Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gak Cuma Ngadem, Ini 5 Cara Unik Hewan Hadapi Heatwave!
ilustrasi hewan saat heatwave (unsplash.com/Kaylin Pacheco)
  • Beragam hewan punya adaptasi unik untuk menghadapi heatwave, mulai dari perilaku fisik hingga mekanisme biologis yang membantu menurunkan suhu tubuh mereka di kondisi ekstrem.

  • Koala memeluk batang pohon dingin, semut perak sahara memakai rambut reflektif, dan burung finch zebra menghasilkan air dari lemak tubuhnya untuk bertahan tanpa dehidrasi.

  • Kuda nil melindungi kulit dengan cairan berminyak berpigmen alami, sedangkan turkey vulture mendinginkan diri lewat urohidrosis yang juga menjaga kebersihan kakinya.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat gelombang panas atau heatwave melanda, kita sebagai manusia mungkin bisa langsung ke ruangan ber-AC atau sekadar menenggak minuman dingin. Namun kebayang gak, bagaimana nasib para hewan di alam liar yang tidak punya fasilitas tersebut? Alih-alih pasrah atau ngadem di bawah pohon, banyak spesies yang ternyata punya cara unik untuk bertahan dari kondisi ekstrem tersebut. Evolusi telah membekali mereka dengan kemampuan biologis super unik untuk mendinginkan tubuh agar tidak mati kepanasan.

Ada beberapa hewan yang memiliki adaptasi unik apabila terjadi heatwave di sekitar lingkungan mereka. Mulai dari trik memanipulasi aliran darah di organ tertentu, hingga melakukan mekanisme pendinginan mandiri yang sekilas terdengar jorok tapi sangat efektif. Penasaran bagaimana cara kreatif hewan ini dalam bertahan di kondisi heatwave? Yuk, simak lima cara unik hewan menghadapi heatwave berikut ini!

1. Koala, pelukan manja di batang pohon demi sensasi dingin

potret koala di batang pohon (unsplash.com/David Clode)

Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari University of Melbourne di French Island mengungkapkan sebuah perilaku adaptasi unik pada koala saat menghadapi gelombang panas ekstrem di Australia. Berbeda dengan mamalia penghuni pohon lainnya yang dapat berlindung di dalam lubang kayu, koala sepenuhnya terekspos oleh cuaca panas karena selalu berada di luar dahan.

Ketika suhu udara melonjak tajam dan metode pendinginan alami seperti menjilati bulu atau terengah-engah tidak lagi efektif karena berisiko dehidrasi parah, koala justru memeluk erat batang pohon bagian bawah dengan posisi tubuh yang diregangkan secara sengaja. Perilaku ini dipindai menggunakan teknologi pemindai panas. Hasilnya, para peneliti membuktikan jika dahan dan batang pohon utama memiliki suhu permukaan jauh lebih dingin dibandingkan udara sekitarnya. Koala juga memanfaatkan area perut yang memiliki bulu jauh lebih tipis untuk ditempelkan langsung ke kulit kayu.

2. Semut perak sahara punya baju zirah reflektif berkilau

potret semut perak sahara (commons.wikimedia.org/Bjørn Christian Tørrissen)

Semut perak sahara ternyata punya trik luar biasa untuk bertahan hidup di salah satu tempat paling membakar di bumi. Rahasianya terletak pada rambut-rambut halus berwarna perak yang menyelimuti tubuh mereka. Rambut ini tidak biasa karena memiliki penampang segitiga yang bekerja unik. Sisi-sisi segitiga tersebut berfungsi seperti prisma mini yang memantulkan hampir seluruh spektrum cahaya matahari, membuat semut ini tampak berkilau sekaligus melindungi tubuh mereka dari sengatan suhu gurun ataupun gelombang panas yang bisa mencapai 70 derajat celcius.

Selain memantulkan panas dari luar, baju zirah rambut ini juga punya fungsi ganda yang tidak kalah hebat, yaitu membuang panas dari dalam tubuh semut itu sendiri. Saat semut berlari di atas pasir, tubuh mereka tentu ikut menghangat. Struktur rambut segitiga membantu memancarkan kembali radiasi panas internal tersebut ke langit gurun yang lebih dingin.

3. Burung finch zebra bisa minum dari cadangan lemak sendiri

burung finch zebra (commons.wikimedia.org/PotMart186)

Berdasarkan penelitian dari Jagiellonian University di Polandia, burung finch zebra terbukti menjadi spesies burung pertama yang mampu bertahan hidup dari kekeringan jangka pendek dengan cara memecah cadangan lemak tubuh mereka untuk menghasilkan air (hidrasi internal). Ketika menghadapi heatwave dan kondisi tanpa air selama satu hari, burung kecil ini tidak mengalami dehidrasi karena secara aktif memetabolisme jaringan adiposa (lemak) mereka. Mekanisme unik ini menghasilkan sekitar 0,444 gram air metabolik per hari, jumlah yang sangat penting bagi kelangsungan burung kecil ini.

4. Kuda nil masker lumpur eksklusif biar gak sunburn

ilustrasi kuda nil (unsplash.com/Glen Michaelsen)

Kuda nil memiliki cara yang sangat unik untuk melindungi diri dari teriknya sinar matahari tanpa perlu membeli lotion pelindung. Alih-alih mengeluarkan keringat biasa seperti manusia, tubuh mereka memproduksi cairan berminyak khusus yang keluar dari kelenjar di bawah kulitnya. Cairan unik inilah yang bertindak sebagai tabir surya alami yang selalu siap melindungi kulit sensitif mereka kapan saja.

Menariknya, cairan pelindung ini terdiri dari dua jenis zat warna (pigmen), yaitu merah dan oranye. Pigmen oranye bertugas seperti benteng yang menyerap radiasi sinar ultraviolet (UV) berbahaya dari matahari agar kulit kuda nil tidak terbakar. Sementara, pigmen merahnya mengandung antibiotik alami yang berfungsi mencegah infeksi bakteri, mengingat kuda nil sering menghabiskan waktu di air dan lumpur yang kotor.

5. Burung turkey vulture, sengaja buang air kecil di kaki sendiri

burung turkey vulture (commons.wikimedia.org/Andrey from Finland)

Burung turkey vulture punya adaptasi unik ketika menghadapi gelombang panas, dengan cara mengencingi kaki mereka sendiri. Hal ini disebut dengan urohidrosis dan mereka melakukannya karena dua alasan kuat. Pertama, karena turkey vulture tidak berkeringat, mereka membutuhkan cara untuk mendinginkan badan saat cuaca panas. Ketika urin menguap di kaki mereka, hal itu memberikan efek mendinginkan.

Kedua, urin mereka mengandung zat yang dapat membantu membunuh bakteri di kaki mereka yang mungkin menempel saat mereka berjalan di atas makanan. Meskipun bagi kita hal tersebut tampak menjijikkan, tindakan ini sebenarnya membantu menjaga burung-burung ini tetap bersih.

Beberapa hewan ini membuktikan bahwa bertahan hidup di tengah heatwave bukan cuma soal mencari tempat teduh. Mereka mengajari kita bahwa fleksibilitas dan kreatifitas evolusi adalah kunci utama untuk tidak sekadar pasrah pada keadaan. Namun, di balik cara unik ini, terselip sebuah alarm peringatan bagi kita semua. Sehebat apa pun mereka mendinginkan tubuh, kemampuan adaptasi mereka tetap memiliki batas maksimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article