Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Wandering Salamander, Amfibi Unik yang Jago Terjun Payung!

5 Fakta Wandering Salamander, Amfibi Unik yang Jago Terjun Payung!
Salamander pengembara (commons.wikimedia.org/Gary Nafis)
Intinya Sih
  • Wandering salamander hidup di kanopi pohon redwood setinggi lebih dari 90 meter dan jarang menyentuh tanah, menjadikannya amfibi arboreal sejati.
  • Spesies ini bernapas tanpa paru-paru melalui kulit lembapnya yang terbantu oleh kabut di hutan redwood, menjaga kelembapan tubuh agar tetap bisa bertahan hidup.
  • Saat jatuh dari ketinggian, wandering salamander mampu meluncur dan bermanuver di udara layaknya penerjun payung untuk kembali ke batang pohon terdekat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Umumnya kita menjumpai salamander hidup di tanah lembap atau dekat air. Namun, berbeda dengan spesies unik satu ini. Kenalin, dia adalah wandering salamander (Aneides vagrans), amfibi yang justru lebih suka hidup di atas pohon.

Berasal dari hutan redwood Amerika Utara, salamander ini memiliki kemampuan luar biasa untuk meluncur di udara layaknya penerjun payung profesional.  Penasaran seunik apa penduduk langit yang satu ini? Yuk, langsung saja simak lima fakta menariknya berikut ini!

1. Hidup di kanopi pohon redwood yang super tinggi

Pepohonan redwood yang tinggi menjadi tempat tinggal salamander pengembara
Pepohonan redwood yang tinggi menjadi tempat tinggal salamander pengembara (commons.wikimedia.org/Library of Congress Life)

Wandering salamander adalah hewan arboreal yang benar-benar bergantung pada pohon. Habitat utamanya adalah pohon redwood yang terkenal sebagai salah satu pohon tertinggi di dunia. Bayangkan saja, salamander mungil ini bisa tinggal di ketinggian lebih dari 90 meter di atas permukaan tanah!

Banyak individu yang diketahui menetap di satu pohon yang sama selama bertahun-tahun. Mereka hanya berpindah naik turun di antara cabang besar tanpa pernah menyentuh tanah. Bagi mereka, satu pohon raksasa sudah menyediakan segalanya.

2. Bertahan hidup tanpa paru-paru

Salamander pengembara
Salamander pengembara (commons.wikimedia.org/Gary Nafis)

Ada satu fakta unik yang jarang diketahui dari salamander ini. Dilansir California Herps, wandering salamander tidak memiliki paru-paru, lho! Lalu, bagaimana ia bernapas di ketinggian yang berangin? Ternyata, ia melakukan pertukaran oksigen sepenuhnya melalui kulit dan lapisan mulut yang lembap.

Oleh karena itu, wandering salamander sangat menyukai kanopi redwood yang sering tertutup kabut. Kelembapan dari kabut ini menjaga kulitnya tetap basah, sehingga ia bisa terus bernapas dengan lancar meski jauh dari sumber air di daratan.

3. Ahli terjun payung yang bisa bermanuver di udara

Hidup di ketinggian ekstrem tentu punya risiko jatuh. Namun, bagi salamander ini, jatuh bukanlah masalah besar. Saat terjatuh atau melompat dari dahan, ia akan langsung merentangkan kaki dan tubuhnya untuk menciptakan gaya hambat, persis seperti penerjun payung yang sedang beraksi.

Hebatnya lagi, ia bukan sekadar jatuh bebas. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti Christian Brown dalam jurnal Current Biology, salamander ini bisa bermanuver di udara untuk kembali ke batang pohon terdekat. Kemampuan ini memastikannya tidak sampai jatuh ke lantai hutan yang penuh predator.

4. Tubuhnya dirancang khusus untuk memanjat pohon

Salamander pengembara
Salamander pengembara (commons.wikimedia.org/Gary Nafis)

Meskipun ukurannya mungil, hanya sekitar 7 hingga 13 cm, wandering salamander memiliki tubuh yang sangat atletis. Ia memiliki jari-jari kaki panjang dengan ujung berbentuk kotak yang membantu mencengkeram permukaan kulit pohon kasar dengan sangat kuat.

Selain kaki, ia juga memiliki ekor prehensil. Ekor ini berfungsi seperti tangan kelima baginya. Ekornya bisa melilit dahan kecil untuk menambah kestabilan saat ia bergerak di area yang sempit dan tinggi. Benar-benar seorang pendaki yang andal!

5. Siklus hidup mandiri tanpa perlu ke air

Salamander pengembara
Salamander pengembara (inaturalist.org/Randal)

Berbeda dengan kebanyakan amfibi yang harus kembali ke air untuk bertelur, wandering salamander sepenuhnya melakukan reproduksi di darat, lebih tepatnya di atas pohon. Induk betina biasanya meletakkan telur di tumpukkan lumut lembap yang menggantung di dahan atau di celah kulit kayu.

Telur-telur ini mengalami perkembangan langsung tanpa fase larva (berudu). Jadi, saat menetas yang keluar adalah miniatur salamander dewasa yang sudah siap beraksi. Strategi ini membuatnya tidak perlu turun ke kolam atau sungai sepanjang hidupnya.

Nah, itulah lima fakta menarik wandering salamander yang sangat menakjubkan. Kemampuannya hidup di ketinggian ekstrem hingga kemampuan meluncur di udara, semuanya menunjukkan betapa uniknya spesies ini. Semoga informasi ini bisa menambah wawasan kamu tentang dunia hewan yang penuh kejutan. Jangan bosan untuk terus membaca ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More