5 Alasan Ilmiah Mengapa Resolusi Tahun Baru Sering Kali Gagal

- Otak lebih suka kebiasaan lama daripada perubahan baru, disebabkan oleh neural resistance dan keinginan otak untuk efisiensi.
- Sistem dopamin tidak mendapat imbalan cepat, menyebabkan motivasi menurun karena resolusi tidak memberikan hasil instan.
- Target terlalu besar dan tidak spesifik, membuat otak sulit mengenali perkembangan yang dicapai sehingga muncul perasaan gagal meskipun sudah berusaha.
Pada setiap awal tahun, kita sering menganggap resolusi sebagai kesempatan untuk memulai hidup kembali dari awal. Menata daftar-daftar kegiatan yang membuat perubahan dalam diri kita menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya.
Namun, data menunjukkan bahwa hanya sekitar 9–10 persen orang yang benar-benar berhasil menjalankan resolusi Tahun Baru mereka sampai akhir tahun. Sebagian besar orang justru sudah berhenti berusaha sebelum bulan Januari berakhir.
Lantas, apa saja alasan ilmiah yang menyebabkan resolusi Tahun Baru sering kali kandas di tengah jalan? Yuk kita cari tahu!
1. Otak lebih suka kebiasaan lama daripada perubahan baru

Secara saraf, kebiasaan lama kita disimpan di bagian otak yang disebut basal ganglia, sedangkan niat untuk membuat tujuan atau resolusi baru diatur oleh prefrontal cortex. Berdasarkan penjelasan dari Scenic City Neurotherapy, masalah sering muncul karena kebiasaan lama sudah bersifat otomatis bagi kita. Hal ini menyebabkan niat sadar kita sulit untuk mengubah pola lama yang sudah terbentuk sangat kuat. Otak manusia pada dasarnya lebih menyukai efisiensi dibandingkan melakukan perubahan.
Ketika kita mencoba membentuk kebiasaan baru melalui resolusi, otak cenderung kembali pada pola lama yang terasa lebih aman dan sudah dikenal. Fenomena ini disebut dengan neural resistance, yaitu penolakan alami dari otak terhadap kebiasaan baru. Jika tidak dilakukan pengulangan secara konsisten, jalur saraf yang baru akan sulit terbentuk, sehingga pada akhirnya resolusi tersebut perlahan-lahan ditinggalkan.
2. Sistem dopamin tidak mendapat imbalan cepat

Motivasi kita sangat bergantung pada dopamin, yaitu zat kimia di dalam otak yang memberikan rasa puas saat kita mencapai suatu hasil. Kadar dopamin sendiri akan meningkat ketika kita mendapatkan hadiah secara instan atau langsung. Sayangnya, banyak resolusi yang kita buat—seperti menabung, melakukan diet, atau berolahraga—tidak memberikan hasil yang cepat.
Kondisi tersebut menyebabkan otak merasa tidak mendapatkan imbalan yang diinginkan, sehingga motivasi kita pun menurun. Inilah alasan mengapa resolusi sering kali hanya mampu bertahan selama beberapa minggu saja. Tanpa adanya hasil positif yang rutin, sistem penghargaan—atau yang kita sebut sebagai imbalan—di dalam otak tidak aktif, sehingga kita kehilangan dorongan untuk melanjutkan perubahan dalam jangka panjang.
3. Target terlalu besar dan tidak spesifik

Melansir European Commission dan BBC, salah satu alasan utama mengapa resolusi sering kali gagal adalah karena tujuan yang dibuat terlalu besar dan tidak jelas. Resolusi seperti hidup lebih sehat atau menjadi lebih produktif memang terdengar baik, namun tingkat keberhasilannya sulit untuk diukur. Tanpa adanya ukuran kemajuan yang pasti, otak kita akan kesulitan mengenali perkembangan yang sudah dicapai, sehingga muncul perasaan gagal meskipun kita sebenarnya sudah berusaha.
Melansir European Commission yang mengutip analisis data Strava, hampir 80% resolusi ditinggalkan sebelum akhir Januari Hal ini sejalan dengan pendapat Prof. Pragya Agarwal dari Loughborough University, yang menyatakan bahwa resolusi sering gagal karena tidak memiliki ukuran yang nyata (konkret). Otak kita membutuhkan tujuan-tujuan kecil yang dapat diukur agar kita tetap merasa mampu dan terus bersemangat.
"Salah satu alasan utama mengapa janji gagal sebelum akhir Januari adalah karena janji tersebut tidak jelas. Mereka fokus pada kualitas yang beragam seperti menjadi lebih sehat, lebih bahagia (tanpa menjelaskan apa artinya) atau menghasilkan lebih banyak uang (tanpa menentukan jumlah atau rencana)," ujar Prof. Pragya Agarwal, melansir European Commission.
4. Optimisme yang berlebihan dan bias psikologis

Pada awal tahun, kita sering kali terjebak dalam optimism bias, yaitu sebuah keyakinan bahwa kita pasti akan berhasil. Melansir BBC, prasangka ini menyebabkan kita cenderung meremehkan tantangan yang ada dan menilai kemampuan diri secara berlebihan. Kita merasa seolah-olah akan menjadi pribadi yang baru hanya karena adanya pergantian tahun di kalender.
Padahal, menurut psikolog Timothy Pychyl, resolusi justru sering kali sudah mengandung kegagalan sejak awal karena kita cenderung menunda tindakan yang kita rencanakan. Ketika kenyataan yang dihadapi tidak seindah harapan, semangat kita akan cepat menurun. Tanpa adanya persiapan mental dan strategi yang jelas, rasa optimis yang muncul di awal justru dapat berubah menjadi rasa kecewa atau frustrasi.
5. Motivasi hanya bersifat sementara, akan tetapi kebiasaan memerlukan waktu

Motivasi tahun baru biasanya mencapai titik tertinggi pada awal Januari, namun kemudian menurun secara tajam. Dilansir melalui laman University of Delaware, kita sering kali keliru menganggap bahwa motivasi itu sama dengan komitmen jangka panjang, padahal keduanya adalah hal yang berbeda. Motivasi bisa datang dan pergi, sedangkan untuk membentuk sebuah kebiasaan, kita memerlukan waktu, pengulangan, dan perencanaan yang teratur.
Data Forbes dan CBS News menunjukkan bahwa meskipun sebagian orang bertahan beberapa bulan, kurang dari 10% yang benar-benar berhasil menuntaskan resolusi mereka hingga akhir. Kondisi ini terjadi karena resolusi tersebut tidak diubah menjadi rutinitas harian kecil yang nyata. Otak kita lebih membutuhkan konsistensi dibandingkan semangat besar yang hanya muncul sesaat. Tanpa adanya sistem pendukung, resolusi akan mudah terlupakan seiring dengan menghilangnya motivasi kita.
Pada akhirnya, kegagalan resolusi Tahun Baru bukanlah tanda lemahnya kemauan, melainkan cerminan dari cara otak kita mempertahankan kebiasaan lama dan merespons perubahan. Tanpa strategi yang selaras dengan sistem kerja otak, seperti target kecil, imbalan yang jelas, dan konsistensi, resolusi mudah runtuh seiring menurunnya motivasi.
Jadi bagaimana, setelah mengetahui bagaimana otak bekerja, masihkah kamu bakal melakukan hal yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya?


















