5 Fakta Hiu Tikus Mata Besar, Predator dengan Cara Berburu Unik

- Hiu tikus mata besar tersebar luas di berbagai samudra dan suka berada di wilayah tropis dan sub tropis dengan suhu air 16-25 derajat Celsius serta kedalaman laut hingga 723 meter.
- Hiu ini memakan berbagai jenis ikan, menggunakan sirip ekor untuk melumpuhkan mangsa, dan memiliki bola mata besar serta indera keenam untuk mendeteksi mangsa.
- Meskipun predator laut, hiu tikus mata besar bukan predator puncak dan menghadapi persaingan dengan hiu lain serta masalah parasit kecil. Status konservasi mereka rentan punah karena perburuan dan kerusakan terumbu karang.
Kalau berbicara soal spesies hiu (superordo Selachii), pikiran kita pasti langsung tertuju pada predator laut mematikan dengan penampilan yang garang. Padahal, tidak semua spesies hiu cocok dideskripsikan seperti itu, lho. Beberapa di antaranya punya penampilan unik sekaligus memukau siapapun yang memandang. Salah satu di antaranya adalah hiu putih mata besar (Alopias superciliosus).
Bagaimana tidak? Spesies hiu yang masuk dalam famili Alopiidae ini punya sepasang bola mata besar berbentuk seperti bohlam yang mampu mencapai diameter 10 cm. Selain itu, bentuk kepala mereka juga lebih menyerupai sebuah helm yang pastinya sangat berbeda dengan kebanyakan spesies hiu dalam ordo Lamniformes. Ditambah lagi, sirip ekor bagian atas dan sirip dada hiu tikus mata besar tumbuh sangat panjang yang jadi ciri khas tersendiri.
Soal ukuran, ikan predator ini terbilang cukup besar. Panjang tubuh mereka ketika sudah dewasa ada pada rentang 3,3—4,9 meter dengan bobot 160—364 kg. Ada banyak fakta menarik lain dari hiu tikus mata besar yang akan kita ungkap satu per satu. Jadi, kalau mau kenalan, langsung gulir layarmu ke bawah, ya!
1. Peta persebaran dan habitat pilihan

Soal persebaran, hiu tikus mata besar bisa dibilang ada di mana-mana. Bayangkan saja, mereka ditemukan di negara-negara sekitar Samudra Pasifik, Samudra Hindia, Samudra Atlantik, Australia, Laut Merah, Laut Mediterania, sekitar Madagaskar, sampai Laut Karibia. Yang jelas, hiu yang satu ini suka berada dekat dengan pesisir wilayah tropis dan sub tropis di seluruh lautan.
Dilansir Animalia, suhu air yang paling disukai hiu tikus mata besar berkisar antara 16—25 derajat Celsius. Adapun, rata-rata kedalaman laut yang jadi tempat tinggal mereka mulai dari 0—152 meter di bawah permukaan laut. Namun, spesies ini diketahui sering beraktivitas di lautan dalam hingga kedalaman 723 meter. Ketika tidak beraktivitas di lautan dalam, hiu tikus mata besar lebih suka berada di kawasan karang laut ataupun dekat dengan pesisir pantai.
2. Makanan favorit dan cara memperolehnya

Berkat ukuran yang besar dan wilayah persebaran yang sangat luas, hiu tikus mata besar jadi salah satu predator dengan pilihan makanan yang sangat beragam. Mereka dilaporkan mampu memburu berbagai ikan zona bentik maupun pelagis, semisal tuna, lancet, hake, herring, todak, serta beragam Sefalopoda (Cephalopod) dan krustasea. Keunikan hiu ini tak hanya dari pilihan makanan yang beragam, tapi juga soal cara mereka berburu.
Florida Museum melansir kalau hiu tikus mata besar memanfaatkan sirip ekor untuk melumpuhkan mangsa. Jadi, mula-mula ikan ini akan berenang sedekat mungkin dengan target. Ketika sudah ada dalam jarak serang, hiu tikus mata besar langsung menghantamkan ekor ke arah calon mangsa sampai tidak bisa bergerak. Setelah itu, mereka akan berenang memutar dan langsung menyantap mangsa yang sudah lumpuh itu.
Untuk mendeteksi keberadaan mangsa, hiu tikus mata besar banyak bergantung dengan sepasang bola mata berukuran besar di kepala. Bola mata tersebut sudah beradaptasi untuk mendeteksi siluet makhluk di sekeliling, sekalipun sedang berenang di lautan dalam yang minim cahaya. Selain mata, indera keenam yang khas dari spesies hiu, yakni Ampullae Lorenzini juga ada di ujung moncong hiu tikus mata besar. Organ ini memungkinkan mereka mendeteksi medan listrik yang dikeluarkan makhluk lain di sekitar.
3. Bukan predator puncak

Meski mampu memburu berbagai jenis makhluk laut, bukan berarti hiu tikus mata besar jadi predator puncak di lautan. Mereka punya banyak “musuh”, baik berukuran besar maupun kecil. Selain itu, kadang-kadang spesies ini turut jadi target perburuan beberapa spesies ikan predator lain, semisal orca, hiu mako sirip pendek, hiu putih besar, hiu harimau, dan predator laut lain yang berukuran besar.
Kalau untuk musuh, hiu tikus mata besar diketahui bersaing dengan hiu biru (Prionace glauca). Dilansir Animalia, populasi dua hiu ini saling bersebrangan, tergantung spesies mana yang lebih banyak di satu lokasi. Misalnya, di lautan A ada lebih banyak hiu tikus mata besar karena berhasil mengusir hiu biru yang ada di sekitar. Sementara itu, bisa saja di lautan B justru kondisinya berbalik.
Selain persaingan dengan hiu lain yang seukuran, hiu tikus mata besar turut menghadapi masalah dari parasit kecil. Misalnya saja, ada Pagina tunica dan cacing pita jenis Litobothrium janovyi yang diketahui sering masuk ke dalam tubuh. Dari luar tubuh, ada lampre laut (Petromyzon marinus) yang sering hinggap di area kloaka hiu ini yang pastinya sangat mengganggu bagi mereka.
4. Sistem reproduksi
Hiu tikus mata besar termasuk hewan ovovivipar. Artinya, betina mengalami pembuahan di dalam tubuh, bertelur, dan membiarkan telur itu menetas di dalam tubuhnya. Nantinya, setelah masa mengandung tertentu, anak hiu tikus mata besar akan keluar dari tubuh sang induk, layaknya seekor mamalia yang melahirkan. Tidak banyak diketahui soal musim maupun cara ikan yang satu ini melakukan aktivitas reproduksi.
Yang jelas, jumlah anak yang biasa dilahirkan seekor hiu tikus mata besar berkisar antara 2—4 ekor, dilansir Marine Bio. Saat baru lahir, anak hiu ini sudah punya ukuran 100—140 cm, tetapi butuh waktu lama untuk mencapai usia dewasa. Jantan baru dewasa ketika berusia 10 tahun, sementara betina butuh waktu sampai 12 tahun. Adapun, usia yang mampu dicapai spesies hiu ini adalah 20 tahun lebih.
5. Status konservasi

Bedasarkan catatan dari IUCN Red List, status konservasi hiu tikus mata besar masuk dalam kategori hewan yang rentan punah (Vulnerable). Selain itu, tren populasi mereka juga condong menurun setiap tahun sehingga ada kekhawatiran besar kalau spesies ini bisa punah, kendati punya persebaran yang sangat luas. Penyebab terus berkurangnya populasi hiu tikus mata besar berasal dari aktivitas manusia maupun alam yang juga dipengaruhi manusia.
Hiu tikus mata besar sering ditangkap di banyak negara karena sirip panjang yang sangat bernilai untuk olahan tertentu. Selain itu, kualitas daging, kulit, dan hati ikan ini terbilang berkualitas baik sehingga jadi incaran banyak nelayan ilegal. Kalaupun tidak ditargetkan secara sengaja, hiu tikus mata besar tetap sering terjerat jaring nelayan yang ditebar di lautan lepas.
Selain perburuan, kerusakan terumbu karang membuat hiu tikus mata besar jadi sulit beraktivitas. Meski mampu menyelam dan berburu di lautan dalam, ketersediaan terumbu karang yang sehat tetap mereka perlukan supaya dapat hidup dengan nyaman. Keberadaan sampah plastik dan mikroplastik di lautan turut jadi masalah yang perlu diperhatikan karena jenis sampah itu sering tertelan ataupun menjerat tubuh hiu ini sampai mati.
Status konservasi hiu tikus mata besar jadi bukti kalau luas persebaran suatu spesies hewan bukan jadi tanda kalau populasinya sehat. Justru, kedekatan tempat tinggal dengan zona aktivitas manusia sering membuat hewan mengalami masalah serius, apalagi ketika ada bagian tubuh mereka yang berpotensi menguntungkan manusia. Perlindungan atas spesies hiu ini memang sudah dilakukan, tapi tanpa kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga populasi spesimen laut, bisa saja hiu tikus mata besar punah di masa yang akan datang.

















