Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Ular Berbahaya di Venezuela, Punya Bisa Neurotoksin Mematikan

5 Ular Berbahaya di Venezuela, Punya Bisa Neurotoksin Mematikan
fer-de-lance (commons.wikimedia.org/Jean-nature)
Intinya Sih
  • Venezuela sebagai negara tropis memiliki beragam habitat yang menjadi rumah bagi banyak spesies ular berbisa, termasuk viper, ular karang, dan ular derik neotropikal.
  • Lima jenis ular paling berbahaya di Venezuela antara lain fer-de-lance, lancehead venezuela, ular karang kerdil, ular karang ekor merah, serta ular derik neotropikal dengan bisa mematikan.
  • Kandungan bisa dari masing-masing spesies bervariasi antara hemotoksin dan neurotoksin yang dapat menyebabkan kelumpuhan hingga kematian, sehingga masyarakat perlu waspada terhadap keberadaan mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sama seperti Indonesia, Venezuela yang berlokasi di Amerika Selatan merupakan negara tropis. Hutan hujan, sungai, rawa, hingga pegunungan menjadi pemandangan yang akan kamu temukan di negara tersebut. Selayaknya negara tropis lain, Venezuela juga menjadi habitat sempurna bagi ular. Tak tanggung-tanggung, bahkan ada banyak ular berbisa di negara.

Di hutan kamu bisa menemukan berbagai spesies viper seperti fer-de-lance dan lancehead. Masuk ke area terbuka, ular derik neotropikal yang ukurannya cukup besar juga menunggumu. Di semak-semak dan dedaunan kering juga ada ular karang atau coral snake dengan kandungan bisa neurotoxin. Gimana sih tingkat bahaya semua ular tersebut? Simak di bawah ini, yuk!

1. Fer-de-lance jadi ular dengan kasus gigitan terbanyak

fer-de-lance
fer-de-lance (commons.wikimedia.org/....Christopher Borges....)

Bothrops atrox atau fer-de-lance mencatatkan namanya sebagai salah satu ular berbisa dengan kasus kematian paling banyak di Amerika Serikat. Menurut catata Reptiles of Equador, presentase kematian akibat gigitan fer-de-lance bisa mencapai 2 persen. Seperti spesies viper lain, ular ini punya bisa hemotoksin yang menyerang darah, menyebabkan pembengkakan, hingga merusak pernafasan.

Bagi korban berusia kurang dari 15 tahun dan di atas 65 tahun, bisa ular ini sangat mematikan karena mampu membunuh dengan cepat. Habitat fer-de-lance mencakup hutan, area berkayu, area lembap, semak-semak, dan dedaunan kering. Punya panjang maksimal 1,9 meter, ular berwarna cokelat ini bisa dijumpai di Venezuela, Equador, Bolivia, Suriname, Peru, hingga Brazil.

2. Ular karang kerdil punya bodi mungil

ular karang kerdil
ular karang kerdil (inaturalist.org/Miguel Diaz Anaya)

Seperti namanya, Micrurus dissoleucus atau ular karang kerdil punya ukuran kecil dengan panjang yang hanya sekitar 25-40 centimeter. Namun, ia merupakan ular berbisa tinggi yang berbahaya, serupa dengan spesies ular karang lain. Sayangnya hingga kini tak ada yang tahu bagaimana efek gigitan atau kandungan bisanya. Lebih lanjut, laman The Reptile Database menerangkan kalau ular karang kerdil menghuni beberapa daerah, seperti Panama, Kolombia, hingga Venezuela.

3. Lancehead venezuela punya tiga kandungan bisa

lancehead venezuela
lancehead venezuela (inaturalist.org/Nicolas Betancourt)

Kembali ke ular viper, Bothrops venezuelensis atau lancehead venezuela harus diwaspadai. Dilansir iNaturalist, spesies endemik Venezuela ini memiliki kandungan yang beragam pada bisanya, yaitu mencakup procoagulant, mitotoksin, hingga sitotoksin. Hingga kini tak banyak yang diketahui mengenai efek gigitannya. Namun, jika terjadi envenomasi ada kemungkinan kalau manusia bisa tewas akibat bisanya yang kuat. Kasus gigitan juga sering terjadi dan umumnya menyebabkan pembengkakan, rasa sakit luar biasa, kegagalan pembekuan darah, hingga macroscopic hematuria.

4. Ular karang ekor merah bisa menghilangkan nyawa

ular karang ekor merah
ular karang ekor merah (commons.wikimedia.org/Anton)

Terdapat tiga hal yang menjadi ciri khas ular dengan nama ilmiah Micrurus mipartitus ini. Ciri pertama adalah tubuhnya yang berwarna hitam dan dilapisi corak garis putih tipis. Kedua, ia memiliki kepala dan ekor yang berwarna merah. Selain itu, di bagian bawah tubuh juga nampak corak garis hitam putih yang mencolok. Jika membahas ukuran, panjang maksimal ular ini hanya sekitar 1,4 meter.

Laman Animalia menerangkan kalau ular karang ekor merah punya kandungan bisa neurotoksin yang menyerang sistem syarat dan otot. Gigitannya berpotensi tinggi untuk menghilangkan nyawa manusia dalam waktu singkat. Penelitian juga menunjukan bahwa bisanya terdiri atas 60 persen three-finger toxins, 30 persen phospholipase A2, dan 10 persen kandungan berbahaya lain.

5. Ular derik neotropik panjangnya hampir 2 meter

ular derik neotropik
ular derik neotropik (commons.wikimedia.org/Paul Prior)

Seperti daerah lain di Amerika Selatan, Venezuela juga menjadi rumah bagi Crotalus durissus atau ular derik neotropik. Ular ini mudah dibedakan dari spesies lain dari panjang yang mencapai 1,9 meter, sisiknya yang kasar, dan kehadiran rattle di ujung ekornya. Ketika merasa terancam atau teranggu, ular derik neotropik akan menggerakan ekor dan membunyikan rattlenya.

Dilansir South America Rattlesnake, makanan utama ular derik neotropik adalah hewan kecil seperti tikus dan kadal. Hidup di savana dan area kering, spesies ini kerap bersembunyi di sela-sela batu, dadaunan, atau tumpukan kayu. Tak seperti viper lain, ular ini memiliki kandungan bisa neurotoksin. Akibatnya, korban gigitan akan merasakan rasa sakit, kelumpuhan, gagal ginjal, dan akhirnya kematian.

Kehadiran ular berbahaya di Venezuela memaksa masyarakat lokal untuk selalu waspada. Tak ada tempat yang benar-benar aman dari kehadiran ular, entah itu kebun, pepohonan, area lembap, bahkan savana kering sekalipun. Hidup berdampingan dengan ular bukanlah yang hal mustahil. Manusia juga perlu pemahaman yang baik terhadap kebiasaan, habitat, hingga perilaku ular yang ada di sekitar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More