ilustrasi seekor anjing (pexels.com/Milos Jevtic)
Dilansir Medical News Today, anjing mampu mendeteksi banyak jenis kanker pada manusia. Sama seperti penyakit lainnya, kanker juga memiliki jejak spesifik atau tanda bau di dalam tubuh dan sekresi tubuh manusia. Sel kanker atau sel sehat yang terkena kanker, memproduksi dan melepaskan tanda bau ini. Mendeteksi bau-bauan ini terdapat dalam zat yang disebut senyawa organik volatil.
Diketahui, anjing mampu mendeteksi senyawa organik volatil dalam kulit, napas, air seni, kotoran, dan keringat. Anjing dapat mendeteksi jejak bau tersebut dan dengan pelatihan, dapat memperingatkan orang-orang tentang keberadaan mereka.
Anjing yang menjalani pelatihan untuk mendeteksi penyakit tertentu biasanya dikenal sebagai anjing pendeteksi medis. Anjing terlatih dapat mendeteksi beberapa zat dalam konsentrasi yang sangat rendah, serendah bagian per triliun, yang membuat penciuman mereka sangat sensitif untuk mendeteksi penanda kanker dalam napas, urin, dan darah manusia.
Ashley Stenzel, PhD, yang merupakan seorang peneliti pascadoktoral di Roswell Park telah mengkonfirmasi bagaimana kemampuan anjing dalam mendeteksi melanoma atau disebut kanker kulit yang muncul dengan lesi pada kulit. Dr. Stenzel mencatat bahwa dalam studi kasusnya, anjing ini terus-menerus mengendus, menjilat, dan menggigit lesi melanoma pada kulit pemiliknya, bahkan melalui pakaian, mendorong pemiliknya untuk mengidentifikasi lokasi kanker dan mencari perawatan dokter.
Dilansir Roswell Park, beberapa organisasi termasuk Working Dog Center dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Pennsylavina dan Medical Detection Dogs, di Inggris raya diketahui anjing mampu mendeteksi kanker payudara dan kanker paru-aru, dengan cara mengendus napas pasien. Dalam penelitian ini, diduga bahwa anjing tersebut merasakan perbedaan biokimia dalam hembusan napas subjek yang telah didiagnosis kanker dan subjek yang tidak diketahui menderita kanker.