5 Fenomena Alam yang Terjadi ketika Suhu Laut Menghangat, Apa Saja?

- Marine Heatwave semakin sering dan ekstrem, memengaruhi ekosistem laut dan cuaca daratan.
- Pemutihan terumbu karang skala global terjadi akibat suhu air laut yang terlalu panas, mengancam kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut.
- Pemanasan suhu laut menyebabkan ledakan alga dan sargassum di laut terbuka, merusak sektor pariwisata serta mengganggu kesehatan.
Lautan menyerap lebih dari 90% suhu panas akibat pemanasan global, menjadikannya salah satu indikator paling jelas dari perubahan iklim yang sedang berlangsung. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change menyebutkan bahwa suhu laut global terus memecahkan rekor dalam beberapa dekade terakhir, dengan laju pemanasan yang semakin cepat sejak awal abad ke-21.
Pemanasan ini tidak hanya terjadi di permukaan saja, tetapi juga merambat hingga lapisan laut yang lebih dalam, memicu perubahan besar pada sistem laut yang selama ini relatif stabil. Dampaknya pun tidak hanya satu saja, melainkan memicu rangkaian fenomena alam yang saling berkaitan dan memengaruhi kehidupan di laut maupun daratan.
Lalu, apa saja fenomena alam yang muncul ketika suhu laut terus menghangat? Yuk, kita bahas!
1. Marine Heatwave yang kian sering dan ekstrem

Ketika suhu laut menghangat, salah satu fenomena paling menonjol adalah marine heatwave atau gelombang panas laut. Menurut National Oceanography Centre, marine heatwave didefinisikan sebagai kenaikan suhu laut ekstrem yang berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut, bahkan bisa berlangsung berbulan-bulan. Fenomena ini kini tidak lagi langka, dan tercatat semakin sering sejak awal 1980-an.
Dilansir Mercator Ocean, pemanasan global membuat marine heatwave menjadi lebih intens, meluas, dan bertahan lebih lama. Gelombang panas ini tidak hanya terjadi di permukaan, tetapi juga terdeteksi hingga kedalaman lebih dari 1.000 meter. Dampaknya menjalar ke mana-mana, mulai dari mengacaukan ekosistem laut hingga cuaca ekstrem di daratan.
2. Pemutihan terumbu karang skala global

Suhu air laut yang terlalu panas menyebabkan terumbu karang mengalami tekanan (stres), sehingga mereka melepaskan alga yang selama ini memberikan warna dan energi. Berdasarkan data dari NOAA, sejak awal tahun 2023 hingga 2025, lebih dari 83% terumbu karang di dunia terkena dampak panas ekstrem yang menyebabkan pemutihan secara besar-besaran. Peristiwa ini merupakan kejadian pemutihan global yang keempat dan tercatat sebagai yang paling luas dalam sejarah.
Dilansir Earth.org, pemutihan karang ini terjadi di hampir seluruh samudra besar, termasuk Samudra Pasifik, Samudra Hindia, dan wilayah Karibia. Derek Manzello dari NOAA Coral Reef Watch menjelaskan, jika tekanan panas tersebut berlangsung dalam waktu lama, terumbu karang dapat mati. Hal ini akan berdampak langsung kepada masyarakat yang kehidupannya bergantung pada ekosistem tersebut.
"Jika peristiwa-peristiwa ini cukup parah atau berkepanjangan, hal itu dapat menyebabkan kematian terumbu karang, yang merugikan masyarakat yang bergantung pada terumbu karang untuk mata pencaharian mereka," ujar Manzello, melansir Earth.org.
3. Ledakan alga dan sargassum di laut terbuka

Pemanasan suhu laut juga menyebabkan pertumbuhan alga yang sangat cepat, salah satunya adalah fenomena sargassum di Samudra Atlantik. Melansir The New York Times, sabuk Sargassum Atlantik saat ini telah membentang sepanjang lebih dari 5.500 mil dengan berat mencapai sekitar 38 juta ton. Jumlah ini meningkat sebesar 40% jika dibandingkan dengan rekor sebelumnya. Dilansir Nautre Geoscience, fenomena tersebut dipengaruhi oleh kombinasi pemanasan laut, aliran nutrien dari sungai besar seperti Amazon dan Orinoco, serta deposisi debu Sahara, meski para ilmuwan menegaskan tidak ada satu penyebab tunggal yang sepenuhnya menjelaskan lonjakan ini.
Profesor Chuanmin Hu dari University of South Florida menyatakan bahwa pola pertumbuhan sargassum saat ini sudah berada dalam kondisi "tidak normal" dan sulit untuk kita prediksi. Laut yang semakin hangat, ditambah dengan debu dari gurun Sahara dan nutrisi dari sungai Amazon, menciptakan lingkungan yang sangat mendukung bagi alga untuk tumbuh secara berlebihan. Akibatnya, banyak pantai di wilayah Karibia dan Teluk Meksiko tertutup oleh alga yang membusuk, sehingga merusak sektor pariwisata serta mengganggu kesehatan.
4. Penurunan oksigen laut

Suhu air laut yang semakin panas menyebabkan kadar oksigen di dalamnya berkurang. Berdasarkan data dari IUCN, lautan di seluruh dunia telah kehilangan sekitar 2% oksigen terlarut sejak pertengahan abad ke-20. Bahkan, jumlah wilayah laut yang benar-benar kehabisan oksigen telah meningkat sebanyak empat kali lipat sejak tahun 1960-an.
Fenomena ini dikenal dengan istilah ocean deoxygenation (pengurangan oksigen di laut). Terjadi karena pemanasan laut menghalangi proses percampuran air yang kaya oksigen dari permukaan ke bagian laut yang lebih dalam. Hal ini memberikan dampak yang sangat serius bagi kita, ikan-ikan besar seperti tuna dan hiu akan terpaksa berpindah ke lapisan air yang lebih dangkal. Selain itu, wilayah laut yang tidak memiliki kehidupan (dead zones) menjadi semakin luas dan mengancam industri perikanan di seluruh dunia.
5. Tropikalisasi

Saat air laut menjadi lebih hangat, hewan-hewan laut dari daerah tropis mulai berpindah ke wilayah yang dulunya memiliki suhu lebih dingin. Menurut The Japan Times, Laut Mediterania saat ini sedang mengalami proses yang disebut tropicalization. Hal ini ditandai dengan masuknya ratusan spesies dari Laut Merah melalui Terusan Suez. Contohnya adalah ikan lionfish yang kini banyak ditemukan di bagian timur Mediterania dan memangsa ikan-ikan asli di wilayah tersebut.
Profesor Gil Rilov dari Israel Oceanographic and Limnological Research Institute menganggap fenomena ini sebagai peringatan bagi masa depan kita. Menurut data dari One Ocean Foundation, sudah ada lebih dari 1.000 spesies luar yang tercatat di Laut Mediterania. Banyak dari spesies tersebut bersifat merusak dan mengganggu keseimbangan lingkungan laut.
Dari sini kita menjadi tahu, fenomena-fenomena yang muncul tadi menjadi indikasi bahwa laut kita sedang berada di bawah tekanan, dan terus berlanjut jika masalah pemanasan global belum juga terselesaikan. Jika laut sebagai penyangga utama iklim Bumi terus kehilangan keseimbangannya, dampaknya akan menjalar ke cuaca, pangan, dan kehidupan kita. Lantas, seberapa siapkah kita menghadapi konsekuensi dari laut yang terus menghangat ini?



















