7 Fakta Burung Jenjang Leher Hitam, Unggas Langka Penghuni Atap Dunia

Burung satu ini tampil khas dengan leher panjang dan postur tubuh yang anggun. Ritual kawinnya memukau bagaikan pertunjukan balet. Menariknya, ia cuma bisa dijumpai di dataran tinggi tertinggi di dunia. Ia adalah jenjang leher hitam.
Jenjang leher hitam atau black-necked crane merupakan jenis burung jenjang langka yang hanya ditemukan di Dataran Tinggi Tibet. Burung ini berbiak dan habiskan musim dinginnya di wilayah yang dijuluki Atap Dunia ini. Di habitat yang tersembunyi ini, jenjang leher hitam sempat hampir tak terdeteksi oleh sains, loh. Yuk, kenalan dengan burung langka ini lewat tujuh fakta unik burung jenjang leher hitam atau black-necked crane yang perlu kamu tahu berikut ini!
1. Mengenal burung jenjang leher hitam

Jenjang leher hitam atau black-necked crane (Grus nigricollis) merupakan jenis burung jenjang langka yang hidup di Dataran Tinggi Tibet. Burung jenjang sendiri merupakan jenis burung berukuran besar dengan kaki dan leher panjang, serta dikenal dari pertunjukan kawinnya yang memukau. Beda dari burung kuntul dan burung bangau, burung jenjang terbang dengan leher diluruskan.
2. Jenjang leher hitam memiliki ciri khas di ekor

Jenjang leher hitam tergolong jenis burung jenjang berukuran sedang. Mengutip laman Animalia, jenjang ini setinggi 1,39 meter dengan berat sekitar 6 kilogram. Sesuai namanya, jenjang leher hitam memiliki leher dan kepala berwarna hitam yang kontras dengan tubuhnya yang berbulu putih keabu-abuan. Puncak kepalanya botak dengan kulit berwarna merah kusam. Ekornya berwarna hitam sehingga mudah dibedakan dari jenjang erasia atau common crane (G. grus) yang berpenampilan mirip, tapi berekor abu-abu.
3. Jenjang leher hitam hidup terpencil di dataran tinggi tertinggi di dunia

Jenjang leher hitam hidup di Dataran Tinggi Tibet dan wilayah-wilayah sekitarnya. Populasi terbesarnya ada di Tiongkok dengan jumlah yang lebih kecil tersebar ke Bhutan dan India. Menurut laman Oiseaux Birds, burung jenjang ini bisa dijumpai di ketinggian hingga 4.900 meter di atas permukaan laut. Ia jadi satu-satunya burung jenjang yang hidup di ketinggian seekstrem ini.
Lahan basah Dataran Tinggi Tibet menyediakan habitat yang sangat baik bagi jenjang leher hitam untuk berbiak. Menurut laman Bird Life, jenjang leher hitam berbiak di padang rumput berawa gambut dan rawa bersungai. Saat musim dingin, jenjang ini turun ke dataran yang lebih rendah, meski masih terhitung sangat tinggi, lebih dari 1.300 meter. Ia berlindung di daerah berlembah yang menyediakan perlindungan dari angin dan suhu musim dingin.
4. Jenjang leher hitam jadi spesies jenjang terakhir yang ditemukan

Tahukah kamu kalau jenjang leher hitam merupakan spesies jenjang terakhir yang ditemukan dunia sains? Menurut San Diego Zoo, jenjang leher hitam pertama kali ditemukan dan dideskripsikan pada tahun 1876 lalu. Habitat pilihannya yang terpencil dan sulit dijangkau manusia di lahan basah dataran tinggi tertinggi di dunia membuat jenjang leher hitam sulit terdeteksi ilmuwan.
5. Jenjang leher hitam akrab dengan manusia kalau tidak diganggu

Layaknya burung jenjang pada umumnya, jenjang leher hitam suka makan akar dan umbi-umbian. Ia juga melengkapi kebutuhan nutrisinya dengan memakan serangga, siput, ikan, sampai tikus. Saat musim dingin, jenjang leher hitam mencari makan di padang rumput dan ladang budi daya.
Menurut laman Animalia, jenjang leher hitam merupakan burung yang sangat waspada terhadap manusia. Namun, di wilayah di mana burung ini tidak pernah diganggu manusia, jenjang leher hitam terbiasa dengan penduduk setempat. Ia habiskan sebagian besar waktunya dalam sehari mencari makan sambil berjalan hingga menempuh jarak beberapa kilometer.
6. Siluet terbang jenjang leher hitam sangat anggun

Jenjang leher hitam merupakan penerbang yang ahli. Hal ini bisa dilihat dari sayapnya yang sangat lebar. Rentang sayap jenjang leher hitam memiliki lebar sekitar 1,8—2 meter.
Menurut penjelasan dari laman Oiseaux Birds, jenjang leher hitam harus berlari melawan angin dulu untuk mendapatkan kecepatan yang dibutuhkan untuk bisa terbang. Setelah itu, ia terangkat ke udara dengan gaya dorong yang dihasilkan oleh sayapnya yang lebar. Siluet terbang jenjang leher hitam terlihat elegan dengan leher lurus dan kedua kaki panjang menjuntai di belakang.
7. Jenjang leher hitam terancam perubahan iklim

Perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini berdampak pada keberlangsungan jenjang leher hitam. Bahaya yang mengancam burung ini utamanya berkaitan dengan ketersediaan habitat dengan tingkat air yang sesuai dan bebas gangguan. Lahan basah yang mengering ataupun menerima terlalu banyak air dari lelehan gletser bisa mengganggu kehidupan jenjang leher hitam.
Di samping itu, jenjang leher hitam juga harus menghadapi perburuan, modifikasi habitat, hingga anjing gembala. Sumber makanan musim dinginnya juga menipis akibat tergerus oleh praktek pertanian. Kini, jenjang leher hitam menjadi spesies yang hampir terancam atau near threatened dalam Daftar Merah IUCN.
Semoga saja keberadaan jenjang leher hitam bisa lebih terjaga, ya? Wilayah Atap Dunia yang terpencil seperti Dataran Tinggi Tibet pun tak luput dari dampak perubahan iklim dan aktivitas manusia. Setelah mengenalnya lebih jauh, bagaimana pendapatmu tentang burung jenjang leher hitam atau black-necked crane? Apa kamu tertarik untuk melihat keindahannya secara langsung di habitat aslinya?


















