Hari Makin Panjang? Berikut Dampak Perubahan Iklim pada Struktur Bumi

- Perpindahan massa air dari Kutub ke arah Khatulistiwa
- Ukuran Bumi yang menggemuk akibat mencairnya es di Kutub Utara
- Daratan Bumi yang perlahan-lahan mulai naik
Selama ini kita mungkin berpikir bahwa perubahan iklim hanya soal cuaca yang makin panas atau banjir di mana-mana. Namun, ternyata dampaknya jauh lebih mengerikan karena bisa mengubah "tubuh" Bumi kita secara keseluruhan. Bayangkan saja, lapisan es kutub yang mencair membuat berat air di Bumi berpindah posisi secara besar-besaran. Perpindahan beban ini tidak hanya memengaruhi lautan, tapi juga menekan kulit Bumi hingga memengaruhi cara planet kita berputar.
Para ahli bahkan melihat Bumi kini bereaksi seperti makhluk hidup yang bentuk tubuhnya sedang berubah akibat pemanasan global. Memahami perubahan fisik ini sangat penting karena dampaknya akan terus terasa hingga ribuan tahun ke depan. Kita akan membedah bagaimana perubahan iklim diam-diam mengubah bentuk fisik Bumi yang tadinya kita anggap kokoh dan tidak berubah. Mari kita cari tahu lima perubahan struktur Bumi akibat berubahnya iklim yang wajib kita waspadai bersama!
1. Perpindahan massa air dari Kutub ke arah Khatulistiwa

Dilansir laman NASA Jet Propulsion Laboratory, saat es di kutub utara dan selatan mencair, airnya mengalir ke arah tengah Bumi atau wilayah khatulistiwa. Perpindahan massa air yang sangat berat ini ternyata sanggup membuat keseimbangan putaran di planet kita terganggu. Secara sains, benda yang berputar akan berubah arah kemiringannya jika beratnya tidak lagi seimbang di setiap sisi. Ibarat sebuah gasing yang mulai berputar miring karena beratnya tidak rata, kutub Bumi pun kini ikut bergeser.
Data satelit menunjukkan bahwa kutub kita sudah berpindah beberapa sentimeter setiap tahun sejak krisis iklim yang makin parah. Meskipun kita tidak merasakannya secara langsung, ini adalah bukti nyata bahwa aktivitas manusia sanggup mengubah keseimbangan dasar planet yang kita tinggali.
2. Ukuran Bumi yang menggemuk akibat mencairnya es di Kutub Utara

Kedengarannya mungkin mustahil, tapi perubahan iklim benar-benar membuat waktu satu hari di Bumi jadi sedikit lebih lama. Dilansir laman Woodwell Climate, ketika es kutub mencair dan airnya berkumpul di bagian tengah (ekuator), bentuk Bumi jadi sedikit lebih "gemuk" atau melebar. Dalam ilmu fisika, benda yang melebar di tengah akan berputar lebih lambat, mirip seperti penari balet yang melambatkan putarannya dengan merentangkan tangan.
Walaupun tambahan waktunya hanya dalam hitungan milidetik, hal ini bisa mengacaukan sinkronisasi waktu atomik dunia jika dibiarkan. Sistem navigasi seperti GPS sangat bergantung pada ketepatan waktu ini, jadi perubahan sekecil apa pun adalah masalah serius bagi teknologi kita.
3. Daratan Bumi yang perlahan-lahan mulai naik

Tahukah kamu kalau kulit Bumi itu sebenarnya cukup fleksibel seperti spons? Selama ribuan tahun, lapisan es yang sangat berat dan tebal telah menekan kulit Bumi hingga melesak ke bawah. Dilansir laman NOAA, sekarang, karena es tersebut mencair akibat pemanasan global, beban berat itu hilang dan daratan perlahan-lahan mulai naik kembali atau "membal". Fenomena ini banyak terjadi di wilayah dingin seperti Skandinavia dan Kanada, di mana daratannya naik sedikit demi sedikit setiap tahun.
Proses ini perlahan mengubah bentuk alam, mulai dari garis pantai yang bergeser hingga arah aliran sungai yang berubah. Meski gerakannya sangat lambat, hal ini menunjukkan bahwa Bumi sedang berusaha mencari posisi nyaman yang baru setelah kehilangan beban esnya.
4. Tekanan pada kulit Bumi yang semakin berkurang

Ada hubungan tersembunyi antara mencairnya es dengan meningkatnya aktivitas gempa serta gunung berapi. Lapisan es yang sangat tebal sebenarnya berfungsi seperti "tutup" berat yang menahan magma di dalam perut Bumi agar tetap stabil. Dilansir laman ScienceDaily, begitu es mencair dan tutupnya hilang, tekanan pada kulit Bumi berkurang sehingga magma lebih mudah bergerak untuk mencari jalan keluar. Para ilmuwan mengamati bahwa di wilayah yang esnya hilang, frekuensi letusan gunung berapi cenderung meningkat.
Selain itu, beban air laut yang bertambah juga memberikan tekanan baru pada lempeng-lempeng di dasar samudra. Tekanan yang berpindah secara cepat ini bisa memicu pergeseran lempeng dan berujung pada gempa bumi tektonik yang mematikan.
5. Dasar Samudra menjadi melesak ke bawah dan lebih dalam

Kenaikan air laut ternyata tidak hanya menenggelamkan pesisir, tapi juga mengubah bentuk dasar samudra kita. Dilansir laman National Snow and Ice Data Center, volume air yang terus bertambah dari es yang mencair, memberikan beban yang sangat luar biasa berat pada lantai laut di seluruh dunia. Karena tidak kuat menahan berat air yang makin melimpah, dasar laut pun perlahan melesak atau menjadi lebih dalam.
Fenomena ini unik karena saat permukaan laut naik, "wadah" airnya yaitu dasar laut justru ikut berubah bentuk ke arah bawah. Hal ini membuat para ahli kelautan kesulitan mengukur kenaikan air laut secara tepat karena dasarnya pun ikut bergerak. Lantai samudra yang melesak ini membuktikan bahwa seluruh bagian Bumi sedang dipaksa beradaptasi dengan kondisi air yang kian meluap.
Saat ini, Bumi kita sedang berada di kondisi kritis di mana perubahan fisik ini benar-benar sedang terjadi di depan mata. Dampak-dampak di atas menjadi pesan kuat bahwa planet kita sedang berjuang keras menghadapi ketidakseimbangan akibat ulah manusia. Setiap aksi kecil yang kita lakukan untuk menjaga lingkungan sangat berarti untuk menjaga stabilitas "tubuh" Bumi yang kita tinggali. Jangan lupa untuk terus mendukung energi yang lebih ramah lingkungan dan kebijakan yang menjaga iklim kita tetap sehat.

















