3 Fakta Hujan Meteor Epsilon Geminid, Puncaknya 18 Oktober 2026

- Hujan meteor Epsilon Geminid aktif pada 14–27 Oktober 2026 dan diperkirakan mencapai puncak pada 18 Oktober, dengan aktivitas puncak sekitar pukul 01.00 WIB pada 19 Oktober.
- Asal Epsilon Geminid belum pasti; Komet Ikeya serta Komet Nishikawa–Takamizawa–Tago tercatat sebagai kandidat sumber, sementara hubungan keduanya masih memerlukan penelitian lanjutan.
- Fenomena ini diperkirakan menghasilkan sekitar tiga meteor per jam dalam kondisi ideal; waktu pengamatan terbaik adalah dini hari hingga menjelang fajar dari lokasi gelap minim polusi cahaya.
Langit di bulan Oktober 2026 dipenuhi oleh fenomena hujan meteor yang terjadi secara bergantian. Setelah kedatangan hujan meteor Draconid pekan lalu, kini langit bakal dihiasi oleh hujan meteor Epsilon Geminid. Hujan meteor ini diperkirakan mencapai puncaknya pada 18 Oktober 2026.
Meski intensitasnya tak sebanyak dan sepopuler hujan meteor Draconid, Epsilon Geminid tetap menarik untuk diamati karena periodenya yang sangat singkat. Selain itu, hujan meteor ini juga memiliki laju yang sangat cepat dan disebut-sebut berasal dari salah satu komet yang cukup spektakuler. Komet apakah itu? Yuk, simak fakta-fakta menarik tentang hujan meteor Epsilon Geminid di bawah ini!
1. Asal-usul hujan meteor Epsilon Geminid masih diteliti

ilustrasi hujan meteor Epsilon Geminid (pexels.com/Iurii Laimin) Hujan meteor Epsilon Geminid merupakan hujan meteor tahunan yang aktif sekitar 14–27 Oktober setiap tahunnya. Jika diamati dari Bumi, hujan meteor ini tampak muncul dari arah rasi bintang Gemini. Namun sebenarnya, meteor-meteor tersebut berasal dari partikel debu yang bergerak di ruang angkasa.
Pada 1981, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Icarus mengusulkan Komet Ikeya (C/1964 N1) sebagai sumber hujan meteor Epsilon Geminid. Akan tetapi, penelitian Duncan Olsson-Steel yang diterbitkan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society pada 1987 mengajukan Komet Nishikawa–Takamizawa–Tago sebagai kandidat induk yang lebih kuat dibandingkan Komet Ikeya. Hal ini menyebabkan asal-usul hujan neteor Epsilon Geminid belum dapat dipastikan.
Basis data Meteor Data Center dari International Astronomical Union (IAU) mencatat Komet Ikeya dan Komet Nishikawa–Takamizawa–Tago sebagai kandidat sumber yang pernah diusulkan dalam penelitian. Oleh karena itu, hubungan kedua komet tersebut dengan Hujan Meteor Epsilon Geminid masih memerlukan penelitian yang lebih lanjut.
2. Dini hari jadi waktu terbaik untuk mengamatinya

ilustrasi mengamati hujan meteor. (unsplash.com/Mark de Jong) Hujan Meteor Epsilon Geminid aktif pada 14–27 Oktober setiap tahunnya. Puncaknya diperkirakan terjadi pada 18 Oktober 2026. Mengutip dari In-the-Sky, hujan meteor ini bisa diamati mulai pukul 23.05 WIB hingga menjelang fajar selama periode aktivitasnya masih berlangsung.
Waktu terbaik untuk mengamati Epsilon Geminid yaitu pada dini hari atau menjelang fajar, ketika titik radian (kemunculan) hujan meteor ini berada tinggi di langit. Pada 19 Oktober 2026, aktivitasnya diperkirakan mencapai puncak sekitar pukul 01.00 WIB, sehingga pengamatan menjelang fajar pada tanggal tersebut berpotensi memberikan kesempatan lebih baik untuk menyaksikan meteor. Meski begitu, jumlah meteor yang terlihat dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi langit, polusi cahaya, dan posisi titik radian saat pengamatan.
3. Hanya menghasilkan tiga meteor per jam

ilustrasi hujan meteor Epsilon Geminid (unsplash.com/Frank Zinsli) Hujan meteor Epsilon Geminid tergolong hujan meteor minor dengan intensitas yang relatif rendah. Menurut kalender hujan meteor Oktober 2026 dari In-the-Sky, Epsilon Geminid memiliki zenithal hourly rate (ZHR) sekitar tiga meteor per jam saat mencapai aktivitas maksimum. Angka tersebut merupakan perkiraan dalam kondisi ideal, yaitu ketika titik radian berada tepat di atas kepala dan langit dalam kondisi benar-benar gelap.
Dalam pengamatan nyata, jumlah meteor yang terlihat biasanya lebih sedikit karena dipengaruhi polusi cahaya, kondisi cuaca, dan ketinggian titik radian. Meski demikian, pengamat masih berpeluang melihat meteor Epsilon Geminid selama periode aktifnya, terutama menjelang fajar ketika titik radiannya berada lebih tinggi di langit. Carilah lokasi yang minim polusi cahaya untuk mendapatkan visual meteor yang lebih jelas.
Hujan meteor epsilon Geminid menjadi salah satu fenomena astronomi yang bisa diamati pada Oktober 2026, meskipun jumlah meteor yang terlihat relatif sedikit. Untuk meningkatkan peluang pengamatan, pastikan kondisi langit benar-benar gelap, minim awan, atau tidak mendung. Setelah mengetahui waktu dan cara mengamatinya, apakah kamu tertarik berburu hujan meteor Epsilon Geminid pada 18—19 Oktober 2026 nanti?






















