Walaupun sama-sama bisa menyala dalam gelap, tapi keduanya memiliki mekanisme yang berbeda. Hal inilah yang membuat peneliti semakin tertarik, seperti apa bioflourenscence pada salamander dan amfibi terjadi. Kalau tertarik untuk tahu juga, yuk baca artikel sampai habis ya.
Biofluorescence Pada Salamander dan Amfibi, Bercahaya dalam Gelap

- Biofluorescence adalah pancaran cahaya dari organisme hidup yang menyerap dan memantulkan kembali cahaya sekitar dengan warna berbeda tanpa reaksi kimia internal.
- Berbeda dari bioluminescence yang menghasilkan cahaya lewat reaksi kimia, biofluorescence membutuhkan sumber cahaya eksternal seperti sinar matahari untuk menampilkan kilau warnanya.
- Penelitian tahun 2020 oleh Jennifer Lamb dan Matthew Davis menemukan salamander serta katak mampu bercahaya hijau atau kekuningan, berfungsi untuk komunikasi, kamuflase, dan perlindungan dari predator.
Dunia satwa ternyata masih menyimpan beragam rahasia yang bisa dieksplor lebih dalam. Termasuk kelompok amfibi seperti salamander dan katak yang ternyata bisa terang dalam gelap melalui mekanisme bioflourenscence. Fenomena ini mengejutkan para peneliti karena sebelumnya hanya mengenal bioluminescence pada hewan laut.
1. Biofluorescence merupakan pancaran cahaya

Dikutip dari Science News Explores, bioflourenscence adalah cahaya yang dipancarkan dari organisme hidup. Cahaya yang dipancarkan bukan berasal dari reaksi kimia yang dihasilkan oleh tubuh organisme. Melainkan jaringan pada tubuh organisme menyerap cahaya warna yang ada di sekitar yang kemudian dilepaskan dengan cahaya yang lebih rendah.
Berdasarkan Museum Victoria, menjelaskan bahwa organisme tersebut akan menyerap cahaya matahari yang kemudian dipancarkan dengan warna berbeda. Warna tersebut bisa hijau, oranye ataupun merah. Walaupun cahaya yang dipancarkan lebih rendah, tetap saja dapat memukau siapapun yang melihatnya.
2. Perbedaan biofluorescence dan bioluminescence

Selain bioflourenscence, adapula fenomena bioluminescence yang juga dialami oleh hewan. Dikutip dari Museum Victoria, lumen berarti cahaya. Sedangkan bioluminescence adalah reaksi kimia dari dua molekul yaitu luciferin sebagai substrat dan luciferase sebagai enzim yang menghasilkan cahaya pada hewan dan tumbuhan.
Perbedaan pada biofluorescence dan bioilumanses terletak pada pengaruh cahaya eksternal. Kalau bioluminescence tidak terpengaruh oleh sinar matahari dan tidak menghasilkan panas. Sedangkan biofluorescence membutuhkan cahaya atau sinar matahari untuk memancarkan cahaya dari tubuh organisme.
3. Hewan yang glow in the dark

Beda mekanisme, berbeda pula hewan yang dapat melakukannya. Mekanisme bioluminescence banyak dialami oleh hewan laut seperti ikan angler, ubur-ubur ataupun udang. Tujuan ikan angler memancarkan cahaya adalah untuk memikat dan menakuti mangsanya. Sedangkan beberapa jenis udang di laut dalam ‘memuntahkan’ cahayanya dengan tujuan membutakan predator.
Sedangkan mekanisme biofluorescence, dialami oleh hewan laut dan darat. Ikan dan karang bisa memancarkan cahaya biru, hijau ataupun merah pada cahaya tertentu. Sedangkan hewan darat yang bisa memancarkan cahaya dengan mekanisme biofluorescence adalah penguin dan burung beo.
4. Salamander dan katak bisa bercahaya

Namun pada tahun 2020, peneliti berhasil menemukan bahwa mekanisme biofluorescence juga dialami oleh salamander dan amfibi. Dikutip dari Science News Explores, ahli biologi yang menemukan adalah Jennifer Lamb dan Matthew Davis. Keduanya melakukan penelitian dengan menyinari 32 spesies amfibi termasuk salamander dan katak dengan menggunakan cahaya biru atau ultraviolet.
Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa hewan yang diuji beberapa mengeluarkan warna hijau dan lainnya berwarna kekuningan setelah disinari warna biru. Bagian tubuh yang memancarkan cahaya juga berbeda-beda. Misalnya pada salamander harimau timur memancarkan bintik kuning pada tubuh. Sedangkan salamander marmer memancarkan cahaya pada bagian bawah tubuh dan tulang.
5. Guna bioflourenses pada amfibi

Lalu untuk apa amfibi mengeluarkan cahaya? Pada amfibi termasuk salamander dan katak, bioflourenses sangat penting untuk komunikasi antar spesies. Cahaya yang dipancarkan merupakan sinyal apa yang terjadi di lingkungan mereka. Selain itu, bioflourenses juga penting untuk menangkal predator ataupun melakukan kamuflase.
Sedangkan untuk manusia terutama peneliti, hal ini menunjukkan bahwa masih banyak fenomena yang masih tersembunyi. Penemuan ini membuktikan bahwa penelitian paa satwa harus terus dilakukan dengan cermat. Mungkin di masa depan, zat ini bisa digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan manusia.
Itu adalah hal-hal menarik tentang biofluorescence pada salamander dan katak. Tak hanya itu, pertanyaan perbedaan bioflourences dan bioluminescence juga sudah terjawab. Sudah gak penasaran lagi kan?
Referensi
“Lots of Frogs and salamanders have a secret glow”. Science News Explores. Diakses Juni 2026.
“Biofluorescence in Amphibians”. Save the Frogs. Diakses Juni 2026.
“Glowing animals: understanding bioluminescence and biofluorescence”. Museum Victoria. Diakses Juni 2026.


















