangu dan jalan utama bersejarah Wakamiya Oji. Festival tersebut mencakup pawai melintasi kota, tarian bersejarah, serta penyajian teh di area terbuka di lingkungan Kuil Buddha dan Kuil Shinto.

    Pada bulan September diadakan festival yang terkait langsung dengan sejarah Kuil Tsurugaoka Hachimangu, yakni Yabusame atau teknik memanah sasaran dari atas kuda yang berlari. Teknik ini berasal dari era Keshogunan Kamakura dan diorganisir oleh Minamoto Yorimoto sebagai pelatihan militer bagi para Samurainya. Samurai klan Minamoto Yorimoto sangat disegani karena teknik panahan ini. Pada perkembangannya Yabusame tidak hanya sekedar teknik berperang dan kompetisi saja namun juga menjadi sebuah ritual yang harus dijalankan di kuil ini mulai tahun 1187 atas perintah Minamoto Yorimoto. Di masa lalu ritual Yabusame juga didedikasikan untuk menghormati para dewa, kesehatan dan hasil panen yang melimpah.

  4. 4. Pusat perkembangan Buddhisme Jepang di masa lalu

    potret patung besar Buddha di Kamakura atau yang dikenal dengan nama Kamakura Daibutsu
    potret patung besar Buddha di Kamakura atau yang dikenal dengan nama Kamakura Daibutsu (commons.wikimedia.org/663highland)

    Di masa lalu Kamakura adalah salah satu pusat penyebaran agama Buddha di Jepang. Di Kamakura terdapat salah satu landmark kota ikonik yang berkaitan dengan agama Buddha di sana yakni patung Buddha raksasa Kamakura (Kamakura Daibutsu). Patung perunggu Buddha raksasa Kamakura tersebut sudah ada sejak abad ke-13 dan merupakan patung perunggu Buddha tertinggi kedua di Jepang. Pada masa awal periode Kamakura, aliran Buddhisme Zen merupakan salah satu aliran Buddha yang terkenal di kota tersebut.

    Buddhisme Zen ini sangat memikat para Samurai dengan praktek meditasi dan kedisiplinan yang ketat. Terdapat pula fakta menarik bahwa di masa lalu, di dalam kompleks Kuil Shinto Tsurugaoka Hachimangu, terdapat pula Kuil Buddha. Sejumlah sumber informasi sejarah menuliskan pada tahun 1868, pada masa pemerintahan Kaisar Meiji, karena alasan politis, diberlakukan dekret pemisahan antara agama Shinto dan Buddha sehingga saat ini Kuil Tsurugaoka Hachimangu merupakan kuil ekslusif untuk peribadatan agama Shinto saja. Karena dekret tersebut sejumlah patung bersejarah Buddha di Kuil Tsurugaoka Hachimangu tersebut harus diserahkan ke Kuil Buddha dan Kuil Tsurugaoka Hachimangu terpaksa menghilangkan sejumlah bagian bangunan yang memperlihatkan perpaduan antara agama Shinto dengan Buddha.

  5. 5. Memiliki kuliner ikonik

    potret kuliner shirasu (ikan teri putih atau sarden muda) yang merupakan salah satu kuliner ikonik Kota Kamakura
    potret kuliner shirasu (ikan teri putih atau sarden muda) yang merupakan salah satu kuliner ikonik Kota Kamakura (commons.wikimedia.org/Ocdp)

    Kuliner selalu menjadi salah satu pengingat vibes sebuah tempat. Kota Kamakura dan wilayah pesisir yang berada di dekatnya memiliki sejumlah kuliner ikonik, salah satunya adalah kuliner yang dikenal dengan nama shirasu. Shirasu adalah sejenis hidangan dari ikan teri putih atau sarden muda. Ikan teri atau sarden muda tersebut banyak diperoleh dari Teluk Sagami, sebuah teluk di sebelah selatan Prefektur Kanagawa yang merupakan salah satu dari 3 teluk terdalam di Jepang.

    Menurut laman Byfood, para wisatawan biasanya menikmati shirasu dengan tiga cara. Yang pertama adalah nama-shirasu, shirasu mentah yang disajikan dalam keadaan yang benar-benar segar. Yang kedua adalah kamaage-shirasu yang direbus sebentar dan yang ketiga adalah shirasu don, yang merupakan cara menikmati shirasu paling populer dengan menuangkan nama-shirasu atau kamaage-shirasu di atas semangkok nasi panas dengan bumbu sedikit kecap asin dan wasabi.

    Bagaimana apakah kamu tertarik untuk mengunjungi kota bersejarah ini ketika nanti ada kesempatan berwisata ke Jepang?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More