Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Komet Ini Tiba-Tiba Berhenti dan Berputar Terbalik, Ilmuwan Bingung

Komet Ini Tiba-Tiba Berhenti dan Berputar Terbalik, Ilmuwan Bingung
Ilustrasi komet (unsplash.com/Shlomo Shalev)
Intinya Sih
  • Komet 41P/Tuttle–Giacobini–Kresák menunjukkan perubahan rotasi ekstrem pada 2017, dari 20 jam menjadi 53 jam, lalu kembali memendek hingga 14,4 jam dalam waktu singkat.
  • Perubahan arah putaran komet dipicu semburan gas akibat sublimasi es saat mendekati Matahari, menciptakan gaya puntir kuat yang mengubah kecepatan dan arah rotasinya.
  • Fenomena ini menandakan komet 41P mungkin sisa tubuh lebih besar yang terus menyusut karena paparan panas Matahari, memberi wawasan baru tentang evolusi komet di Tata Surya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sebuah komet yang melintas cepat di Tata Surya membuat para ilmuwan tercengang setelah menunjukkan perilaku yang belum pernah diamati sebelumnya. Saat mendekati Matahari pada awal 2017, komet 41P/Tuttle–Giacobini–Kresák, yang memiliki periode orbit sekitar 5,4 tahun, tiba-tiba mengalami perlambatan rotasi hingga nyaris berhenti, sebelum diduga berputar kembali ke arah sebaliknya.

Menurut astronom David Jewitt dari University of California, Los Angeles, fenomena perubahan arah putaran ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya asing pada komet. Namun, kecepatan dan skala perubahan yang terjadi pada komet ini terbilang ekstrem. Ini menjadikannya salah satu kasus paling misterius yang pernah diamati dalam studi objek es di luar angkasa.

1. Perubahan rotasi yang terjadi secara ekstrem

Rangkaian pengamatan pada tahun 2017 mengungkap perubahan rotasi yang sangat tidak biasa pada komet 41P/Tuttle–Giacobini–Kresák. Pada Maret 2017, komet ini tercatat memiliki periode rotasi sekitar 20 jam. Namun hanya dalam hitungan minggu, tepatnya pada Mei, rotasinya melambat drastis hingga lebih dari dua kali lipat, menjadi sekitar 53 jam untuk satu putaran penuh.

Yang lebih mengejutkan terjadi pada akhir tahun. Pada Desember 2017, periode rotasi komet justru kembali memendek menjadi sekitar 14,4 jam. Menurut David Jewitt, perubahan ekstrem ini paling masuk akal dijelaskan jika komet tersebut sempat berhenti berputar sepenuhnya sekitar Juni 2017, sebelum akhirnya berputar kembali ke arah yang berlawanan.

2. Dorongan gas yang mengubah arah putaran

ilustrasi komet (pixabay.com/Paris_Saliveros)
ilustrasi komet (pixabay.com/Paris_Saliveros)

Fenomena perubahan rotasi ini sebenarnya bisa dijelaskan secara teori melalui perilaku khas komet saat mendekati Matahari. Komet tersusun dari campuran batuan dan es yang sebagian besar waktu hanya bergerak mengikuti orbitnya. Namun ketika jaraknya semakin dekat dengan Matahari, es di dalam tubuh komet mulai berubah langsung menjadi gas melalui proses yang dikenal sebagai sublimasi.

Proses ini memicu semburan jet dan geyser yang menyemburkan gas ke luar angkasa. Setiap semburan tersebut memberikan gaya puntir (torsi) pada inti komet, sehingga bisa mengubah kecepatan bahkan arah putarannya. Pada komet berukuran kecil seperti 41P, yang hanya sekitar satu kilometer, efek dorongan ini menjadi jauh lebih signifikan.

Akibatnya, perubahan rotasi bisa terjadi dengan cepat dan ekstrem, bahkan dalam beberapa kasus membuat komet berputar terlalu cepat hingga akhirnya terpecah.

3. Sisa komet besar yang terus menyusut

Komet merupakan salah satu peninggalan paling menarik dari awal terbentuknya Tata Surya, sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Meski rapuh dan mudah berubah, objek-objek es ini tetap bertahan hingga sekarang, terus berevolusi seiring interaksinya dengan Matahari. Perubahan drastis yang ditunjukkan komet 41P sepanjang 2017 memberi petunjuk bahwa komet ini kemungkinan merupakan sisa dari tubuh yang jauh lebih besar di masa lalu.

Seiring waktu, paparan panas Matahari dan proses sublimasi secara perlahan “mengikis” material komet yang membuat ukurannya semakin mengecil. Dalam konteks ini, perilaku ekstrem yang ditunjukkan 41P bisa jadi merupakan bagian dari proses panjang peluruhan tersebut.

Perilaku unik komet 41P membuka jendela baru bagi ilmuwan untuk memahami dinamika dan evolusi komet secara lebih mendalam. Dengan terus mempelajari objek-objek rapuh ini, para peneliti berharap dapat mengungkap lebih banyak rahasia tentang bagaimana Tata Surya terbentuk dan berubah selama miliaran tahun.

Referensi

Jewitt, David. “Reversal of Spin: Comet 41P/Tuttle-Giacobini-Kresak.” arXiv (Cornell University), February 6, 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More