ilustrasi ubur-ubur (unsplash.com/Bruno Kelzer)
Selain memiliki sistem sensor gravitasi yang jelas, ubur-ubur juga dipilih karena relatif mudah dipelihara selama eksperimen ruang angkasa. Organisme ini dapat hidup dalam wadah air laut buatan dengan sistem otomatis tanpa memerlukan perawatan intensif dari manusia. Kemampuan reproduksi aseksual pada tahap polip juga memungkinkan populasi ubur-ubur berkembang cepat selama eksperimen berlangsung.
Faktor lain yang membuat ubur-ubur menarik bagi ilmuwan ialah siklus hidup mereka yang cukup singkat sehingga perubahan biologis dapat diamati dalam waktu misi yang relatif singkat pula. Dalam penelitian tersebut, ubur-ubur ditempatkan dalam inkubator bersuhu terkontrol yang meniru kondisi laut sambil tetap memungkinkan peneliti mengamati perkembangan mereka. Kombinasi karakteristik biologis dan kemudahan perawatan menjadikan ubur-ubur kandidat ideal untuk eksperimen mikrogravitasi.
Penelitian tentang kehidupan di ruang angkasa terus dilakukan karena para ilmuwan ingin memahami bagaimana tubuh makhluk hidup bereaksi terhadap lingkungan tanpa gravitasi. Berbagai eksperimen dilakukan menggunakan organisme yang memiliki sistem biologis sederhana, tetapi tetap relevan, untuk dibandingkan dengan manusia. Dari sinilah, muncul berbagai penelitian unik, termasuk eksperimen yang menjelaskan alasan NASA mengirim ubur-ubur ke ruang angkasa.
Referensi
"Jellyfish in Space: A Case Study of Microgravity". The Average Scientist. Diakses Maret 2026.
"NASA officials sent over 2,000 baby jellyfish into space. Tens of thousands more came back to Earth". BBC Wildlife. Diakses Maret 2026.
"'Pulsing Abnormalities': In The 1990s, NASA Sent 2,000 Jellyfish To Space. 60,000 Came Back.". IFL Science. Diakses Maret 2026.