Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Artemis II Menandai Kembalinya Manusia ke Orbit Bulan setelah Apollo

Artemis II Menandai Kembalinya Manusia ke Orbit Bulan setelah Apollo
Kendaraan peluncur yang membawa roket Artemis II Space Launch System (SLS) milik NASA dan pesawat ruang angkasa Orion yang terlihat di dalam Gedung Perakitan Kendaraan setelah pintu dibuka sebelum digeser ke Landasan Peluncuran 39B, pada Sabtu, (17/01/2026) di Kennedy Space Center Florida. (dok. NASA/Joel Kowsky)
Intinya Sih
  • NASA meluncurkan misi Artemis II pada 1 April 2026 sebagai penerbangan berawak pertama menuju orbit bulan setelah lebih dari 50 tahun sejak era Apollo.
  • Misi ini membawa empat astronaut dengan latar belakang beragam, termasuk perempuan pertama, orang kulit berwarna pertama, dan warga Kanada pertama yang mencapai sekitar bulan.
  • Artemis II menjadi uji penting bagi sistem Orion dan roket SLS untuk memastikan keselamatan awak serta mempersiapkan pendaratan manusia di bulan pada misi berikutnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Misi Artemis II NASA resmi diluncurkan pada 1 April 2026. Misi luar angkasa ini menandai langkah selanjutnya dalam perjalanan umat manusia menuju bulan. Artemis II juga merupakan penerbangan Artemis berawak pertama. Selain itu, ini adalah kali pertama umat manusia akan kembali ke bulan setelah lebih dari 50 tahun—sejak misi Apollo.

Bisa dibilang, Artemis II adalah misi yang punya implikasi besar bagi masa depan eksplorasi bulan dan ruang angkasa. Ada banyak hal yang terjadi di NASA pada tahun 2026 ini, dan Artemis II hanyalah salah satu dari bagiannya. Namun, salah satu alasan kenapa misi Artemis II sangat istimewa adalah karena misi ini benar-benar menandai kembalinya umat manusia ke bulan.

Meskipun NASA pernah mengirim manusia ke bulan pada tahun 1960-an sampai 1970-an, misi umat manusia ke bulan dalam beberapa tahun terakhir ini sebenarnya tanpa awak. Bahkan misi Artemis pertama pun merupakan uji coba tanpa awak yang dirancang untuk menguji kemampuan dan standar keselamatan pesawat. Nah, dengan hadirnya Artemis II, NASA akhirnya menjembatani kesenjangan antara misi tanpa awak dan berawak. Hal ini membuktikan bahwa NASA mampu mengirim manusia ke bulan. Bagaimana ya, fakta-faktanya?

1. Apa itu program Artemis NASA?

Para astronaut dan calon astronaut dari NASA dan Badan Antariksa Kanada di depan Sistem Peluncuran Antariksa Artemis I NASA dan pesawat ruang angkasa Orion di landasan peluncuran di Kompleks Peluncuran 39B pada 28 Agustus 2022.
Para astronaut dan calon astronaut dari NASA dan Badan Antariksa Kanada di depan Sistem Peluncuran Antariksa Artemis I NASA dan pesawat ruang angkasa Orion di landasan peluncuran di Kompleks Peluncuran 39B pada 28 Agustus 2022. (dok. NASA)

National Air and Space Museum menjelaskan bahwa program Artemis NASA, dinamai menurut dewi perburuan Yunani. Program-program ini adalah rencana NASA untuk mengirim manusia kembali ke bulan, tetapi lebih ambisius daripada Proyek Apollo. NASA rupanya ingin membangun pangkalan permanen di kutub selatan Bulan, di mana mereka akan melakukan penelitian ilmiah dan meneliti efek hidup di Bulan dalam jangka panjang. Melalui kemitraan dengan badan dan perusahaan antariksa internasional, program Artemis mencakup serangkaian penerbangan yang direncanakan untuk mempersiapkan pendaratan di bulan di masa mendatang.

Penerbangan uji pertamanya, Artemis I, dilakukan pada tahun 2022 tanpa awak. Menurut NASA, misinya adalah untuk menguji Sistem Darat Eksplorasi NASA, roket luar angkasa, dan pesawat ruang angkasa Orion. Selama penerbangan tersebut, Orion menempuh jarak hampir 270.000 mil melewati bulan, melampaui jarak yang pernah ditempuh pesawat ruang angkasa mana pun yang dirancang untuk membawa manusia sebelumnya. Keberhasilannya menunjukkan bahwa teknologi organisasi tersebut siap untuk membawa astronaut dalam misi ke bulan.

2. Para awak misi Artemis II datang dari latar belakang yang beragam

Awak Artemis II di Pusat Antariksa Kennedy NASA di Florida pada 8 Agustus 2023. Dari kiri: Jeremy Hansen, Victor Glover, Reid Wiseman, dan Christina Hammock Koch.
Awak Artemis II di Pusat Antariksa Kennedy NASA di Florida pada 8 Agustus 2023. Dari kiri: Jeremy Hansen, Victor Glover, Reid Wiseman, dan Christina Hammock Koch. (dok. NASA/Kim Shiflett)

Selain menjadi misi berawak pertama ke bulan setelah lebih dari 50 tahun, Artemis II merupakan misi istimewa karena orang-orang yang ada di dalamnya. Yap, awaknya terdiri dari empat astronaut dengan latar belakang yang beragam. Di dalam Orion terdapat Christina Koch, Victor Glover, dan Jeremy Hansen, yang masing-masing akan menjadi perempuan pertama, orang kulit berwarna pertama, dan warga Kanada pertama yang mencapai sekitar bulan. Veteran NASA, Reid Wiseman, akan memimpin misi ini. Bisa dibilang, para awaknya sangat beragam.

3. Apa tujuan misi Artemis II?

laporan misi utama Artemis II
laporan misi utama Artemis II (dok. NASA)

Misi Artemis II bertujuan sebagai tempat pengujian penting yang membuka jalan bagi misi-misi lain di masa depan. Nah, yang utama di antaranya adalah uji coba pilot manual yang telah dilakukan misi di orbit Bumi tinggi. Uji coba ini penting untuk memastikan pesawat ruang angkasa beroperasi sesuai rencana, karena misi di masa depan selanjutnya akan berlabuh dengan wahana pendarat bulan di orbit. Itu sebabnya, pilot harus melakukannya secara manual—jika diperlukan untuk menjaga keselamatan astronaut di masa depan.

Misi ini juga akan sangat penting bagi ilmu pengetahuan, karena para astronaut akan pergi lebih jauh ke luar angkasa ketimbang yang pernah dilakukan umat manusia sebelumnya. Pada titik terjauhnya, awak di dalam pesawat ruang angkasa Orion akan menempuh jarak sekitar 252.760 mil atau lebih dari 400.000 kilometer dari Bumi. Jadi mereka diharapkan dapat melihat tempat-tempat di bulan yang belum pernah dilihat mata manusia.

Orbitnya akan membawa wahana antariksa Orion mengelilingi satelit bulan Bumi, yang akan menempatkan awaknya dalam jarak 5.000 mil dari permukaan bulan. Meskipun jarak itu masih jauh dari jarak terdekat yang pernah dicapai selama program Apollo, hal ini memberikan data penting untuk membantu perencanaan zona pendaratan di masa depan dan bahkan mungkin pembangunan pangkalan bulan untuk eksplorasi jangka panjang permukaan bulan.

4. Roket Artemis II dibawa dengan pengangkut yang menempuh perjalanan selama 12 jam

Kendaraan peluncur yang membawa roket Artemis II Space Launch System (SLS) milik NASA dan pesawat ruang angkasa Orion yang terlihat di dalam Gedung Perakitan Kendaraan setelah pintu dibuka sebelum digeser ke Landasan Peluncuran 39B, pada Sabtu, (17/01/2026) di Kennedy Space Center Florida.
Kendaraan peluncur yang membawa roket Artemis II Space Launch System (SLS) milik NASA dan pesawat ruang angkasa Orion yang terlihat di dalam Gedung Perakitan Kendaraan setelah pintu dibuka sebelum digeser ke Landasan Peluncuran 39B, pada Sabtu, (17/01/2026) di Kennedy Space Center Florida. (dok. NASA/Joel Kowsky)

Nah, rupanya, upaya peluncuran Artemis II sempat mengalami banyak kendala, lho. NASA terpaksa menunda misi ini beberapa kali untuk memastikan bahwa pesawat ruang angkasa tetap utuh dan beroperasi selama fase-fase awalnya. Penundaan Artemis II yang terakhir disebabkan oleh masalah tekanan helium. Sebab, banyak hal yang dipertaruhkan karena Orion akan membawa empat astronaut mengelilingi bulan untuk pertama kalinya sejak tahun 1972. NASA bahkan menarik sistem peluncuran Space Launch System (SLS) dari landasan peluncuran dan membawanya kembali ke Gedung Perakitan Kendaraan (VAB) yang terletak sejauh 6 kilometer lebih. Prosesnya bisa dibilang memakan waktu 8 hingga 12 jam, nih. Kenapa selama itu, ya?

Ternyata, kecepatannya bergantung pada mesin yang digunakan untuk memindahkan bagian-bagian pesawat ruang angkasa. Mesin pengangkutnya hanya dirancang untuk bergerak hingga 2 mil per jam saat tidak bermuatan atau maksimal 1 mil per jam saat bermuatan. Namun, karena jalur yang dilewatinya itu penuh dengan bebatuan, jadi mesin pengangkutnya hanya bergerak dengan kecepatan setengah mil per jam.

Dikutip BBC News, adapun, tim yang bertanggung jawab untuk memindahkan Artemis II di jalur pengangkut harus berhati-hati agar perjalanannya stabil karena membawa pesawat ruang angkasa tersebut. Bahkan, ada beberapa tim yang terlibat dalam proses ini, termasuk seorang pengemudi dan tim yang membantu mengelola mesin dan aspek penting lainnya, seperti sistem hidrolik. Selain itu, mesin yang membawa SLS dan pesawat ulang-alik Orion adalah pengangkut yang pernah digunakan NASA sejak zaman Apollo, lho.

Pertanyaannya, kenapa pengangkut pesawat Artemis II ini sangat lambat? Sebab, masing-masing mesin pengangkutnya terdiri lebih dari 16 motor listrik, serta dua generator daya yang bergantung pada bahan bakar diesel untuk beroperasi. Selain itu, mesin ini terdiri dari empat trek berbeda, yang bergerak di sepanjang jalur rel dengan kecepatan relatif. Namun, jika NASA ingin memiliki pengangkut yang bergerak lebih cepat, NASA harus menggunakan sistem pengangkut dan erektor seperti yang dimiliki SpaceX dan lembaga lainnya. Sayangnya, NASA tidak punya dan harus membangunnya terlebih dahulu.

5. Seberapa cepat Artemis II mencapai ruang angkasa setelah lepas landas?

Grafik yang menunjukkan waktu, kecepatan, dan ketinggian dari peluncuran roket SLS (Space Launch System) dan pesawat ruang angkasa Orion serta pendakian ke luar angkasa, hingga pembakaran perigee Orion selama penerbangan uji Artemis II.
Grafik yang menunjukkan waktu, kecepatan, dan ketinggian dari peluncuran roket SLS (Space Launch System) dan pesawat ruang angkasa Orion serta pendakian ke luar angkasa, hingga pembakaran perigee Orion selama penerbangan uji Artemis II. (dok. NASA)

Menurut NASA, peluncuran Artemis II membutuhkan daya dorong sebesar 8,8 juta pon, yang kira-kira sama dengan daya dorong 326 mesin jet tempur F-16. Jadi sekitar 1 menit setelah lepas landas, roket mengurangi daya dorongnya selama sekitar 25 detik pada Max Q—titik tekanan aerodinamis maksimum—saat menembus atmosfer bawah yang padat. Setelah melewatinya, Orion akan terus berakselerasi, mencapai hampir 3.200 mil per jam. Sekitar 2:09 menit setelah lepas landas, pendorong roket padat terlepas sebelum Orion mencapai tepi atmosfer.

Empat mesin RS-25, yang telah diperbarui dari program pesawat ulang-alik NASA, akan mendorong pesawat ruang angkasa hingga kecepatan 17.500 mph, kecepatan minimum yang dibutuhkan untuk mempertahankan kestabilan orbit di sekitar Bumi. Fase ini membentang dari tepi ruang angkasa hingga orbit, hampir 100 mil di atas Bumi. Sebagian besar daya dorong mendorongnya ke depan, bukan ke atas.

Saat awak Artemis II memasuki kondisi mikrogravitasi hanya 8 menit setelah perjalanan 10 hari mereka, mesin RS-25 akan mati, dan awak akan kehilangan bobot. Pesawat ruang angkasa akan meluncur di orbit selama sekitar 24 jam, menunggu saat yang tepat ketika Mesin Sistem Manuver Orbital (OMS-E) Orion menyalakan pembakaran injeksi translunar (TLI) yang mengirim Orion menuju bulan.

Awak akan menempuh jarak lebih dari 230.000 mil ke bulan, atau membutuhkan waktu sekitar 3—4 hari untuk mencapai orbitnya. Adapun, misi Artemis II tidak melakukan pendaratan. Sebaliknya, awak akan tetap berada sekitar 4.000 hingga 6.000 mil di atas permukaan karena NASA ingin menguji apakah Orion dapat dengan aman mendukung awak di ruang angkasa, sekaligus memberi mereka kesempatan untuk berlatih navigasi dan sistem kendali. Setelah mengelilingi bulan, Orion akan kembali ke Bumi, mendarat di Samudra Pasifik dekat San Diego sekitar 10 hari setelah lepas landas.

6. NASA sudah wanti-wanti agar Artemis II pulang dengan aman

Pada 4 April 2026, astronaut NASA dan Komandan Artemis II, Reid Wiseman, melihat Bumi dari salah satu jendela kabin utama pesawat ruang angkasa Orion, saat kru melakukan perjalanan menuju Bulan.
Pada 4 April 2026, astronaut NASA dan Komandan Artemis II, Reid Wiseman, melihat Bumi dari salah satu jendela kabin utama pesawat ruang angkasa Orion, saat kru melakukan perjalanan menuju Bulan. (dok. NASA)

Bagian terakhir dari misi Artemis II adalah kembali ke Bumi dengan selamat. Hal ini sangat penting untuk membuktikan bahwa Orion dapat membawa manusia kembali ke Bumi dengan aman. Diperkirakan kapsul Orion akan melaju dengan kecepatan mendekati 25.000 mil per jam (40.000 km/jam) sebelum masuk kembali ke atmosfer. Itu berarti bahwa gesekan yang dialami pesawat ruang angkasa Orion saat kembali ke atmosfer, perisai panasnya bisa mencapai suhu hingga lebih dari 3.000 derajat Fahrenheit atau 1.650 derajat Celsius, seperti yang dijelaskan NASA.

Sebelumnya, kapsul Orion dari Artemis I mengalami masalah pada,perisai panasnya. Dan hal ini membuat para ahli khawatir tentang misi Artemis di masa mendatang. Namun, NASA sudah menyusun rencana untuk mengurangi kemungkinan tersebut dengan membuat proses kembalinya Artemis II terjadi lebih langsung daripada Artemis I. Hal ini membatasi berapa lama kapsul berada di dalam atmosfer, sehingga membatasi paparan perisai panas terhadap fluktuasi suhu ekstrem yang diyakini telah menyebabkan kerusakan pada Artemis I.

7. Program-program setelah misi Artemis II

ilustrasi misi Artemis IV
ilustrasi misi Artemis IV (dok. NASA)

NASA resmi meluncurkan Artemis II pada Rabu, (01/04/2026) dengan empat awak. Misi mereka kali ini adalah terbang mengelilingi bulan tanpa memasuki orbit bulan, menempuh jarak lebih dari 4.000 mil di luar benda langit tersebut—bahkan melampaui jarak perjalanan Artemis I. Selama penerbangan uji kedua ini, yang dijadwalkan selama 10 hari, Sistem Darat Eksplorasi NASA, roket Space Launch System, dan pesawat ruang angkasa Orion akan diuji coba. Ini adalah kesempatan ideal bagi awak untuk memeriksa sistem pendukung kehidupan Orion untuk penerbangan di masa mendatang.

Selain itu, NASA mengumumkan bahwa mereka meningkatkan frekuensi dan keteraturan penerbangannya. Hal ini termasuk mempercepat penerbangan Artemis III dari akhir 2028 menjadi pertengahan 2027, di mana Artemis III akan bertemu dan berlabuh dengan wahana pendarat komersial SpaceX, Blue Origin, atau keduanya. Berdasarkan penerbangan sebelumnya, serangkaian uji coba yang ketat juga akan dilakukan, yang melibatkan pakaian antariksa canggih, sistem pendaratan manusia, dan kemampuan operasional lainnya saat berada di orbit rendah di sekitar Bumi.

Penerbangan Artemis III awalnya direncanakan untuk mencakup pendaratan pertama di bulan setelah lebih dari 50 tahun. Namun, tugas itu ditunda dan dijadwalkan untuk misi Artemis IV pada tahun 2028. Kemungkinan penerbangan pendaratan masih akan berlangsung sekitar 30 hari. Sementara itu, pendaratan itu sendiri (dalam misi Artemis IV) kemungkinan akan melibatkan dua dari empat anggota kru yang menghabiskan waktu sekitar satu minggu di dekat kutub selatan bulan—mengulang pendaratan di bulan yang pernah dilakukan antara tahun 1968 dan 1972—sementara dua lainnya menunggu di orbit bulan untuk kembali. Lebih lanjut tentang misi itu akan dikonfirmasi saat peluncurannya semakin dekat. Setelah berhasil diselesaikan, NASA berencana untuk melakukan satu pendaratan di bulan setiap tahun mulai saat itu.

Kesimpulannya, semua yang dipelajari dalam misi Artemis II sangat penting untuk misi Artemis di masa depan dan program eksplorasi ruang angkasa Amerika secara keseluruhan. Artemis II tidak hanya istimewa karena menjadi langkah maju yang penting bagi umat manusia, tetapi juga sebagai jembatan menuju misi eksplorasi ruang angkasa di masa depan. Hal ini pun memungkinkan umat manusia untuk berekspansi ke bintang-bintang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Science

See More