Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengapa Valentine Erat dengan Budaya Memberikan Hadiah?

ilustrasi mengapa Valentine erat dengan budaya memberikan hadiah?
ilustrasi mengapa Valentine erat dengan budaya memberikan hadiah? (pexels.com/Gustavo Fring)
Intinya sih...
  • Warisan Romawi Kuno dan evolusi tradisi LupercaliaMenurut laman History, Valentine berasal dari festival Romawi kuno Lupercalia yang awalnya ritualistik untuk mendatangkan keberuntungan bagi pasangan.
  • Peran literatur abad pertengahan dan sosok Geoffrey ChaucerPenyair Inggris, Geoffrey Chaucer, menciptakan konsep courtly love yang memengaruhi budaya pemberian hadiah sebagai tanda cinta yang tulus.
  • Revolusi Industri dan komersialisasi kartu ucapanKemajuan teknologi percetakan membuat tradisi bertukar kado lebih mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat, termasuk melalui kartu ucapan massal.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kamu pasti sering melihat toko-toko mulai dipenuhi cokelat, boneka, dan bunga mawar cantik saat bulan Februari tiba. Pernahkah terlintas di pikiranmu mengapa Valentine erat dengan budaya memberikan hadiah? Fenomena ini seolah menjadi agenda wajib bagi pasangan di seluruh dunia untuk menunjukkan rasa sayang mereka melalui benda fisik yang manis.

Pemandangan rak supermarket yang dipenuhi pernak-pernik merah sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern ini. Kamu mungkin merasa ada tekanan sosial untuk ikut membeli kado, padahal awalnya hari ini memiliki makna yang sangat berbeda. Dengan memahami sejarahnya, kamu jadi bisa melihat tradisi ini dari sudut pandang yang lebih bermakna dan gak sekadar ikut-ikutan tren semata.


1. Warisan Romawi Kuno dan evolusi tradisi Lupercalia

ilustrasi Santo Valentinus
ilustrasi Santo Valentinus (interestingliterature.com)

Melansir informasi dari laman History, akar dari tradisi ini sebenarnya berasal dari festival Romawi kuno yang disebut Lupercalia. Pada masa itu, perayaan dilakukan untuk menghormati dewa kesuburan dan bukan sekadar tentang makan malam romantis seperti yang kamu bayangkan sekarang. Unsur pemberian hadiah pada awalnya lebih bersifat ritualistik untuk mendatangkan keberuntungan bagi pasangan dan keturunan, lho.

Seiring masuknya pengaruh agama Kristen, tradisi ini perlahan bergeser untuk menghormati Santo Valentinus yang dikenal sebagai pelindung para kekasih. Peralihan figur ini menjadi alasan Valentine erat dengan budaya memberikan hadiah dalam bentuk pesan-pesan kasih sayang. Pada masa itu, para pria mulai memberikan catatan kecil atau simbol-simbol sederhana sebagai tanda komitmen kepada wanita yang mereka cintai di tengah larangan pernikahan oleh kekaisaran.


2. Peran literatur abad pertengahan dan sosok Geoffrey Chaucer

ilustrasi Geoffrey Chaucer
ilustrasi Geoffrey Chaucer (commons.wikimedia.org/Portraits of Humanists)

Jika kamu bertanya-tanya kapan tepatnya hari Valentine menjadi sangat romantis, situs National Geographic menyebutkan peran besar penyair Inggris, Geoffrey Chaucer. Lewat karyanya yang berjudul Parliament of Fowls, ia menghubungkan hari peringatan Santo Valentinus dengan musim kawin burung-burung di alam liar. Hal ini menciptakan konsep courtly love atau cinta yang mulia, di mana pemberian tanda mata menjadi bagian penting dalam proses pendekatan.

Budaya ini kemudian berkembang pesat di kalangan bangsawan Eropa yang senang saling bertukar puisi dan bunga. Di masa itu, sebuah benda fisik dianggap sebagai representasi dari kejujuran perasaan seseorang. Kamu bisa membayangkan betapa berartinya sebuah saputangan atau setangkai bunga yang diberikan secara sembunyi-sembunyi sebagai bentuk pernyataan cinta yang tulus, ya.


3. Revolusi Industri dan komersialisasi kartu ucapan

ilustrasi mengapa Valentine erat dengan budaya memberikan hadiah?
ilustrasi mengapa Valentine erat dengan budaya memberikan hadiah? (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Memasuki abad ke-19, tradisi ini mengalami perubahan besar berkat kemajuan teknologi percetakan, sebagaimana dicatat oleh Britannica. Sebelum masa ini, orang-orang harus menulis surat cinta mereka sendiri dengan tangan yang memakan waktu cukup lama. Munculnya kartu ucapan yang diproduksi secara massal atau mass-produced greeting cards membuat tradisi bertukar kado menjadi lebih mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat, termasuk kamu.

Esther Howland, yang dikenal sebagai "Ibu Valentine Amerika", mulai menjual kartu-kartu berhias renda dan gambar romantis yang sangat populer. Kemudahan dalam membeli kartu ini menjadi pemicu utama budaya memberikan hadiah terjadi saat Valentine dilakukan secara masif. Sejak saat itu, industri cokelat dan perhiasan mulai melihat peluang besar untuk memasarkan produk mereka sebagai simbol cinta sejati yang wajib dimiliki setiap pasangan.


4. Psikologi di balik pemberian hadiah sebagai bahasa kasih

ilustrasi mengapa Valentine erat dengan budaya memberikan hadiah?
ilustrasi mengapa Valentine erat dengan budaya memberikan hadiah? (pexels.com/RDNE Stock project)

Secara psikologis, tindakan memberi barang kepada orang lain memang memberikan kepuasan emosional tersendiri bagi si pemberi maupun penerima, lho. Mengutip dari Psychology Today, manusia cenderung menggunakan objek fisik untuk mengomunikasikan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Hal ini menjelaskan mengapa sebuah kotak cokelat sederhana bisa memiliki makna yang sangat mendalam bagi hubungan yang sedang kamu jalani.

Selain itu, memberikan kado saat hari kasih sayang juga berfungsi untuk memperkuat ikatan emosional dan stabilitas hubungan, lho. Saat kamu memberikan sesuatu terlebih saat momen istimewa, pasanganmu merasa dihargai, dan hal ini menciptakan siklus kebahagiaan yang mempererat keintiman kalian dalam jangka panjang, lho.

Sudah gak penasaran lagi, kan? Tradisi ini ternyata bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan perpaduan sejarah panjang dari zaman Romawi hingga kebutuhan psikologis manusia untuk mencintai. Jadi, sekarang kamu sudah paham mengapa Valentine erat dengan budaya memberikan hadiah, ya. Semoga informasi ini membuat momen spesialmu nanti terasa lebih berkesan!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Science

See More

Daftar Negara yang Terlibat Perang Dunia II, Lebih dari 70 Negara!

15 Feb 2026, 19:04 WIBScience