Kapan Terakhir Kali Gunung Fuji Meletus? Ini Sejarahnya!

- Gunung Fuji di Pulau Honshu masih berstatus gunung berapi aktif dengan riwayat letusan panjang, meski kini dikenal sebagai ikon wisata Jepang.
- Letusan terakhir, erupsi Hoei, dimulai 16 Desember 1707 dari lereng tenggara dan berlangsung bertahap sekitar 16 hari hingga awal Januari 1708.
- Erupsi Hoei didahului gempa besar 49 hari sebelumnya; abunya mencapai Edo, merusak pertanian dan mengganggu ekonomi, sementara Fuji terus dipantau hingga kini.
Bayangkan sedang menikmati pemandangan Gunung Fuji yang tertutup salju, lalu tiba-tiba gunung ikonik Jepang ini mengeluarkan abu vulkanik dalam jumlah besar. Meski terlihat tenang dan menjadi salah satu destinasi wisata favorit, Gunung Fuji sebenarnya masih tergolong gunung berapi aktif, lho. Bahkan, gunung tertinggi di Jepang ini memiliki sejarah letusan yang cukup panjang dan pernah mengalami erupsi besar pada masa lalu.
Gunung Fuji terakhir kali meletus pada 1707 dalam peristiwa yang dikenal sebagai erupsi Hoei. Sejak saat itu, gunung ikonik Jepang ini belum mengalami letusan lagi, meski statusnya masih tergolong aktif. Lantas, seperti apa peristiwa letusan tersebut dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat sekitar? Yuk, kenali sejarah letusan Gunung Fuji lebih jauh!
1. Gunung Fuji merupakan gunung berapi aktif di Jepang

Gunung Fuji (magnific.com/jcomp) Selama ini, Gunung Fuji terkenal sebagai ikon Jepang dengan puncaknya yang menawan dan diselimuti salju. Pemandangannya yang terlihat tenang menjadi salah satu tujuan wisata yang sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai belahan dunia. Namun, di balik pesonanya, ternyata Gunung Fuji tergolong sebagai gunung berapi aktif, lho.
Gunung ini terletak di Pulau Honshu dan memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang sangat panjang, jauh sebelum menjadi tempat wisata terkenal seperti saat ini. Berbagai macam penelitian geologi menunjukkan bahwa Gunung Fuji telah mengalami banyak letusan selama ribuan tahun. Oleh karena itu, kondisi gunung ini terus dipantau meskipun sudah lama tidak ada tanda-tanda letusan baru.
2. Letusan terakhir Gunung Fuji terjadi pada 1707

Gunung Fuji (pixabay.com/ArminEP) Berdasarkan catatan sejarah, gunung ini terakhir meletus pada tanggal 16 Desember 1707. Peristiwa ini dikenal sebagai erupsi Hoei atau Hōei, nama yang diambil dari periode pemerintahan Jepang pada waktu itu. Letusan ini menjadi salah satu peristiwa vulkanik yang penting dalam sejarah Jepang karena menghasilkan abu dan material vulkanik dalam jumlah besar.
Erupsi Hoei tidak hanya berlangsung selama beberapa jam, tetapi terjadi secara bertahap selama sekitar 16 hari hingga awal Januari 1708. Aktivitas letusannya pun berasal bukan dari kawah utama di puncak, melainkan dari sisi tenggara lereng Gunung Fuji. Nah, peristiwa inilah yang kemudian tercatat sebagai letusan terakhir dari gunung ikonik tersebut hingga saat ini.
3. Erupsi Hoei didahului gempa besar di Jepang

ilustrasi gempa bumi (magnific.com/magnific) Sebelum Gunung Fuji meletus, Jepang lebih dulu mengalami gempa besar yang dikenal sebagai gempa Hoei pada 28 Oktober 1707. Gempa dengan magnitudo sekitar 8,4 tersebut terjadi sekitar 49 hari sebelum erupsi Gunung Fuji dimulai. Setelah gempa tersebut, aktivitas seismik di sekitar gunung juga menunjukkan peningkatan sebelum terjadinya letusan.
Saat menjelang erupsi, penduduk di dekat kaki Gunung Fuji merasakan beberapa gempa dan mendengar suara bergemuruh dari arah gunung. Pada 16 Desember 1707, suara ledakan keras mulai terdengar, dan kolom abu vulkanik menjulang tinggi ke angkasa. Serangkaian kejadian ini menjadi bagian penting dari sejarah erupsi Hoei, meskipun hubungan langsung antara gempa besar dan letusan tersebut belum bisa disimpulkan dengan pasti.
4. Abu vulkanik dari Gunung Fuji menyebar hingga Edo

ilustrasi erupsi (pixabay.com/WikiImages) Salah satu dampak paling besar dari erupsi Hoei adalah penyebaran abu vulkanik yang meluas hingga ke daerah yang cukup jauh dari Gunung Fuji. Material hasil letusan terbawa angin ke arah timur, mencapai Edo, yang merupakan nama lama dari Tokyo, berjarak lebih dari 100 kilometer dari gunung tersebut. Bahkan, abu vulkanik juga tercatat menyebar ke beberapa wilayah lain di bagian tengah Jepang.
Dampaknya tidak hanya terlihat dari pemandangan langit yang dipenuhi abu, tetapi juga mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Endapan material vulkanik menutupi lahan pertanian, merusak tanaman, dan menghambat aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada hasil bumi. Oleh karena itu, erupsi Hoei dikenang bukan hanya karena besarnya letusan, tetapi juga dampak serius yang ditimbulkannya bagi kehidupan masyarakat.
5. Sudah lebih dari 300 tahun tidak meletus, tetapi Gunung Fuji masih aktif

Gunung Fuji (pixabay.com/ThuanJapan) Sejak erupsi Hoei berakhir pada awal 1708, Gunung Fuji belum mengalami letusan lagi hingga sekarang. Jarak waktu yang panjang ini mungkin membuat sebagian orang mengira gunung tersebut sudah tidak aktif. Padahal, tidak adanya letusan selama ratusan tahun bukan berarti aktivitas vulkaniknya telah berhenti.
Meski sudah ratusan tahun tidak meletus, Gunung Fuji masih tergolong gunung berapi aktif dan terus dipantau oleh para ahli di Jepang. Pemantauan ini dilakukan dengan mengamati aktivitas gempa, perubahan bentuk permukaan gunung, hingga kondisi di sekitarnya. Nah, meskipun terlihat tenang dari kejauhan, bukan berarti Gunung Fuji sudah sepenuhnya bebas dari aktivitas vulkanik.
Sejarah letusan Hoei pada 1707 menjadi pengingat bahwa Gunung Fuji bukan sekadar ikon wisata Jepang, tetapi juga gunung berapi aktif dengan riwayat erupsi yang panjang. Meski sudah lebih dari 300 tahun tidak meletus, aktivitasnya tetap dipantau untuk mengantisipasi kemungkinan erupsi di masa mendatang. Jadi, di balik keindahannya, Gunung Fuji menyimpan sisi alam yang menarik untuk dikenali sekaligus diwaspadai.






















![[QUIZ] Pilih Gunung Ijen atau Gunung Fuji, Ternyata Ini Karakter Aslimu](https://image.idntimes.com/post/20260206/1000227364_87274e90-aec0-4c29-b0ee-b85383de9db0.jpg)