Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gunung Anak Krakatau (commons.wikimedia.org/Uprising)
  • Letusan Mount St. Helens 1980 menghilangkan sekitar 400 meter puncak, membentuk kawah tapal kuda, menimbun lembah Sungai Toutle, dan mengubah Spirit Lake.

  • Longsoran Anak Krakatau saat erupsi 2018 meruntuhkan sekitar dua kilometer persegi daratan ke laut, mengubah garis pantai serta lereng gunung, dan memicu tsunami di Selat Sunda.

  • Tsunami Aceh 2004, tsunami Tohoku 2011, serta longsoran Madison 1959 mengubah pesisir dan lembah melalui endapan, hilangnya vegetasi, bendungan alami, hingga terbentuknya Earthquake Lake.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bencana alam tidak hanya menimbulkan kerusakan pada bangunan dan permukiman, tetapi juga dapat mengubah bentuk permukaan bumi dalam waktu singkat. Letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, hingga longsor mampu memindahkan material dalam jumlah besar, mengikis daratan, bahkan mengubah bentuk pulau dan pegunungan.

Perubahan lanskap tersebut terjadi melalui proses alam seperti erosi, pergeseran tanah, runtuhan batuan, dan pengendapan material. Beberapa peristiwa bahkan meninggalkan bentuk geografis baru yang masih dapat diamati bertahun-tahun setelah bencana terjadi. Berikut lima bencana alam yang memperlihatkan betapa cepatnya kondisi suatu wilayah dapat berubah.

1. Letusan Gunung St. Helens

Letusan Gunung St. Helens (flickr.com/Washington DNR)

Mount St. Helens di Washington, Amerika Serikat, sebelumnya memiliki bentuk kerucut dengan puncak yang simetris. Pada 18 Mei 1980, gempa memicu runtuhnya sisi utara gunung dan disusul letusan besar yang menyebarkan gas panas, batuan, serta abu. Peristiwa tersebut mengubah puncak gunung dan wilayah sekitarnya dalam hitungan menit.

Menurut USGS, sekitar 400 meter bagian puncak gunung hilang akibat longsoran besar itu. Runtuhan membentuk kawah menyerupai tapal kuda berukuran sekitar 2 x 3,5 kilometer dan menimbun lembah Sungai Toutle. Danau Spirit Lake juga terdampak ketika gelombang akibat longsoran membawa banyak batang pohon ke permukaannya.

2. Longsoran Gunung Anak Krakatau

Erupsi Gunung Anak Krakatau (commons.wikimedia.org/Alexander Gerst)

Anak Krakatau merupakan gunung api di Selat Sunda yang terbentuk melalui aktivitas vulkanik. Pada 22 Desember 2018, sebagian sisi gunung longsor saat erupsi berlangsung, lalu materialnya masuk ke laut dan memicu tsunami di pesisir sekitar selat. Peristiwa tersebut sekaligus mengubah bentuk pulau tempat gunung api itu berada.

Analisis citra radar Geospatial Information Authority of Japan memperlihatkan perubahan jelas di bagian barat daya Anak Krakatau. Sekitar dua kilometer persegi bagian pulau diperkirakan runtuh hingga 24 Desember 2018, sehingga garis pantainya berubah. Runtuhan itu mengurangi daratan sekaligus mengubah bentuk lereng gunung setelah materialnya berpindah ke laut.

3. Tsunami Samudra Hindia di Aceh

Dampak tsunami Aceh (commons.wikimedia.org/AusAID)

Gempa bermagnitudo 9,1 di lepas pantai Sumatra pada 26 Desember 2004 memicu tsunami yang menerjang Aceh dan negara lain di Samudra Hindia. Aceh mencatat korban jiwa terbanyak, sementara tinggi gelombang di pantai barat laut Sumatra mencapai 51 meter menurut NOAA. Gelombang itu menggenangi dataran pesisir dan membawa pasir serta lumpur jauh ke daratan.

Penelitian USGS menemukan endapan pasir hingga 80 sentimeter dan lumpur yang mencapai 5 kilometer ke daratan di pesisir barat laut Aceh. Endapan itu menebal di cekungan rendah dan saluran sungai sebelumnya. Lapisan sedimen tersebut menjadi bukti bagaimana tsunami mengubah susunan permukaan pesisir dalam satu kejadian.

4. Gempa dan Tsunami Tohoku

Tsunami Tohoku 2011 (commons.wikimedia.org/Mitsukuni Sato)

Pada 11 Maret 2011, gempa bermagnitudo 9,0 mengguncang lepas pantai timur laut Jepang dan memicu tsunami. Gelombang menggenangi permukiman, pelabuhan, lahan pertanian, serta kawasan bervegetasi. Citra satelit sebelum dan sesudah kejadian memperlihatkan perubahan di pesisir sekitar Ofunato dan Kesennuma.

NASA membandingkan citra wilayah tersebut menggunakan instrumen ASTER pada satelit Terra. Pada gambar yang diambil beberapa hari setelah tsunami, vegetasi tidak lagi terlihat di banyak bagian pesisir, terutama sekitar Kesennuma. Perubahan tutupan lahan itu menunjukkan area yang terdampak genangan dan material yang tersapu gelombang, sehingga wajah pesisir tampak berbeda.

5. Gempa Hebgen Lake dan Longsoran Madison

Gempa Hebgen Lake (flickr.com/U.S. Geological Survey)

Gempa Hebgen Lake bermagnitudo 7,3 mengguncang Montana, Amerika Serikat, pada 17 Agustus 1959. Guncangan meruntuhkan dinding Madison Canyon dan memicu longsoran besar yang bergerak ke lembah Sungai Madison dalam hitungan detik. Material batuan menutup aliran sungai dan mengubah lembah tersebut menjadi bendungan alami.

Menurut USGS, longsoran Madison membentang sekitar 1,6 kilometer dan menutup sungai dengan timbunan setinggi kurang lebih 67 meter. Air tertahan di belakang timbunan lalu membentuk Earthquake Lake, yang menggenangi hutan dan menyisakan batang pohon mati di sekitar danau. Perubahan itu membuat bentuk lembah serta aliran sungai berbeda dari kondisi sebelum gempa.

Kelima peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa bencana alam dapat mengubah lanskap melalui berbagai mekanisme. Perubahan yang terjadi dalam hitungan menit atau jam bahkan dapat menghasilkan bentuk geografis baru yang bertahan selama puluhan tahun. Hal ini menunjukkan bahwa permukaan bumi merupakan bagian dari lingkungan yang terus mengalami perubahan akibat proses alam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article