5 Fakta Kota Aleppo, Kota Tua yang Jadi Saksi Ribuan Tahun Peradaban

- Aleppo adalah salah satu kota tertua yang tak pernah ditinggalkan sejak zaman kuno, menyimpan misteri mengenai usia pastinya.
- Benteng raksasa di tengah kota Aleppo memiliki sisa-sisa kuil dewa Hadad yang berasal dari milenium ke-3 SM dan mencapai puncak kemakmurannya di bawah dinasti Ayyubiyah.
- Aleppo merupakan pusat kuliner dengan cita rasa kelas dunia dan jantung ekonomi dunia dalam labirin pasar yang sangat vital bagi kota perdagangan besar ini.
Aleppo punya nyawa yang sangat kuat. Kota di Suriah ini berdiri tegak di atas lapisan sejarah yang sangat tebal, tempat bertemunya peradaban besar dunia sejak ribuan tahun lalu. Meski wajah kota sempat hancur lebur terkena konflik dan guncangan gempa, orang-orang di sana masih terus melanjutkan hidup di antara puing-puing bangunan bersejarah yang sangat megah.
Suasana di sana penuh dengan jejak masa lalu yang tumpang tindih. Bau rempah di pasar tua dan gang-gang sempitnya menyimpan cerita tentang kejayaan dagang masa silam. Yuk, kita telusuri lebih dalam sisa-sisa kemegahan kota ini dan lihat sendiri bagaimana sejarah dunia berawal dari sini!
1. Salah satu kota tertua yang tak pernah ditinggalkan

Aleppo menyimpan misteri mengenai usia pastinya karena pemukiman di sini tidak pernah terputus sejak zaman kuno. Dilansir laman Britannica, para pemukim pertama memilih membangun rumah di atas bukit pusat kota karena posisi pertahanan alaminya yang kuat dan dekat dengan sumber air Sungai Quwayq. Tanah pertanian yang subur di sekelilingnya membuat manusia betah menetap di sana selama ribuan tahun tanpa pernah pergi meninggalkan kota.
Keberadaan manusia yang terus-menerus di lokasi yang sama membuat para arkeolog kesulitan menggali bukti sejarah paling awal. Nama kunonya, Halab, berasal dari akar bahasa Semitik kuno yang sudah tercatat dalam arsip kota Ebla sejak akhir milenium ke-3 SM. Catatan tertua ini menyebut Aleppo sebagai lokasi kuil penting bagi dewa badai Hadad yang menjadi pusat spiritual bagi masyarakat di wilayah Timur Dekat saat itu.
2. Benteng raksasa di tengah kota

Di bawah Citadel of Aleppo yang berdiri saat ini, terdapat sisa-sisa kuil dewa Hadad yang tertimbun ribuan tahun. Masih dari laman Britannica, bagian tertua dari kuil di dalam benteng ini berasal dari milenium ke-3 SM dan sempat direnovasi berkali-kali oleh berbagai penguasa yang berbeda. Dinding kuil yang ditemukan sangat tebal, menandakan bahwa dulunya bangunan ini merupakan menara tinggi yang bisa terlihat dari jarak yang sangat jauh.
Benteng ini kemudian mencapai puncak kemakmurannya di bawah dinasti Ayyubiyah yang didirikan oleh Saladin setelah masa perlawanan terhadap Tentara Salib. Para penguasa Ayyubiyah membangun ulang struktur benteng, memperluas pasar, serta membangun banyak madrasah untuk menghidupkan kembali tradisi pendidikan. Benteng ini pun berubah menjadi pusat kekuatan militer dan ekonomi yang menghubungkan perdagangan antara wilayah Eropa dan Asia.
3. Titik temu perdagangan berbagai kekaisaran

Aleppo berganti penguasa berkali-kali mulai dari bangsa Het, Mesir, Asyur, hingga Persia sejak abad ke-18 SM. Masih dari laman Britannica, kota ini sempat bernama Beroea saat berada di bawah kendali Seleucid yang mendirikan koloni Makedonia di sana pada awal abad ke-3 SM. Pada masa Hellenistik ini, kota tersebut tumbuh menjadi pusat komersial besar yang menjembatani wilayah Mediterania dengan daratan jauh di timur.
Setelah diserap ke dalam provinsi Suriah oleh Romawi pada abad ke-1 SM, komunitas Yahudi dan Kristen mulai berkembang pesat di sana. Aleppo terus makmur sebagai pusat kafilah dagang di bawah pemerintahan Bizantium sebelum akhirnya ditaklukkan oleh bangsa Arab pada tahun 637. Di bawah kendali Arab, kota ini kembali menggunakan nama aslinya, Halab, dan menjadi pusat kehidupan budaya yang cemerlang bagi para penyair dan filsuf dunia.
4. Pusat kuliner dengan cita rasa kelas dunia

Kota Aleppo menyandang gelar sebagai ibu kota kuliner di kawasan Timur Tengah berkat warisan resepnya yang sangat elegan. Dilansir laman Literary Hub, identitas kuliner kota ini sangat terpancar dari hidangan nasional bernama Kibbeh yang memiliki bentuk unik menyerupai kubah kecil atau kibbeh qubab. Teknik memasak di dapur-dapur rumah tangga Aleppo jauh lebih unggul dibandingkan restoran, di mana para koki rumahan menjaga detail rasa dari campuran daging domba, lemak, dan rempah pedas yang khas.
Keistimewaan masakan Aleppo terletak pada keberanian mencampur rasa manis dan gurih, seperti memasak daging dengan buah quince dalam perasan sari delima segar. Pengaruh dari berbagai pendatang dan pengungsi, termasuk komunitas Armenia, memperkaya variasi rasa yang membuat makanan di kota ini berbeda jauh dengan wilayah lain di Suriah.
5. Jantung ekonomi dunia dalam labirin pasar

Pasar Aleppo merupakan pusat pertemuan budaya sekaligus jantung ekonomi yang sangat vital bagi kota perdagangan besar ini. Dilansir laman Aleppo Market, lorong-lorong pasar ini menampung lebih dari 1.000 kios yang membentang sepanjang 13 kilometer. Setiap bagian pasar punya spesialisasi produk sendiri, mulai dari pasar tembaga hingga pasar wol, yang semuanya menjadi pusat aktivitas sosial warga selama beratus-ratus tahun.
Di dalam labirin ini, barang-barang mewah dari seluruh dunia seperti sutra Tiongkok, rempah India, hingga kristal Italia masuk melalui karavan dagang yang singgah di penginapan kuno atau khan. Salah satu bagian paling legendaris adalah Souk Al-Attar, tempat para pedagang parfum yang sejak abad ke-10 juga berperan sebagai apoteker dan dokter. Tokoh-tokoh besar dunia kedokteran seperti Ibnu Sina dan Al Razi disebut punya andil besar dalam mengembangkan pengetahuan tanaman obat yang dijual di sudut pasar ini.
Aleppo masih menyisakan jejak kemegahan di banyak sudut kotanya. Bertahan melewati ribuan tahun rintangan, kota ini tetap menunjukkan jati dirinya sebagai peradaban yang tak pernah benar-benar hilang.


















