Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Alasan NASA Kirim Ubur-ubur ke Luar Angkasa, Kenapa?
ilustrasi ubur-ubur (unsplash.com/Tormius)
  • NASA mengirim ubur-ubur ke luar angkasa untuk mempelajari sistem keseimbangan makhluk hidup dalam kondisi mikrogravitasi.

  • Eksperimen ini meneliti bagaimana organisme berkembang tanpa gravitasi dan apakah sistem orientasi tubuh tetap terbentuk normal.

  • Hasil penelitian memberi petunjuk tentang kemungkinan dampak kelahiran dan pertumbuhan makhluk hidup di ruang angkasa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Eksperimen antariksa kadang melibatkan makhluk hidup yang tidak terduga. Ini termasuk penelitian tentang alasan NASA kirim ubur-ubur ke ruang angkasa pada awal 1990-an. Percobaan ini sempat menarik perhatian karena organisme laut yang tampak sederhana justru dibawa ke orbit dalam sebuah misi penelitian.

Banyak orang penasaran mengapa ubur-ubur bisa menjadi bagian dari eksperimen ilmiah di ruang angkasa. Di balik keputusan tersebut, ternyata ada pertimbangan yang cukup menarik untuk ditelisik. Berikut beberapa fakta yang menjelaskan alasan di balik eksperimen tersebut.

1. NASA meneliti sistem keseimbangan tubuh makhluk hidup

ilustrasi ubur-ubur (unsplash.com/Wolfgang Hasselmann)

Para ilmuwan NASA tertarik mempelajari bagaimana makhluk hidup mengetahui arah atas dan bawah ketika berada di lingkungan tanpa gravitasi. Pada manusia, kemampuan ini berasal dari struktur kecil berbasis kalsium di telinga bagian dalam yang berfungsi sebagai sensor gravitasi. Struktur tersebut bekerja bersama sel rambut sensorik yang mengirimkan sinyal ke otak untuk membantu tubuh menjaga keseimbangan dan orientasi ruang.

Ubur-ubur ternyata memiliki mekanisme yang mirip walau jauh lebih sederhana. Ketika ubur-ubur berkembang menjadi fase medusa, tubuhnya membentuk kristal kalsium sulfat bernama statolith, yang berperan sebagai sensor gravitasi. Kristal ini bergerak mengikuti arah gravitasi dan merangsang sel rambut khusus yang kemudian mengirim sinyal ke sistem saraf. Karena kemiripan prinsip biologis tersebut, ubur-ubur menjadi model penelitian ideal untuk mempelajari sistem keseimbangan dalam kondisi mikrogravitasi.

2. Menguji perkembangan organisme dalam mikrogravitasi

ilustrasi ubur-ubur (unsplash.com/Wolfgang Hasselmann)

Salah satu tujuan utama eksperimen ini ialah melihat apakah sistem sensor gravitasi tetap berkembang normal ketika organisme tumbuh di ruang angkasa. Pada 1991, sekitar 2,5 ribu polip ubur-ubur dikirim ke orbit menggunakan pesawat ulang-alik Columbia. Polip merupakan tahap awal kehidupan ubur-ubur sebelum berkembang menjadi bentuk medusa yang lebih dikenal.

Selama sekitar 9 hari misi berlangsung, para peneliti mempercepat pertumbuhan organisme tersebut dalam wadah berisi air laut buatan. Hasilnya cukup mengejutkan karena jumlah ubur-ubur berkembang pesat hingga mencapai sekitar 60 ribu individu selama eksperimen. Pengamatan ini memberikan kesempatan besar bagi ilmuwan untuk menilai apakah proses perkembangan biologis tetap berjalan normal di lingkungan tanpa gravitasi.

3. Membandingkan ubur-ubur ruang angkasa dan Bumi

ilustrasi ubur-ubur (unsplash.com/Mathieu Turle)

Setelah misi selesai dan ubur-ubur kembali ke Bumi, para peneliti membandingkan mereka dengan kelompok kontrol yang tumbuh di laboratorium dengan kondisi normal. Secara morfologi atau bentuk tubuh, sebagian besar ubur-ubur yang berkembang di ruang angkasa terlihat sangat mirip dengan ubur-ubur yang tumbuh di Bumi. Jumlah tentakel dan struktur tubuhnya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Namun, ketika mereka mulai berenang di lingkungan dengan gravitasi normal, para ilmuwan menemukan perbedaan penting pada perilaku gerakan. Banyak ubur-ubur hasil eksperimen menunjukkan pola denyutan renang yang tidak stabil dan tampak kesulitan mengatur arah gerakan. Fenomena ini membuat para peneliti menyimpulkan bahwa ubur-ubur tersebut mengalami gangguan orientasi mirip vertigo akibat perkembangan sistem keseimbangan yang terjadi dalam mikrogravitasi.

4. Eksperimen ini membantu memahami kelahiran di ruang angkasa

ilustrasi ubur-ubur (unsplash.com/Florian Olivo)

Penelitian ubur-ubur sebenarnya berkaitan dengan pertanyaan yang lebih besar tentang masa depan eksplorasi manusia. Jika manusia suatu hari hidup dalam koloni ruang angkasa atau di stasiun orbit jangka panjang, kemungkinan kelahiran manusia dalam lingkungan mikrogravitasi menjadi isu penting yang harus dipahami sejak dini. Sistem keseimbangan tubuh manusia sangat bergantung pada gravitasi selama masa perkembangan.

Hasil eksperimen menunjukkan bahwa organisme yang tumbuh di ruang angkasa dapat mengalami kesulitan menyesuaikan diri ketika kembali ke gravitasi normal. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa manusia yang lahir dan tumbuh di ruang angkasa mungkin mengalami tantangan serupa ketika berada di lingkungan Bumi. Oleh karena itu, eksperimen sederhana menggunakan ubur-ubur memberikan petunjuk awal mengenai potensi masalah biologis yang mungkin muncul pada masa depan eksplorasi antariksa.

5. Ubur-ubur dipilih karena mudah diteliti di ruang angkasa

ilustrasi ubur-ubur (unsplash.com/Bruno Kelzer)

Selain memiliki sistem sensor gravitasi yang jelas, ubur-ubur juga dipilih karena relatif mudah dipelihara selama eksperimen ruang angkasa. Organisme ini dapat hidup dalam wadah air laut buatan dengan sistem otomatis tanpa memerlukan perawatan intensif dari manusia. Kemampuan reproduksi aseksual pada tahap polip juga memungkinkan populasi ubur-ubur berkembang cepat selama eksperimen berlangsung.

Faktor lain yang membuat ubur-ubur menarik bagi ilmuwan ialah siklus hidup mereka yang cukup singkat sehingga perubahan biologis dapat diamati dalam waktu misi yang relatif singkat pula. Dalam penelitian tersebut, ubur-ubur ditempatkan dalam inkubator bersuhu terkontrol yang meniru kondisi laut sambil tetap memungkinkan peneliti mengamati perkembangan mereka. Kombinasi karakteristik biologis dan kemudahan perawatan menjadikan ubur-ubur kandidat ideal untuk eksperimen mikrogravitasi.

Penelitian tentang kehidupan di ruang angkasa terus dilakukan karena para ilmuwan ingin memahami bagaimana tubuh makhluk hidup bereaksi terhadap lingkungan tanpa gravitasi. Berbagai eksperimen dilakukan menggunakan organisme yang memiliki sistem biologis sederhana, tetapi tetap relevan, untuk dibandingkan dengan manusia. Dari sinilah, muncul berbagai penelitian unik, termasuk eksperimen yang menjelaskan alasan NASA mengirim ubur-ubur ke ruang angkasa.

Referensi
"Jellyfish in Space: A Case Study of Microgravity". The Average Scientist. Diakses Maret 2026.
"NASA officials sent over 2,000 baby jellyfish into space. Tens of thousands more came back to Earth". BBC Wildlife. Diakses Maret 2026.
"'Pulsing Abnormalities': In The 1990s, NASA Sent 2,000 Jellyfish To Space. 60,000 Came Back.". IFL Science. Diakses Maret 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎