Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Unik Nyala Gunung, Terancam Karena Penyebaran yang Sempit

Nyala Gunung
nyala gunung (commons.wikimedia.org/Rod Waddington)
Intinya sih...
  • Dimorfisme seksual: Jantan memiliki tanduk besar, betina tidak. Jantan lebih besar dan berat.
  • Menghindari manusia: Nyala gunung pemalu, takut pada manusia, aktif di malam hari.
  • Wilayah jelajah: Seluas 15-20 km persegi, tidak teritorial, jarang vokal.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada banyak spesies mamalia bertanduk yang bisa ditemukan di dunia. Habitat mereka beragam, mulai dari hutan, savana, kebun, padang rumput, hingga pegunungan. Tragelaphus buxtoni atau nyala gunung merupakan salah satu mamalia bertanduk yang menghuni pegunungan. Ia pandai memanjant bebatuan, ukurannya besar, dan tanduknya menjulang.

Sayangnya, populasi nyala gunung terus merosot dan ia merupakan hewan terancam. Ia penakut, jadi hewan ini jarang berjumpa dengan manusia. Karena itu, tak banyak orang yang tahu tentang eksistensi, kehidupan, dan kebiasaan nyala gunung. Padahal, nyala gunung merupakan hewan eksotis, lho. Yuk, simak berbagai fakta unik nyala gunung di bawah ini!

1. Punya dimorfisme seksual yang mencolok

Nyala Gunung
nyala gunung (commons.wikimedia.org/KrisMaes)

Dilansir Britannica, dimorfisme seksual merupakan perbedaan penampilan dari individu jantan dan betina. Seperti mamalia bertanduk lain, nyala gunung juga memiliki dimorfisme seksual yang mencolok. Individu jantan nyala gunung memiliki tanduk yang besar, panjang, dan menjulang ke atas. Di sisi lain, individu betina tidak bertanduk. Individu jantan juga lebih besar dengan panjang 2,4-2,6 meter dan bobot yang di angka 180-300 kilogram. Sangat berbeda, panjang individu betina sekitar 1,9-2 meter dan bobotnya ada di angka 150-200 kilogram.

2. Nyala gunung menghindari manusia

Nyala Gunung
nyala gunung (commons.wikimedia.org/Rod Waddington)

Laman Animalia menjelaskan kalau nyala gunung merupakan hewan yang sangat pemalu dan sulit dijumpai. Ia juga sangat takut dengan manusia. Jika mendeteksi kehadiran manusia, hewan ini akan langsung kabur atau bersembunyi. Karena itu, nyala gunung lebih sering aktif pada malam hari. Di malam hari, ia akan berkelana di pinggiran hutan, padang rumput, dan area berkayu.

Saat suhu menjadi sangat panas atau dingin, nyala gunung akan bersembunyi di hutan dan area berkayu yang tertutup. Hal tersebut dilakukan agar ia tidak kepanasan atau kedinginan. Seperti kebanyakan mamalia bertanduk, nyala gunung hidup berkelompok. Satu kelompok berisikan sekitar 4-3 individu. Tiap kelompok akan saling menjaga dan mencari makan bersama.

3. Wilayah jelajahnya seluas hingga 20 kilometer persegi

Nyala Gunung
nyala gunung (commons.wikimedia.org/David Castor)

Artikel di jurnal Oryx menjelaskan kalau wilayah jelajah hewan ini akan meluas pada musim panas. Tercatat, wilayah jelajahnya seluas 15-20 kilometer persegi. Individu jantan nyala gunung bukan hewan yang teritorial. Ia jarang bertarung dengan sesamanya dan justru memperbolehkan individu jantan lain untuk mencari makan atau beraktivitas di satu daerah yang sama. Nyala gunung juga merupakan hewan yang pendiam dan tidak vokal. Namun, terkadang ia akan mengeluarkan suara bernada rendah jika mendeteksi kehadiran predator.

4. Hanya menghuni satu daerah terpencil

Nyala Gunung
nyala gunung (commons.wikimedia.org/Rod Waddington)

Di masa lalu, nyala gunung bisa ditemukan di berbagai wilayah Ethiophia selatan. Namun, sekarang wilayah penyebarannya sudah menyempit secara drastis. Dilansir Ultimate Ungulate, nyala gunung hanya bisa ditemukan di dua daerah, yaitu Pegunungan Arussi dan Bale. Kedua pegunungan tersebut berada di Provinsi Oromia yang berlokasi di Ethiophia selatan.

Area potensial yang bisa dihuni oleh hewan ini sekitar 5,200 kilometer persegi. Sayangnya, kerusakan habitat dan aktivitas manusia makin memperkecil habitatnya yang mencakup pegunungan dengan ketinggian sekitar 1,800-4,200 mdpl. Penyempitan area tersebut membuat nyala gunung dimasukan ke kategori endangered atau terancam.

5. Mulai kawin pada usia 2 tahun

Nyala Gunung
nyala gunung (commons.wikimedia.org/David Castor)

Dilansir iNaturalist, nyala gunung sudah bisa kawin saat berusia 2 tahun. Nyala gunung memiliki kebiasaan polygyny, artinya satu jantan bisa kawin dengan banyak betina. Mamalia ini bisa kawin sepanjang tahun dan puncak perkawinannya terjadi pada bulan Desember. Saat hendak kawin, individu dewasa akan membentuk kelompok.

Setelah kawin, hewan ini akan hamil selama delapan hingga sembilan bulan, mirip seperti manusia. Ia merupakan induk yang baik dan akan menjaga anak-anaknya selama dua tahun. Setelah berusia dua tahun dan siap kawin, barulah anakan nyala gunung akan hidup mandiri. Soal usia, hewan ini mampu hidup hingga 20 tahun.

Itulah beberapa fakta unik nyala gunung, hewan bertanduk endemik Ethiophia yang populasinya terus terancam. Berbagai upaya konservasi harus digayangkan demi melindungi eksistensi nyala gunung. Pihak-pihak seperti pemerintah, yayasan konservasi, dan masyarakat juga harus menjalin kerja sama yang erat. Hal tersebut sangat penting agar upaya konservasi bisa berjalan dengan maksimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

5 Fakta Menarik Roller Coaster, Dulu Sempat Ditarik oleh Tenaga Hewan

19 Feb 2026, 12:49 WIBScience