Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fase Perkembangan Perhiasan di Dunia, dari Cangkang hingga Berlian
ilustrasi perhiasan (pixabay.com/Rishika Jain)
  • Pada era prasejarah, manusia membuat perhiasan dari cangkang, tulang, gigi hewan, batu, dan gading; temuan manik-manik Gua Bizmoune di Maroko berusia sekitar 142.000–150.000 tahun.
  • Zaman Tembaga dan Perunggu memperkenalkan metalurgi, memungkinkan perhiasan logam lebih kuat, tahan lama, beragam, dan rapi; peradaban kuno kemudian mengembangkannya menjadi karya seni berornamen batu permata.
  • Pada Abad Pertengahan hingga Renaisans, perhiasan menandai agama, status, dan kekuasaan; Revolusi Industri serta teknologi modern membuatnya lebih terjangkau, presisi, dan menjadi medium fashion serta identitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perhiasan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak puluhan ribu tahun lalu, bahkan sebelum logam seperti emas dan perak dikenal luas. Pada awalnya, perhiasan dibuat dari bahan-bahan alami. Seiring berkembangnya peradaban, bahan, bentuk, dan fungsi perhiasan pun terus berubah hingga menjadi aksesori yang kita kenal saat ini.

Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa perhiasan bukan hanya pelengkap penampilan, melainkan juga mencerminkan perkembangan teknologi, seni, budaya, dan status sosial manusia. Lantas, bagaimana perkembangan perhiasan dari masa ke masa? Yuk, simak lima fase perkembangan perhiasan di dunia berikut ini!

1. Zaman Prasejarah, saat perhiasan masih terbuat dari bahan alami

replika manik-manik cangkang dari Gua Bizmoune, Maroko (commons.wikimedia.org/Manfred Ewel)

Jauh sebelum manusia mengenal logam, perhiasan sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Pada Zaman Prasejarah, khususnya era Paleolitikum, manusia membuat perhiasan dari bahan-bahan alami yang mudah ditemukan, seperti cangkang kerang, tulang, gigi hewan, batu, dan gading. Salah satu buktinya adalah manik-manik cangkang yang ditemukan di Gua Bizmoune, Maroko. Manik-manik yang diperkirakan berusia sekitar 142.000–150.000 tahun itu telah dilubangi sehingga bisa dirangkai menjadi kalung atau gelang.

Pada masa itu, perhiasan bukan hanya digunakan sebagai hiasan tubuh. Para peneliti menduga perhiasan juga digunakan sebagai simbol identitas, penanda status, atau bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat. Meski fungsi pastinya belum diketahui, berbagai temuan arkeologi menunjukkan bahwa manusia sudah mengenakan perhiasan sejak puluhan ribu tahun lalu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

2. Zaman Tembaga dan Perunggu, awal berkembangnya perhiasan logam

perhiasan Zaman Perunggu (commons.wikimedia.org/Gary Todd from Xinzheng, China)

Memasuki Zaman Tembaga dan Perunggu, manusia mulai meninggalkan bahan-bahan alami dan beralih menggunakan logam untuk membuat perhiasan. Tembaga menjadi salah satu logam pertama yang dimanfaatkan, kemudian disusul emas dan perunggu. Berbeda dengan cangkang atau tulang yang mudah rusak, logam memiliki sifat lebih kuat, tahan lama, dan mudah dibentuk. Manusia pun mulai mengenal teknik dasar seperti menempa, melebur, menuang logam ke dalam cetakan, serta membentuknya menjadi berbagai jenis perhiasan.

Perkembangan teknik pengolahan logam atau metalurgi menjadi titik penting dalam sejarah perhiasan. Berkat perkembangan teknik tersebut, manusia tidak lagi hanya mengandalkan bentuk alami suatu bahan, tetapi dapat menciptakan desain sesuai keinginan. Perhiasan pun menjadi lebih beragam, lebih rapi, dan memiliki daya tahan yang lebih baik. Inovasi inilah yang menjadi awal lahirnya berbagai bentuk perhiasan logam yang kemudian terus berkembang pada masa-masa berikutnya.

3. Peradaban Kuno, perhiasan berkembang menjadi karya seni bernilai tinggi

manik-manik perhiasan pada masa Mesir Kuno (commons.wikimedia.org/Mary Harrsch)

Memasuki era peradaban kuno, seperti Mesopotamia, Mesir Kuno, Yunani, dan Romawi, perhiasan berkembang menjadi lebih indah dan bernilai seni tinggi. Selain menggunakan emas dan perak, para pengrajin juga mulai menghiasi perhiasan dengan berbagai batu permata. Berbagai teknik pembuatan pun terus berkembang sehingga menghasilkan perhiasan dengan bentuk dan detail yang semakin menarik. Meski masih menjadi penanda status sosial, perhiasan pada masa ini lebih dikenal karena keindahan dan kualitas pembuatannya.

Kemajuan tersebut didukung oleh berkembangnya berbagai teknik pengerjaan, seperti filigree, granulasi, ukiran logam, enamel, hingga seni mengukir batu permata. Berkat keterampilan para pengrajin, perhiasan tidak lagi sekadar dibentuk dari logam, tetapi juga dihiasi dengan detail yang semakin rumit. Perkembangan ini menjadikan perhiasan sebagai salah satu bentuk karya seni yang menunjukkan tingginya kemampuan dan kreativitas manusia pada masa peradaban kuno.

4. Abad Pertengahan dan Renaisans, perhiasan sebagai simbol agama, status, dan kekuasaan

desain khas perhiasan pada masa Renaisans (commons.wikimedia.org/craftspeople)

Memasuki Abad Pertengahan, perhiasan tidak hanya dipandang sebagai hiasan, tetapi juga menjadi simbol agama, status sosial, dan kekuasaan. Masyarakat pada masa itu sangat mengenal perbedaan kedudukan sosial, sehingga penggunaan emas, perak, dan batu permata umumnya terbatas pada kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan. Berbagai jenis perhiasan, seperti mahkota, cincin, bros, hingga liontin berbentuk salib, banyak digunakan untuk menunjukkan kedudukan sekaligus mencerminkan keyakinan pemakainya.

Memasuki masa Renaisans, desain perhiasan menjadi semakin artistik dan beragam. Para pengrajin mulai mengambil inspirasi dari seni klasik, alam, hingga potret manusia sehingga menghasilkan perhiasan dengan bentuk yang lebih indah dan personal. Meski tetap menjadi lambang status dan kekuasaan, perhiasan pada masa ini juga semakin dihargai sebagai karya seni yang menampilkan kreativitas dan selera pemiliknya.

5. Era Industri hingga Modern, perhiasan sebagai aksesori massal dan sarana berekspresi

ilustrasi perhiasan di era modern (pixabay.com/Gao Vang)

Revolusi Industri pada akhir abad ke-18 menjadi titik balik penting dalam perkembangan perhiasan. Kehadiran mesin dan berbagai teknologi baru membuat proses pembuatan perhiasan menjadi lebih cepat dan efisien dibandingkan sebelumnya. Produksi massal juga membuat perhiasan tidak lagi hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan, tetapi mulai dapat dibeli oleh masyarakat yang lebih luas. Selain itu, hadirnya batu permata sintetis dan teknik pemotongan dengan mesin membuat perhiasan berkualitas semakin mudah dijangkau.

Di era modern, perkembangan teknologi terus mendorong lahirnya berbagai inovasi dalam dunia perhiasan. Desain digital (CAD), pencetakan 3D, dan teknologi laser membantu menghasilkan perhiasan dengan desain yang lebih beragam dan presisi. Berbagai material modern, seperti titanium, resin, dan berlian laboratorium (lab-grown diamonds), juga semakin banyak digunakan. Kini, perhiasan tidak lagi hanya menjadi simbol status, tetapi juga bagian dari fashion, identitas, dan sarana untuk mengekspresikan diri sesuai gaya dan kepribadian masing-masing.

Perjalanan perkembangan perhiasan menunjukkan bahwa benda ini selalu berubah mengikuti kemajuan zaman. Dari bahan alami hingga dibuat dengan teknologi modern, perhiasan tidak hanya menjadi pelengkap penampilan, tetapi juga mencerminkan perkembangan budaya, seni, dan kreativitas manusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article