Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fakta Menarik Hujan Meteor Orionid, Puncaknya 21–22 Oktober 2026
ilustrasi hujan meteor Orionid (pexels.com/Leon)
  • Hujan meteor Orionid aktif 2 Oktober–8 November 2026 dan diperkirakan memuncak pada 21–22 Oktober, saat Bumi melintasi serpihan debu Komet Halley.
  • Meteor Orionid dapat melaju hingga 66 kilometer per detik, dengan potensi 10–20 meteor per jam dalam langit gelap; waktu pengamatan disebut sekitar 22.20–05.05 WIB.
  • Sebagian meteor meninggalkan jejak cahaya bercahaya selama detik hingga menit. Pengamatan dapat dilakukan tanpa alat dari lokasi minim polusi cahaya saat cuaca cerah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hujan meteor Orionid menjadi salah satu fenomena langit yang menarik untuk diamati pada Oktober 2026. Hujan meteor tersebut merupakan fenomena tahunan yang biasanya aktif sekitar 2 Oktober—8 November. Tahun ini, hujan meteor Orionid diperkirakan mencapai puncaknya pada 21–22 Oktober 2026.

Orionid menarik perhatian karena meteor-meteornya melesat dengan kecepatan tinggi saat memasuki atmosfer Bumi. Fenomena ini terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu dan serpihan yang ditinggalkan Komet Halley saat mengorbit Matahari. Dalam kondisi langit gelap dan ideal, Orionid bisa menghasilkan sekitar 10–20 meteor per jam. Kira-kira, apa saja fakta menarik tentang hujan meteor Orionid yang mencapai puncaknya minggu ini? Yuk, cari tahu lebih banyak di bawah ini!

1. Berasal dari komet Halley yang terkenal

ilustrasi komet (dok. NASA/JPL-Caltech/UMD)

Dalam astronomi, hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu atau serpihan benda langit yang kemudian memasuki atmosfer dan berpijar sebagai meteor. Mengutip dari NASA, benda langit yang bertanggung jawab atas hujan meteor Orionid adalah komet Halley, yaitu salah satu komet paling terkenal karena terkadang bisa dilihat dengan mata telanjang dari Bumi. Ketika Bumi melewati jalur material yang ditinggalkan komet Halley, sebagian partikel memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi dan menghasilkan kilatan cahaya di langit.

Komet Halley sendiri membutuhkan sekitar 76 tahun untuk menyelesaikan satu kali orbit mengelilingi Matahari. Menariknya, komet yang sama juga menjadi induk hujan meteor Eta Aquarid yang muncul setiap Mei. Dengan demikian, Komet Halley bertanggung jawab atas dua hujan meteor tahunan yang dapat diamati dari Bumi, yaitu Orionid pada Oktober dan Eta Aquarid pada Mei.

2. Meteor Orionid melaju hingga 66 kilometer per detik

ilustrasi hujan meteor Orionid (pexels.com/Александра Колпакова)

Hujan meteor Orionid diperkirakan mencapai puncaknya pada 21–22 Oktober 2026. Kamu bisa mulai mengamatinya pada pukul 22.20–05.05 WIB. Adapun, dilansir In-the-Sky, waktu terbaik untuk menyaksikan hujan meteor ini yaitu pada waktu dini hari, sekitar pukul 04.00 WIB ketika titik pancarnya berada tinggi di cakrawala.

Fakta menariknya, Orionid memiliki karakteristik meteor yang melaju sangat cepat saat memasuki atmosfer Bumi. NASA menjelaskan, kecepatan meteor Orionid bisa mencapai sekitar 66 kilometer per detik atau setara dengan 237.600 kilometer per jam. Dalam kondisi pengamatan ideal, Orionid diperkirakan menghasilkan sekitar 10–20 meteor per jam saat mencapai puncak aktivitasnya.

Namun, jumlah meteor yang terlihat bisa lebih sedikit karena dipengaruhi kondisi cuaca, polusi cahaya, dan terang Bulan. Meski begitu, kecepatan meteor yang tinggi membuat Orionid menjadi salah satu hujan meteor yang menarik untuk diamati.

3. Bisa menghasilkan jejak cahaya yang bertahan di langit

ilustrasi hujan meteor Orionid (pexels.com/Alex Andrews)

Hujan meteor Orionid tidak hanya dikenal karena kecepatannya, tetapi juga karena jejak cahaya yang bisa bertahan setelah meteor melintas. Dilansir NASA, meteor Orionid bergerak dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik saat memasuki atmosfer Bumi. Kecepatan tinggi tersebut bisa meninggalkan jejak bercahaya yang disebut glowing train di belakang meteor.

Jejak ini terbentuk dari material dan gas di atmosfer yang menjadi panas atau tereksitasi akibat lintasan meteor. Dalam beberapa kasus, jejak cahaya tersebut bisa bertahan selama beberapa detik hingga beberapa menit sebelum memudar. Fenomena inilah yang membuat sebagian meteor Orionid tampak meninggalkan garis cahaya di langit, bukan sekadar kilatan singkat.

Sedikit tips jika kamu tertarik mengamati hujan meteor Orionid, pastikan kamu memilih lokasi yang jauh dari polusi cahaya. Pastikan juga cuaca cerah atau tidak mendung untuk mendapatkan visual meteor yang lebih jelas. Hal menarik lainnya, kamu bisa mengamati hujan meteor ini dengan mata telanjang. So, masih mau melewatkannya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article