Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Benda Absurd yang Pernah Dibawa NASA ke Luar Angkasa, Apa Saja?
potret stasiun luar angkasa NASA (commons.wikimedia.org/National Aeronautics and Space Administration (Q23548))
  • NASA pernah membawa berbagai benda unik seperti lightsaber, mainan dinosaurus, Lego, hingga Buzz Lightyear ke luar angkasa untuk tujuan edukasi dan komunikasi publik yang lebih menarik.
  • Benda-benda tersebut digunakan sebagai simbol budaya pop sekaligus alat pembelajaran sains agar eksplorasi antariksa terasa lebih dekat dan mudah dipahami oleh masyarakat luas, terutama generasi muda.
  • Fenomena ini menunjukkan perubahan strategi NASA dalam membangun hubungan emosional dengan publik, menampilkan sisi kreatif dan manusiawi di balik misi luar angkasa berteknologi tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketika mendengar kata “misi luar angkasa”, kebanyakan orang langsung membayangkan roket raksasa, ilmuwan jenius, dan teknologi supermahal milik NASA. Semua terlihat sangat serius dan futuristis. Namun di balik citra formal tersebut, dunia antariksa ternyata menyimpan banyak cerita nyeleneh yang jarang diketahui publik. Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA) ternyata pernah membawa benda-benda absurd ke orbit Bumi. Mulai dari mainan, properti film, sampai karakter kartun terkenal. Benda-benda ini benar-benar ikut melayang dalam kondisi mikrogravitasi dan menjadi bagian dari sejarah eksplorasi manusia di luar Bumi.

Meski terdengar seperti candaan di dunia digital, sebagian besar benda unik tersebut sebenarnya punya tujuan tertentu. Ada yang digunakan sebagai alat edukasi, simbol budaya pop, hingga media komunikasi agar dunia sains terasa lebih dekat dengan masyarakat umum. Di era modern, lembaga antariksa sadar bahwa eksplorasi ruang angkasa tidak cukup hanya dipenuhi angka, data, dan eksperimen rumit. Publik juga membutuhkan cerita yang emosional, menyenangkan, dan mudah dipahami. Karena itulah, benda-benda absurd ini justru sering menjadi bagian paling memorable dari sebuah misi antariksa. Yuk, kita simak cerita di balik benda-benda tersebut yang pernah dibawa NASA ke luar angkasa!

1. Lightsaber Star Wars pernah benar-benar diterbangkan NASA

potret lightsaber yang pernah dibawa NASA ke luar angkasa (flickr.com/Lunchbox Photography)

Pada 2007, NASA membuat banyak penggemar sci-fi tercengang setelah benar-benar menerbangkan lightsaber asli dari film Star Wars ke luar angkasa menggunakan pesawat ulang-alik Discovery. Properti ikonik milik Luke Skywalker itu ikut dalam misi sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-30 franchise Star Wars yang sangat legendaris di dunia perfilman.

Benda tersebut sebelumnya diperlakukan layaknya artefak budaya penting. Sebelum masuk ke wahana antariksa, lightsaber sempat dipamerkan dalam seremoni khusus yang dihadiri penggemar, ilmuwan, hingga media internasional. Banyak orang melihat momen itu sebagai simbol “mimpi masa kecil manusia” yang akhirnya bertemu dengan realitas eksplorasi antariksa modern. Dulu, Star Wars hanya dianggap fantasi film, tetapi kini teknologi luar angkasa benar-benar berkembang sangat jauh hingga manusia bisa membawa simbol budaya pop tersebut ke orbit Bumi.

NASA sendiri memahami bahwa budaya populer punya kekuatan besar dalam membangun minat generasi muda terhadap sains. Dengan membawa lightsaber ke luar angkasa, NASA berhasil menarik perhatian jutaan orang yang sebelumnya mungkin tidak terlalu tertarik pada dunia astronomi. Strategi komunikasi seperti ini dianggap sangat efektif karena membuat eksplorasi luar angkasa terasa lebih dekat dan emosional bagi masyarakat umum.

Menariknya lagi, banyak ilmuwan mengakui bahwa film-film sci-fi seperti Star Wars memang berpengaruh besar terhadap generasi insinyur dan astronaut modern. Tidak sedikit ilmuwan NASA yang tumbuh besar sambil membayangkan petualangan luar angkasa ala film tersebut. Jadi, dalam konteks tertentu, membawa lightsaber ke orbit juga seperti bentuk penghormatan terhadap imajinasi manusia yang membantu mendorong perkembangan sains.

2. Mainan dinosaurus ternyata punya fungsi ilmiah di roket

potret boneka yang pernah dibawa NASA ke luar angkasa (flickr.com/NASA Johnson)

Banyak orang pernah melihat boneka dinosaurus kecil melayang di kabin roket dalam video peluncuran modern. Sekilas, benda itu terlihat seperti dekorasi lucu atau sekadar lelucon kru. Namun sebenarnya, mainan tersebut punya fungsi penting sebagai zero gravity indicator atau penanda kondisi tanpa gravitasi.

Ketika roket berhasil mencapai orbit dan memasuki fase mikrogravitasi, boneka itu akan mulai melayang bebas di dalam kabin. Dari situ, astronaut dan penonton di Bumi bisa langsung mengetahui bahwa wahana telah mencapai kondisi nol gravitasi. Dibanding alat teknis rumit, penggunaan mainan kecil justru jauh lebih mudah dipahami publik secara visual.

Penggunaan boneka dinosaurus juga menunjukkan, bagaimana komunikasi sains modern makin mengutamakan pendekatan yang sederhana dan relatable. Dunia antariksa selama puluhan tahun sering dianggap terlalu teknis dan sulit dipahami oleh masyarakat umum. Dengan benda-benda "lucu" seperti ini, peluncuran roket terasa lebih “manusiawi” dan tidak terlalu kaku.

Selain fungsi visual, mainan kecil di kabin juga punya dampak psikologis bagi kru. Peluncuran roket adalah salah satu momen paling menegangkan dalam hidup astronaut. Kehadiran benda ringan dan menghibur bisa membantu mencairkan suasana di tengah tekanan tinggi. Karena itu, tradisi membawa boneka kecil kini semakin umum dalam berbagai misi luar angkasa modern.

3. Lego pernah dipakai untuk demonstrasi sains di orbit

potret Lego yang pernah dibawa NASA ke luar angkasa (commons.wikimedia.org/InSapphoWeTrust)

Lego mungkin identik dengan mainan anak-anak, tetapi benda sederhana ini ternyata pernah menjadi alat edukasi resmi dalam misi luar angkasa. NASA menggunakan Lego sebagai media pembelajaran untuk menjelaskan konsep fisika dan teknik dalam kondisi mikrogravitasi kepada pelajar di seluruh dunia.

Di lingkungan tanpa gravitasi, balok Lego dapat memperlihatkan bagaimana gaya, gerakan, dan struktur bekerja secara berbeda dibandingkan di Bumi. Astronaut menggunakan Lego untuk mendemonstrasikan konsep sederhana, seperti momentum, keseimbangan, dan konstruksi dalam gravitasi nol. Karena bentuknya ringan dan fleksibel, Lego dianggap sangat cocok untuk eksperimen edukasi di orbit.

Yang membuat kolaborasi ini menarik adalah pendekatan komunikasinya. NASA sadar bahwa banyak anak muda merasa takut atau malas belajar sains karena dianggap terlalu sulit. Dengan menggunakan mainan populer seperti Lego, konsep rumit menjadi jauh lebih mudah dipahami dan terasa menyenangkan. Anak-anak bisa melihat bahwa ilmu fisika ternyata tidak selalu membosankan.

Selain itu, Lego juga memiliki nilai simbolik yang kuat. Mainan ini identik dengan kreativitas, eksplorasi, dan membangun sesuatu dari nol. Filosofi tersebut sangat cocok dengan dunia antariksa yang terus mendorong manusia untuk menciptakan teknologi baru dan menjelajahi wilayah yang belum pernah dijangkau sebelumnya.

4. Buzz Lightyear pernah hidup berbulan-bulan di stasiun luar angkasa

potret action figure yang pernah dibawa NASA ke luar angkasa (facebook.com/National Air and Space Museum, Smithsonian Institution)

Karakter Buzz Lightyear dari Toy Story pernah benar-benar dikirim ke luar angkasa dan tinggal selama berbulan-bulan di stasiun luar angkasa (ISS). Action figure tersebut menjadi bagian dari program edukasi yang bertujuan memperkenalkan kehidupan astronaut kepada anak-anak dengan cara yang lebih menyenangkan.

Selama berada di orbit, Buzz Lightyear sering muncul dalam berbagai video edukasi NASA. Figur ini digunakan untuk menunjukkan aktivitas sehari-hari astronaut, mulai dari tidur, makan, hingga bekerja dalam kondisi tanpa gravitasi. Kehadiran karakter kartun membuat penjelasan ilmiah terasa lebih ringan dan mudah dipahami generasi muda.

Pemilihan Buzz Lightyear juga sangat simbolis. Karakter ini terkenal dengan slogan "To infinity and beyond!” Seolah mencerminkan ambisi manusia untuk terus menjelajahi alam semesta. NASA memanfaatkan popularitas karakter tersebut untuk membangun rasa kagum anak-anak terhadap dunia sains dan eksplorasi luar angkasa.

Di sisi lain, momen ini menunjukkan bagaimana batas antara budaya pop dan sains semakin kabur di era modern. Karakter animasi yang awalnya hanya hiburan kini bisa menjadi alat komunikasi ilmiah yang efektif. Pendekatan seperti ini membantu NASA menjangkau audiens yang lebih luas dibandingkan hanya memakai penjelasan teknis biasa.

5. Jam tangan antariksa berubah jadi artefak sejarah

potret jam tangan yang pernah dibawa NASA ke luar angkasa (facebook.com/Giles Smithson)

Di Bumi, jam tangan biasanya hanya dianggap aksesori fesyen atau alat penunjuk waktu biasa. Namun di luar angkasa, benda ini pernah menjadi perlengkapan vital bagi astronaut. Salah satu yang paling terkenal adalah Omega Speedmaster yang digunakan dalam berbagai misi antariksa era Apollo hingga mendapat julukan “Moonwatch”.

Sebelum dipakai astronaut, jam tersebut harus melewati pengujian ekstrem dari NASA. Mulai dari suhu panas dan dingin yang ekstrem, tekanan tinggi, getaran peluncuran roket, hingga kondisi vakum luar angkasa. Tidak banyak perangkat yang mampu bertahan dalam situasi sekeras itu.

Dalam misi luar angkasa, jam tangan bukan sekadar aksesori mewah. Perangkat ini berfungsi sebagai cadangan jika sistem elektronik utama mengalami kerusakan. Dalam kondisi darurat, astronaut tetap membutuhkan alat penunjuk waktu yang akurat untuk menjalankan prosedur keselamatan dan navigasi.

Seiring berjalannya waktu, jam tangan antariksa berubah menjadi simbol sejarah eksplorasi manusia. Banyak kolektor dan pecinta teknologi menganggapnya sebagai artefak budaya modern yang merepresentasikan era kejayaan penjelajahan luar angkasa. Benda kecil di pergelangan tangan itu akhirnya menjadi saksi bisu salah satu pencapaian terbesar manusia di luar Bumi.

Cerita tentang benda-benda absurd di luar angkasa membuktikan bahwa eksplorasi antariksa tidak selalu dipenuhi suasana serius dan dingin. Di balik teknologi canggih dan eksperimen rumit, manusia tetap membawa humor, nostalgia, kreativitas, dan budaya populer ke orbit Bumi. Hal-hal kecil seperti mainan dinosaurus atau karakter kartun justru membuat dunia luar angkasa terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari manusia.

Fenomena ini juga menunjukkan perubahan besar dalam cara lembaga antariksa berkomunikasi dengan publik. NASA kini tidak hanya fokus pada pencapaian ilmiah, tetapi juga berusaha menjaga rasa kagum masyarakat terhadap eksplorasi luar angkasa. Karena pada akhirnya, rasa penasaran terhadap alam semesta sering kali dimulai dari satu benda kecil yang terlihat sederhana, tetapi berhasil memicu imajinasi jutaan orang di seluruh dunia.

Referensi

Collect Space. (2021). “Out of Earth’s ‘shell,’ SpaceX’s Crew-3 reveal turtle as zero-g indicator”. Article. Diakses dari https://www.collectspace.com/news/news-111121a-spacex-crew3-turtle-zero-g-indicator.html

Dunbar, Brian. (2021). “NASA and the LEGO Group: Building Decades of Collaboration”. Article of NASA. Diakses dari https://www.nasa.gov/humans-in-space/nasa-and-the-lego-group-building-decades-of-collaboration/

Levasseur, Jennifer. (2025). “Space Time Technology”. Article of National Air and Space Museum. Diakses dari https://airandspace.si.edu/stories/editorial/space-time-technology

Maksel, Rebecca. (2015). “The Watches That Went to the Moon”. Article in Air & Space Magazine of Smithsonian Magazine. Diakses dari https://www.smithsonianmag.com/air-space-magazine/space-timekeepers-180957295/

NASA. (2021). “Oleg Novitskiy of Roscosmos holds up zero-G indicator”. Image Article. Diakses dari https://www.nasa.gov/image-article/oleg-novitskiy-of-roscosmos-holds-up-zero-g-indicator/

NASA. (2023). “A Well-traveled Beagle”. Image Article. Diakses dari https://www.nasa.gov/image-article/well-traveled-beagle/

Pearlman, R. Z. (2007). “NASA Shuttle to Launch Luke Skywalker’s Lightsaber”. News in Launches & Spacecraft/Space Exploration of Space.com. Diakses dari https://www.space.com/4283-nasa-shuttle-launch-luke-skywalker-lightsaber.html

Pearlman, R. Z. (2012). “Disney Donates Space-Flown Buzz Lightyear Toy to Smithsonian”. Article in Entertainment/Space Toys & Lego of Space.com. Diakses dari https://www.space.com/15106-buzz-lightyear-space-toy-smithsonian.html

Rao, Rahul. (2024). “Lego-inspired ‘space bricks’ could help scientists design moon habitats. Here’s how”. News in Solar System & The moon in Space.com. Diakses dari https://www.space.com/esa-lego-bricks-moon-habitats

Shen, Aviva. (2012). “Buzz Lightyear: To Infinity, And the Air and Space Museum”. Article of Smithsonian Magazine. Diakses dari https://www.smithsonianmag.com/smithsonian-institution/buzz-lightyear-to-infinity-and-the-air-and-space-museum-167687292/

Spalding, Katie. (2024). “Luke Skywalker’s Lightsaber Has Really Been To Space”. Article of IFLScience. Diakses dari https://www.iflscience.com/luke-skywalkers-lightsaber-has-really-been-to-space-72995

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article