Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Orang Eropa Bertahan saat Gelombang Panas Melanda?
ilustrasi masyarakat berkumpul di taman kota (pexels.com/Leah Newhouse)
  • Gelombang panas ekstrem melanda Eropa dengan suhu menembus 40°C, memicu peringatan kesehatan, kebakaran hutan, dan gangguan aktivitas masyarakat di berbagai negara.
  • Pemerintah dan warga beradaptasi dengan mengurangi aktivitas luar ruangan saat siang hari serta memanfaatkan ruang publik sejuk seperti perpustakaan dan museum sebagai tempat berlindung sementara.
  • Masyarakat dianjurkan menjaga hidrasi dan menyesuaikan kondisi rumah agar tetap sejuk, seperti menutup tirai siang hari dan membuka jendela malam untuk menjaga kenyamanan selama heatwave.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gelombang panas ekstrem sedang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir. Di beberapa wilayah, suhu udara bahkan menembus lebih dari 40 derajat Celsius hingga memicu peringatan kesehatan, kebakaran hutan, dan gangguan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini membuat pemerintah setempat mengeluarkan berbagai imbauan agar masyarakat dapat mengurangi risiko akibat cuaca panas.

Fenomena tersebut juga menjadi pengingat bahwa gelombang panas bukan lagi kejadian yang langka, melainkan ancaman yang semakin sering terjadi. Di tengah kondisi itu, banyak warga Eropa mulai menyesuaikan kebiasaan mereka agar tetap aman dan nyaman saat beraktivitas. Langkah-langkah yang dilakukan pun sebagian besar sederhana, tetapi didasarkan pada rekomendasi ilmiah dan kesehatan. Lalu, bagaimana orang Eropa bertahan saat gelombang panas melanda?

1. Mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari

ilustrasi rumah (pexels.com/Lukas Hartmann)

Mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari menjadi salah satu langkah yang dianjurkan selama gelombang panas melanda Eropa. Mengutip dari World Health Organization (WHO), paparan suhu tinggi saat matahari berada pada puncaknya dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga heat stroke. Sebab itu, masyarakat diimbau untuk menghindari aktivitas di luar ruangan, terutama saat suhu sedang mencapai titik tertinggi pada siang hingga sore hari.

Jika memang harus keluar rumah, usahakan untuk mengurangi durasi paparan sinar matahari langsung dan beristirahat di tempat yang teduh atau sejuk. Anjuran ini juga berlaku bagi orang yang bekerja di luar ruangan, seperti pekerja konstruksi, petugas kebersihan, maupun kurir. Kelompok yang lebih rentan, seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis, juga diminta lebih berhati-hati saat cuaca sangat panas. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat membantu menurunkan risiko gangguan kesehatan akibat suhu ekstrem.

Di tengah gelombang panas yang masih melanda Eropa, menurunkan aktivitas pada jam-jam terpanas menjadi salah satu cara paling efektif untuk melindungi diri. Dengan begitu, tubuh memiliki kesempatan untuk menghindari paparan panas berlebih yang dapat membahayakan kesehatan.

2. Memanfaatkan ruang publik yang sejuk

ilustrasi ruang terbuka hijau yang sejuk (pexels.com/Margo Evardson)

Sebelum suhu udara mencapai titik tertinggi di siang hingga sore hari, banyak warga Eropa memilih berpindah ke ruang publik yang lebih sejuk untuk menghindari paparan panas berlebih. Dilansir The Guardian, sejumlah kota memanfaatkan perpustakaan, museum, sekolah, hingga gedung publik sebagai climate shelters atau tempat berlindung sementara dari gelombang panas. Fasilitas tersebut dibuka agar masyarakat, terutama kelompok rentan, memiliki akses ke ruangan yang lebih nyaman ketika cuaca di luar terlalu ekstrem.

Di Barcelona, misalnya, pemerintah telah menyediakan ratusan climate shelters yang tersebar di berbagai titik kota sehingga mudah dijangkau warga. Langkah ini dinilai mampu mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat suhu tinggi sekaligus memberikan tempat beristirahat bagi masyarakat di tengah heatwave. Seiring gelombang panas yang semakin sering terjadi, penyediaan ruang publik yang sejuk pun menjadi salah satu strategi adaptasi yang mulai diterapkan di berbagai kota di Eropa.

3. Menyesuaikan pola minum dan kondisi rumah saat heatwave

ilustrasi minum air (pexels.com/MART PRODUCTION)

Menjaga tubuh tetap terhidrasi juga menjadi salah satu langkah penting untuk menghadapi gelombang panas. Mengutip dari UK Health Security Agency (UKHSA), masyarakat dianjurkan minum air secara rutin sepanjang hari dan tidak menunggu hingga merasa haus, karena rasa haus sering kali muncul saat tubuh sudah mulai kekurangan cairan. Selain itu, rumah juga perlu dijaga agar tetap sejuk, misalnya dengan menutup tirai atau gorden pada siang hari untuk mengurangi panas matahari yang masuk ke dalam ruangan.

Ketika suhu udara mulai turun pada malam hari, jendela dapat dibuka agar udara yang lebih sejuk mengalir ke dalam rumah. Langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil sekaligus membuat kondisi di dalam rumah lebih nyaman selama cuaca panas ekstrem. Dengan menerapkan kebiasaan ini, risiko gangguan kesehatan akibat gelombang panas juga dapat dikurangi.

Saking panasnya suhu di Eropa, beberapa masyarakat sampai melakukan eksperimen memasak telur di atas permukaan yang terpapar sinar matahari. Telur tersebut benar-benar matang saat dibiarkan beberapa menit di bawah terik matahari. Jika kondisi ini terjadi di Indonesia, menurutmu langkah apa yang akan dilakukan pemerintah dan masyarakat?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article