Penjelasan Badan Geologi soal Bahaya Gas SO2 Erupsi Gunung Anak Krakatau

- Badan Geologi menyatakan warna merah pada peta satelit SO2 bukan indikator kualitas udara permukaan di Jakarta dan sekitarnya.
- Gas dari erupsi Anak Krakatau berada di troposfer bagian bawah dan terbawa angin hingga baunya tercium di beberapa wilayah.
- Warga diminta memakai masker dan berlindung di dalam bangunan apabila bau SO2 tercium saat beraktivitas.
Jakarta, IDN Times - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat bicara soal peta satelit sulfur dioksida (SO2) berwarna merah yang viral di media sosial, usai erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4-6 September 2026.
Badan Geologi menyebut warna merah pada peta tersebut bukan indikator udara di Jakarta dan sekitarnya berbahaya jika sampai dihirup warga.
Dalam unggahan di akun X resminya, Badan Geologi menyebut isu gas SO2 yang beredar di media sosial sempat menimbulkan keresahan masyarakat.
"Selain abu vulkanik dan lontaran batu pijar, erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda juga mengeluarkan gas SO2, informasi yang beredar di jagat media sosial terkait gas SO2 turut menimbulkan keresahan bagi masyarakat," tulis Badan Geologi di X, dikutip Senin (7/9/2026).
1. Peta merah bukan ukuran kualitas udara permukaan

Badan Geologi menjelaskan bahaya SO2 yang muncul dari Gunung Anak Krakatau. (Badan Geologi) Badan Geologi menjelaskan peta satelit menunjukkan jumlah gas SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan konsentrasi gas di permukaan yang dihirup warga.
"Anomali SO2 pada konsentrasi lebih tinggi dari udara normal di lapisan atmosfer, bukan angka kualitas udara di permukaan," tulis Badan Geologi.
Satuan pada peta adalah mg/m2, menurut Badan Geologi, berbeda dari ppm yang dipakai untuk udara yang biasa dihirup manusia.
2. Kenapa baunya bisa tercium sampai Jabodetabek?

PMI salurkan masker untuk warga terdampak bencana erupsi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Dok. PMI) Badan Geologi membandingkan erupsi Gunung Ruang pada 2024 dengan Gunung Anak Krakatau pada 2026. Gas Ruang terlepas hingga kurang lebih 5.000 meter, dan menjangkau Sumatra tanpa tercium di permukaan.
Sementara, erupsi Gunung Anak Krakatau disertai lava fountain, sehingga gas berada di troposfer bagian bawah, hingga terbawa angin dekat permukaan. Badan Geologi mencatat bau tercium di Banten, Jabodetabek, Lampung.
3. Ambang aman dan imbauan jika bau tercium

Aktivitas penumpang Bandara Internasional Radin Inten II terdampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna). Badan Geologi menyebut konsentrasi SO2 kurang dari sama dengan 5 ppm di udara masih batas aman bagi kesehatan, sementara paparan berlebih memicu batuk hingga sesak napas. Jika tidak tercium bau, maka masyarakat tidak perlu cemas.
Namun, jika bau tercium, warga diminta memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, berlindung di dalam bangunan, serta tidak minum air hujan, karena berpotensi bersifat asam akibat reaksi gas sulfur dengan uap air.
Sebagaimana diketahui, erupsi menerus Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, disertai lava fountain dan aliran lava, hingga akhirnya mereda pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, menurut konfirmasi Badan Geologi ESDM.
Selama periode itu, Pusat Vulkanolog dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat ratusan kali erupsi sejak status Level III (Siaga) ditetapkan pada 2 Juli 2026, disertai dentuman yang terdengar hingga tiga provinsi serta sebaran abu vulkanik ke arah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Abu juga menyebar ke Lampung dan Bengkulu.



















