Bagaimana Burung Tahu Kapan Badai Datang?

- Burung mendeteksi perubahan udara sekitar mereka, seperti penurunan barometric pressure yang membuat tubuh terasa lebih berat.
- Sistem pendengaran burung menangkap suara frekuensi rendah dari angin kuat maupun petir jauh, sehingga burung berhenti berkicau dan menyembunyikan diri.
- Awan, angin, serta cahaya menjadi petunjuk visual bagi burung, yang juga mengandalkan memori rute dan sinyal fisik dari bulu serta tubuh untuk mengantisipasi cuaca buruk.
Burung hidup dekat cuaca sehingga perubahan kecil terasa jelas di tubuh serta indranya. Banyak burung memanfaatkan lingkungan sebagai penanda alami untuk bersiap sebelum awan gelap muncul.
Perilaku itu terlihat pada migrasi, terbang rendah, maupun memilih tempat berteduh lebih awal. Pengamatan tersebut menyita rasa ingin tahu, terutama ketika badai belum kelihatan oleh mata manusia. Berikut penjelasan lebih rinci tentang bagaimana burung tahu kapan badai datang.
1. Burung mendeteksi perubahan udara sekitar mereka

Burung peka terhadap barometric pressure rendah. Penurunan mendadak membuat tubuh terasa lebih berat ketika mengepak sayap, seolah udara menahan gerakan mereka sehingga terbang terasa kurang nyaman. Sensasi itu muncul jauh sebelum awan badai terlihat di langit sehingga burung mampu memutuskan untuk tidak terbang jauh. Tubuh burung tidak memerlukan alat bantu apa pun karena bagian dalam telinga peka terhadap tekanan sehingga sinyal itu langsung diterjemahkan sebagai peringatan.
Langkah berikutnya biasanya berupa berteduh lebih cepat, bergerak menuju pepohonan rapat maupun celah bangunan. Burung kecil seperti pipit sering terlihat berkumpul lebih banyak dalam satu pohon ketika tekanan turun, seolah seluruh kelompok membaca pesan lingkungan yang sama. Mereka memilih berhenti mencari makan lalu menunggu sampai cuaca lewat.
2. Sistem pendengaran burung menangkap suara frekuensi rendah

Burung memiliki rentang pendengaran lebih luas dibanding banyak mamalia. Gelombang suara frekuensi rendah dari angin kuat maupun petir jauh cukup terdengar oleh burung walau belum sampai ke wilayah mereka. Suara itu menyusup lewat udara dan bumi sehingga burung mampu mendengarnya sebagai gumaman samar.
Saat gelombang rendah makin kuat, burung berhenti berkicau lalu memilih menyembunyikan diri. Kawanan gagak sering berdiam di ranting rendah sebelum badai besar karena suara jauh memberi sinyal cuaca memburuk. Kondisi itu membuat burung terasa lebih selamat sebab mereka sudah terlindungi ketika hujan deras tiba.
3. Awan, angin, serta cahaya jadi petunjuk visual

Mata burung tajam sehingga perubahan halus di langit mudah terlihat. Warna abu pekat, kilau kehijauan sebelum badai besar, serta gerak awan kasar terbaca seperti catatan penting. Burung memerhatikan perubahan arah angin melalui lapisan bulu yang terasa tersibak. Sensasi kasar pada bulu ekor menandai angin kencang segera tiba sehingga burung menurunkan ketinggian terbang.
Mereka menunggu langit cerah sebelum menyeberang pulau atau teluk agar tenaga tidak terbuang sia-sia. Banyak elang mengurungkan penerbangan tinggi ketika cahaya matahari mulai tertutup awan besar. Kemampuan membaca langit seperti itu muncul dari pengulangan pengalaman selama ribuan generasi.
4. Memori rute meningkatkan peluang selamat

Burung mengandalkan ingatan untuk memilih lokasi aman ketika badai. Kawasan tertentu pernah menyelamatkan mereka pada musim sebelumnya sehingga tempat sama dicari kembali. Burung laut seperti albatross memilih menjauhi pusat samudra lalu kembali ke pulau ketika langit terlebih dahulu memperlihatkan sinyal buruk. Ingatan tersebut bukan teori rumit melainkan hasil pengalaman karena burung yang selamat jelas mewariskan perilaku efisien itu.
Keuntungan memori terlihat jelas pada burung pemukim. Mereka hafal pohon lebih kokoh, celah atap, maupun semak rapat sehingga perpindahan menuju tempat aman berlangsung cepat. Kawasan rawan diterjang angin dihindari tanpa perlu penjelasan panjang. Cara sederhana ini cukup efektif karena keputusan cepat sering memutus kemungkinan terjebak hujan deras.
5. Bulu serta tubuh memberi sinyal fisik

Burung merasakan lembap meningkat sebelum badai. Kelembapan tinggi membuat bulu terasa lebih berat sehingga kecepatan terbang menurun. Tubuh burung menyesuaikan langkah makan sebab serangga maupun biji sulit diperoleh ketika hujan datang.
Peningkatan kelekatan bulu juga mendorong burung merapikan bulu lebih lama. Mereka memastikan permukaan bulu tetap rapi agar air tidak meresap terlalu cepat ketika hujan pertama turun. Aktivitas itu sering terlihat berkelompok karena akhir sore menjelang badai merupakan waktu paling umum untuk merawat bulu.
Burung tahu kapan badai datang berkat gabungan pengindraan tubuh, langit, angin, suara, serta memori untuk mengantisipasi cuaca buruk. Keunggulan itu membuat perilaku burung tampak seperti ramalan cuaca alami yang kerap lebih cepat daripada alat. Bukankah menarik membayangkan seberapa banyak rahasia cuaca lain yang masih tersembunyi di balik sayap mereka?
Referensi:
"Can Birds Tell When A Storm is Coming?" Birds Watcher's General Store. Diakses pada Januari 2026
"Can Birds Predict Storms?" Birds Spot. Diakses pada Januari 2026
"Science of Winter: Birds know in advance when a winter storm is coming" Ottawa Citizen. Diakses pada Januari 2026
"Bird Behavior Before Thunderstorms: Nature’s Most Accurate Forecast" BirdWatching. Diakses pada Januari 2026


















