Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wadi Rum (pexels.com/Elias Strale)
  • Wadi Rum di selatan Yordania merupakan situs warisan dunia UNESCO dengan pasir kemerahan, pegunungan granit dan batu pasir, lembah, serta tebing yang dijuluki Valley of the Moon.
  • Lanskapnya terbentuk selama jutaan tahun: granit Prakambrium tertutup batu pasir lebih muda, sementara erosi menciptakan bukit hingga 700 meter dan rongga tebing menyerupai sarang lebah.
  • Kawasan ini menyimpan jejak manusia setidaknya 12.000 tahun, termasuk sekitar 25.000 pahatan batu dan 20.000 prasasti yang merekam aktivitas serta perkembangan masyarakat gurun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Terletak di selatan Yordania, Wadi Rum merupakan kawasan gurun dengan pasir kemerahan, pegunungan granit dan batu pasir, lembah, serta tebing curam. NASA Earth Observatory menyebutnya Valley of the Moon karena bentang alamnya mengingatkan pada permukaan bulan. UNESCO menetapkan kawasan ini sebagai situs warisan dunia karena nilai alam dan budayanya.

Keunikan Wadi Rum tidak hanya terlihat dari pemandangannya, tetapi juga dari proses geologi yang membentuknya selama jutaan tahun. Formasi batuan, rongga alami, serta prasasti dan pahatan kuno memperlihatkan perubahan lingkungan dan jejak kehidupan manusia di gurun tersebut. Berikut lima fakta tentang Wadi Rum dari sisi alam dan sejarah.

1. Granit tua menjadi fondasi di bawah batu pasir

Wadi Rum (pexels.com/Ilze Reira)

Wadi Rum memiliki susunan batuan yang merekam beberapa periode geologi. NASA Earth Observatory menjelaskan bahwa granit berumur Prakambrium menjadi batuan dasar, lalu tertutup batu pasir dari Periode Kambrium dan Ordovisium. Artinya, pasir merah bukan satu-satunya unsur pembentuk lanskap gurun ini.

Sebagian pegunungan granit juga terangkat di sepanjang jalur patahan yang saling berpotongan di bawah kawasan tersebut. Lapisan batu pasir yang lebih muda berada di atas batuan dasar itu dan membentuk bagian lain dari bentang alamnya. Perbedaan jenis dan umur batuan inilah yang membuat Wadi Rum memiliki pegunungan dengan karakter permukaan yang beragam.

2. Bukit batu pasir menjulang hingga 700 meter

Wadi Rum (pexels.com/Andrea Imre)

Di Wadi Rum, lapisan batu pasir terkikis perlahan hingga membentuk bukit-bukit yang berdiri sendiri dan dataran tinggi dengan bagian atas relatif rata. Penelitian Piotr Migoń dan Andrew Goudie dalam jurnal Quaestiones Geographicae menyebut bentuk tersebut sebagai bukit terisolasi dan dataran tinggi beratap datar. Beberapa bukit mencapai ketinggian sekitar 500–700 meter.

Para peneliti menjelaskan bahwa sifat tiap lapisan batuan ikut mengendalikan bentuk lereng. Dinding bukit juga mengalami guguran dan longsoran batu, sehingga tebing terus berubah bentuk seiring waktu. Ketahanan batu pasir turut menentukan rupa tebing dan profil lerengnya, sebab tiap lapisan memiliki ketahanan berbeda terhadap pelapukan.

3. Permukaan tebing memiliki pola rongga sarang lebah

Wadi Rum (pexels.com/Mike van Schoonderwalt)

Permukaan tebing batu pasir di Wadi Rum memiliki rongga-rongga rapat yang menyerupai sarang lebah. Bentuk ini disebut honeycomb weathering, yakni pola lubang yang terbentuk akibat pelapukan tidak merata. UNESCO menyebut jaringan bentukan honeycomb di sini sangat menonjol dan menjadi salah satu ciri geologi kawasan ini.

Pelapukan garam, pengikisan oleh aliran air, dan proses biologis ikut membentuk bentang alam Wadi Rum selama waktu geologis yang panjang. Proses itu dapat melemahkan tebing batu pasir, termasuk bagian bawah yang menopang dinding curam. Rongga pada batuan menjadi petunjuk bahwa permukaan gurun terus berubah akibat proses alam.

4. Warna pasir berubah dari krem hingga merah bata

Wadi Rum (pexels.com/AXP Photography)

Julukan gurun merah tidak berarti seluruh pasir Wadi Rum memiliki warna yang sama. NASA Earth Observatory mencatat bahwa lembah berpasir di antara pegunungan memiliki variasi warna mulai dari krem hingga merah bata. Perbedaan warna tersebut terlihat pada hamparan pasir yang mengelilingi formasi batuan di kawasan gurun ini.

Lanskap Wadi Rum juga didominasi pegunungan berbatu, sementara tumbuhan hanya terlihat di beberapa bagian kawasan. Kondisi tersebut berkaitan dengan lingkungan gurun yang sangat kering dan memiliki curah hujan rendah. Perpaduan hamparan pasir berwarna beragam, pegunungan batu, dan sedikit tumbuhan membentuk karakter visual yang khas di kawasan selatan Yordania.

5. Puluhan ribu ukiran dan prasasti merekam masa lalu

Wadi Rum (pexels.com/AXP Photography)

Wadi Rum menyimpan jejak kehidupan manusia yang berlangsung setidaknya 12.000 tahun. UNESCO mencatat kawasan ini memiliki sekitar 25.000 pahatan batu dan 20.000 prasasti yang ditemukan pada bongkah, batu, serta permukaan tebing. Sebagian gambar menampilkan manusia dan hewan, sehingga menjadi catatan aktivitas masyarakat masa lampau.

Empat jenis aksara Arab Utara pada prasasti itu memberi petunjuk tentang awal perkembangan alfabet dari bentuk gambar. UNESCO menyebut ukiran dan tulisan tersebut merekam perkembangan penggembalaan, pertanian, hingga kehidupan perkotaan. Catatan itu menunjukkan bagaimana masyarakat beradaptasi dengan lingkungan gurun selama ribuan tahun.

Ragam formasi batu, warna lembah, dan jejak aktivitas manusia menunjukkan bahwa Wadi Rum bukan sekadar hamparan gurun merah. Lanskapnya terbentuk melalui proses geologi yang panjang, sementara ukiran dan prasastinya menyimpan catatan bagaimana manusia hidup berdampingan dengan lingkungan yang kering. Perpaduan nilai alam dan budaya inilah yang menjadikan Wadi Rum sebagai kawasan yang unik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article