6 Menu Makanan Astronaut NASA yang Aneh tapi Ilmiah, Roti Dilarang!

- NASA melarang roti dan makanan berremah di luar angkasa karena bisa membahayakan peralatan, menggantinya dengan tortilla yang lebih aman dan tahan lama untuk misi jangka panjang.
- Astronaut menyukai makanan pedas seperti udang koktail karena perubahan tekanan tubuh membuat rasa berkurang, sementara bumbu cair diciptakan agar aman digunakan tanpa partikel beterbangan.
- Beragam inovasi seperti mesin kopi ISSpresso hingga larangan soda menunjukkan bahwa makanan luar angkasa dirancang ilmiah demi keamanan, kenyamanan psikologis, dan efisiensi hidup di mikrogravitasi.
Makan di luar angkasa ternyata gak sesederhana membuka kotak bekal lalu menyantap makanan favorit. Di lingkungan tanpa gravitasi, remah kecil dari roti saja bisa berubah menjadi ancaman serius bagi panel elektronik bernilai jutaan dolar di NASA maupun stasiun luar angkasa internasional. Karena itulah para astronaut harus mengikuti aturan makan yang sangat ketat dan terkadang terdengar absurd bagi orang biasa di Bumi. Banyak makanan populer, seperti roti tawar, nasi pera, hingga minuman bersoda justru dihindari karena bisa menimbulkan masalah teknis di stasiun luar angkasa.
Namun di balik semua keterbatasan itu, ilmuwan pangan NASA justru menciptakan berbagai menu unik yang terdengar aneh tetapi punya alasan ilmiah kuat. Mulai dari tortila antigravitasi, kopi espreso luar angkasa, sampai udang koktail super pedas yang jadi favorit astronaut. Semuanya dirancang agar aman dimakan dalam kondisi mikrogravitasi. Beberapa menu bahkan dibuat khusus untuk menjaga kesehatan mental astronaut selama berbulan-bulan hidup jauh dari Bumi. Jadi, jangan bayangkan makanan astronaut hanya berupa pasta hambar dalam tube seperti film-film lawas, ya. Yuk, kita simak apa saja menu makanan luar angkasa yang bisa disantap sang astronaut!
1. Tortila jadi pengganti roti resmi astronaut

Roti mungkin terlihat sederhana di Bumi, tetapi di luar angkasa makanan ini justru dianggap berbahaya. Saat digigit, remah-remah roti dapat melayang bebas di kabin dan berpotensi masuk ke ventilasi, panel elektronik, atau bahkan mata astronaut. Karena alasan itulah NASA perlahan mengganti roti dengan tortilla sejak era misi pesawat ulang-alik pada 1980-an. Referensi mengenai penggunaan tortilla ini banyak dijelaskan oleh NASA Food Systems Laboratory dan arsip menu astronaut NASA.
Tortila dipilih karena teksturnya lebih padat dan tidak menghasilkan banyak serpihan. Selain praktis, tortila juga tahan lebih lama dibanding roti biasa sehingga cocok untuk misi luar angkasa jangka panjang. Astronaut dapat mengisinya dengan telur, daging, kacang, hingga selai kacang tanpa khawatir makanan berhamburan ke mana-mana di gravitasi nol.
Menariknya lagi, tortila kini menjadi salah satu ikon budaya makan astronaut modern. Banyak kru ISS (stasiun luar angkasa internasional) bahkan mengaku lebih nyaman menggunakan tortila untuk hampir semua menu—mulai dari sarapan sampai makan malam. Hal ini menunjukkan bagaimana kebutuhan teknis di luar angkasa bisa mengubah kebiasaan makan manusia secara drastis.
2. Udang koktail pedas jadi favorit di luar angkasa

Salah satu makanan paling terkenal di kalangan astronaut ternyata adalah shrimp cocktail atau udang koktail pedas. Menu ini terdengar biasa saja di Bumi, tetapi di luar angkasa makanan pedas justru terasa jauh lebih nikmat. Menurut berbagai wawancara astronaut NASA dan laporan European Space Agency, kondisi mikrogravitasi membuat cairan tubuh naik ke kepala sehingga hidung terasa mampet seperti sedang flu ringan.
Akibatnya, kemampuan mengecap rasa menjadi menurun dan makanan terasa hambar. Karena itulah astronaut cenderung menyukai saus pedas, sambal, atau makanan berbumbu kuat. Udang koktail NASA terkenal, karena sausnya memiliki rasa horseradish yang tajam dan menyengat. Itulah yang membuat astronaut tetap bisa menikmati sensasi rasa, meski berada di orbit.
Beberapa astronaut bahkan membawa saus pedas favorit mereka sendiri ke ISS (stasiun luar angkasa internasional). Ada yang membawa sambal khas negara asal, ada pula yang meminta stok saus ekstra sebelum peluncuran. Kebiasaan ini memperlihatkan bahwa makanan bukan cuma soal nutrisi, tetapi juga cara menjaga kenyamanan psikologis selama hidup terisolasi di luar angkasa.
3. Garam dan lada harus berbentuk cair

Di Bumi, kita tinggal menaburkan garam atau lada ke makanan. Namun di luar angkasa, butiran kecil bumbu dapat melayang dan mengotori sistem kabin. NASA akhirnya mengembangkan garam cair dan lada cair agar lebih aman digunakan astronaut selama makan di stasiun luar angkasa ISS.
Larutan bumbu ini biasanya disimpan dalam botol kecil khusus. Astronaut tinggal meneteskan cairan tersebut ke makanan mereka tanpa risiko partikel beterbangan. Sistem sederhana ini ternyata sangat penting karena partikel kecil di lingkungan mikrogravitasi bisa masuk ke filter udara atau perangkat sensitif lainnya.
Selain aman, metode ini juga membantu menjaga kebersihan area makan astronaut. Dalam lingkungan tertutup seperti ISS, menjaga kebersihan adalah prioritas utama karena debu dan serpihan kecil tidak akan jatuh ke lantai seperti di Bumi. Semua benda bisa terus melayang sampai tersedot sistem ventilasi.
4. NASA punya mesin espreso khusus luar angkasa

Bagi sebagian orang, kopi adalah kebutuhan hidup, termasuk bagi astronaut. Karena itulah pada 2015 hadir mesin espreso khusus bernama ISSpresso di stasiun luar angkasa ISS. Mesin ini dikembangkan oleh perusahaan Italia bekerja sama dengan badan antariksa untuk memungkinkan astronaut menikmati espreso asli di angkas
Mesin ini sangat berbeda dari mesin kopi biasa di Bumi karena harus bekerja dalam kondisi tanpa gravitasi dan tekanan ekstrem. Sistem cairannya dirancang khusus agar kopi panas tidak bocor atau berubah menjadi gelembung berbahaya di kabin. Bahkan kantong minumnya dibuat tertutup agar cairan tidak melayang ke mana-mana.
Kehadiran ISSpresso dianggap penting bukan hanya untuk kafein, tetapi juga moral kru. Secangkir kopi hangat bisa membantu astronaut merasa lebih rileks dan “dekat dengan rumah” selama menjalani misi panjang. Teknologi ini memperlihatkan bahwa aspek psikologis sangat diperhatikan dalam eksplorasi luar angkasa modern.
5. Es krim astronaut ternyata bukan makanan favorit

Banyak orang mengenal freeze-dried ice cream atau es krim kering astronaut dari museum sains dan toko suvenir luar angkasa. Namun kenyataannya, makanan ini jarang dimakan astronaut modern. Menurut arsip NASA, es krim kering lebih populer sebagai produk edukasi publik dibanding menu utama di orbit.
Tekstur makanan ini sangat rapuh dan mudah menghasilkan serpihan kecil yang dapat beterbangan di kabin. Selain itu, rasanya dianggap kurang memuaskan dibanding makanan modern yang kini tersedia di stasiun luar angkasa ISS. Astronaut saat ini lebih memilih menu segar atau makanan dengan rasa kuat dibanding camilan kering seperti itu.
Meski begitu, es krim astronaut tetap menjadi simbol budaya pop eksplorasi luar angkasa. Banyak anak-anak mengenal dunia antariksa pertama kali melalui makanan unik ini. Jadi walaupun kurang populer di orbit, reputasinya di Bumi tetap sangat besar.
6. Minuman bersoda sulit diminum di luar angkasa

Minuman bersoda mungkin terdengar menyegarkan, tetapi di luar angkasa minuman ini justru bisa menjadi masalah besar. Dalam kondisi gravitasi nol, gas tidak terpisah dari cairan seperti di Bumi. Akibatnya, gelembung soda tetap bercampur dalam perut dan menyebabkan sensasi tidak nyaman yang dikenal sebagai “wet burp”.
Karena tidak ada gravitasi, gas dan cairan dari lambung bisa keluar bersamaan saat bersendawa. Situasi ini tentu sangat tidak menyenangkan bagi astronaut yang hidup di ruang sempit selama berbulan-bulan. Itulah sebabnya minuman berkarbonasi jarang tersedia di stasiun luar angkasa ISS.
NASA sebenarnya pernah bereksperimen dengan soda luar angkasa pada masa lalu, tetapi hasilnya kurang memuaskan. Sampai sekarang, air, kopi, teh, dan minuman elektrolit tetap menjadi pilihan utama astronaut selama menjalani misi di orbit.
Makanan astronaut mungkin terlihat aneh, tetapi semuanya lahir dari kebutuhan ilmiah yang sangat serius. Dalam kondisi mikrogravitasi, hal kecil seperti remah roti atau gelembung soda bisa berubah menjadi ancaman bagi keselamatan kru dan peralatan mahal di stasiun luar angkasa. Karena itu, para ilmuwan NASA harus memikirkan detail makanan hingga level yang jarang terpikirkan oleh manusia di Bumi.
Di sisi lain, menu-menu unik ini juga menunjukkan bahwa eksplorasi luar angkasa bukan hanya soal roket dan teknologi canggih. Ada aspek manusiawi yang tetap dijaga, mulai dari kenyamanan psikologis, rasa rindu rumah, hingga kebiasaan menikmati secangkir kopi hangat. Jadi, di balik kecanggihan dunia antariksa, astronaut ternyata tetap manusia biasa yang ingin makan enak meski sedang mengorbit ribuan kilometer di atas Bumi.

![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tebak Seberapa Langka Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20250526/img-20250524-171040-59d926335e45a3f62b89089b95e5200f.jpg)

















