"Oleh karena itu, kami merekomendasikan petani menyeleksi benih dengan memilih umbi berukuran besar atau sedang untuk ditanam,” ujar Joko yang dikutip dari situs resmi.
Bawang Merah Brebes Dikepung Residu Pestisida, BRIN Siapkan Solusi

- BRIN menemukan residu pestisida, termasuk jenis yang telah lama dilarang, masih terdeteksi pada tanah dan tanaman bawang merah di Brebes; kandungan bahan organik tanah juga rendah.
- Penggunaan benih umbi besar atau sedang serta kerodong rapat direkomendasikan; kerodong menurunkan penyemprotan pestisida hingga 50 persen dan meningkatkan produktivitas dari 9,4 menjadi 16,6 ton per hektare.
- BRIN mengusulkan jagung sebagai border, solarisasi lahan, biochar, bahan organik terfermentasi, dolomit, serta irigasi tetes-pemupukan untuk pengendalian hama, pemulihan tanah, dan budidaya berkelanjutan.
Dalam upaya meningkatkan produktivitas bawang merah sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida, periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menguji solusi praktis untuk mewujudkan budidaya bawang merah yang lebih efisien, sehat dan berkelanjutan.
Joko Pramono, peneliti dari Pusat Riset Holtikultura BRIN, memaparkan hasil riset budidaya bawang merah yang telah ia dan tim lakukan selama empat tahun terakhir.
Dianjurkan petani seleksi benih
Pada tahun pertama, peneliti menemukan bahwa penggunaan benih berupa umbi berukuran besar mampu menghasilkan panen lebih tinggi dibandingkan umbi berukuran sedang maupun kecil.
Pada tahun kedua, tim mengembangkan teknologi penggunaan kerodong (netting house) sebagai pelindung tanaman untuk mengendalikan hama.
Hasil penelitian menunjukkan teknologi ini mampu mengurangi frekuensi penyemprotan pestisida hingga 50 persen sekaligus meningkatkan produktivitas dari sekitar 9,4 ton/ha menjadi 16,6 ton/ha. Mereka juga berhasil menekan serangan ulat daun (Spodoptera exigua), menghemat biaya pembelian insektisida.
Penelitian dilanjutkan setelah panen

Pada tahun ketiga, tim menguji sistem tumpangsari bawang merah dengan jagung. Meskipun cara ini berhasil menekan serangan hama ulat daun tetapi hasil panen bawang merah justru menurun, karena efek naungan.
“Berdasarkan temuan tersebut, kami merekomendasikan petani menanam jagung sebagai border atau tanaman pembatas di sekeliling lahan minimal 2 minggu sebelum tanam bawang merah, agar pengendalian hama tetap efektif tanpa mengurangi produktivitas bawang merah,” jelas Joko.
Pada tahun keempat tim melanjutkan penelitian melalui penerapan solarisasi lahan dan penggunaan biochar. Pengamatan sementara menunjukkan metode ini mampu menekan penyakit yang disebabkan jamur dan bakteri.
Peneliti akan mengevaluasi dampaknya setelah panen yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Agustus 2026.
Kesuksesan bergantung cara penggunaan kerodong
Periset Pusat Riset Holtikultura BRIN Rini Murtiningsih menjelaskan bahwa keberhasilan penggunaan kerodong sangat bergantung pada cara penggunaannya.
“Kerodong harus menutup rapat pertanaman, agar ngengat tidak dapat masuk. Selain itu, penggunaan kerodong dengan lubang lebih rapat dapat menghambat masuknya hama berukuran kecil,” terangnya.
Meskipun investasi awal relatif tinggi, alat tersebut dapat digunakan enam sampai sepuluh musim tanam, tergantung pemeliharaan di lapangan. Sistem penyewaan kerodong melalui kelompok tani dapat menjadi solusi agar teknologi ini semakin mudah diakses petani.
Rini juga menjelaskan tentang teknik irigasi tetes yang dipadukan dengan pemupukan yang efisien, dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas bawang merah.
Rekomendasi yang dikeluarkan BRIN

Terkait residu pestisida dan kondisi bahan organik tanah di sentra bawang merah Brebes, penelitian menunjukkan bahwa residu dari beberapa jenis pestisida yang telah lama dilarang masih terdeteksi di dalam tanah. Selain itu, hampir seluruh lokasi survei juga menunjukkan adanya residu pestisida pada tanaman.
“Temuan tersebut menjadi pengingat penting bahwa pemulihan kualitas tanah harus menjadi bagian dari sistem budidaya bawang merah berkelanjutan,” imbuhnya.
Kandungan bahan organik tanah di Brebes saat ini masih tergolong rendah sehingga diperlukan upaya pemulihan secara bertahap melalui penambahan bahan organik yang telah terfermentasi sempurna serta pengelolaan pH tanah menggunakan dolomit agar kesuburan tanah dapat kembali meningkat.
Melalui rangkaian penelitian, BRIN tidak hanya menghasilkan inovasi di laboratorium, tetapi juga menghadirkan solusi yang telah dibuktikan langsung di lahan petani.
Berbagai rekomendasi yang dihasilkan diharapkan mampu membantu petani meningkatkan produktivitas bawang merah, mengurangi penggunaan pestisida, menjaga kesehatan lingkungan serta mendukung terwujudnya pertanian yang lebih berkelanjutan di Indonesia.




















![[QUIZ] Dari Jenis Migrasi Hewan Favoritmu, Ini Caramu Tentukan Arah Hidup](https://image.idntimes.com/post/20230901/img-2023-09-01-11-01-30-24461adf318192c5d56a40c3032d745e-6691ada23f109d51865dc21b3c12ffdf.png)
