Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
9 Fenomena Langit September 2026 yang Bisa Diamati dari Indonesia
ilustrasi fenomena langit malam (pexels.com/Erike Fusiki)
  • September 2026 menawarkan sembilan fenomena yang dapat diamati dari Indonesia, termasuk kedekatan Venus-Spica, Bulan dengan Pleiades, Mars, Jupiter, Antares, serta Bulan sabit bersama Venus.
  • Hujan meteor Epsilon-Perseid diperkirakan memuncak 9–10 September dengan aktivitas rendah, sementara langit relatif gelap karena berdekatan dengan Bulan baru pada 11 September.
  • Hari tanpa bayangan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Pontianak pada 23 September sekitar 11.35 WIB; purnama Harvest Moon menutup bulan pada 26 September pukul 23.49 WIB.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

September 2026 bakal menjadi salah satu bulan yang menarik bagi para pemburu langit di Indonesia. Ketika sebagian orang mungkin menganggap langit malam hanyalah hamparan gelap yang dihiasi bintang, sebenarnya ada banyak benda langit yang terus berpindah posisi dan saling mendekat jika dilihat dari Bumi. Venus akan tampil sangat mencolok di langit senja, Bulan akan bergantian menyambangi Mars, Jupiter, Venus, hingga Antares, sementara hujan meteor Epsilon-Perseid ikut menghiasi periode langit gelap menjelang Bulan baru. Bahkan, ada fenomena yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari; yaitu hari tanpa bayangan, ketika Matahari berada tepat di atas kepala di sejumlah wilayah Indonesia. Beberapa kalender observasi astronomi melalui kanal digital memang secara khusus mencatat, September 2026 sebagai bulan yang kaya akan fenomena yang dapat diamati dari Indonesia.

Menariknya, tidak semua fenomena astronomi yang tercantum dalam kalender dunia otomatis cocok untuk pengamat Indonesia. Posisi geografis, waktu terjadinya fenomena, ketinggian objek dari horizon, zona waktu, hingga kondisi cahaya Matahari dapat menentukan apakah sebuah peristiwa benar-benar bisa dinikmati dengan mata telanjang dari tanah air.

Karena itu, ulasan di bawah ini tidak sekadar membicarakan, “Apa yang terjadi di langit”, tetapi lebih spesifik menjawab pertanyaan, “Apa saja fenomena langit September 2026 yang benar-benar layak diburu dari Indonesia?” Mulai dari pertemuan Venus dan Spica pada awal bulan, Bulan bersama Jupiter dan Mars sebelum fajar, sampai Harvest Moon pada penghujung September. Berikut sembilan fenomena langit September 2026 yang bisa diamati dari Indonesia. Cek, yuk!

1. Venus dan Spica berdampingan di awal September

ilustrasi Bulan, Venus, dan Spica (unsplash.com/Ajay Lakshman)

September langsung dibuka dengan pemandangan menarik ketika Venus tampak berdekatan dengan Spica, bintang paling terang di rasi Virgo. Menurut kalender observasi Astronomy Magazine, keduanya berada sekitar 2 derajat satu sama lain pada periode 1–5 September. Secara astronomis, ini bukan berarti Venus dan Spica benar-benar berdekatan secara fisik. Keduanya hanya terlihat berdekatan dari perspektif Bumi karena berada pada arah pandang yang hampir sama di langit. Sumber astronomi lain seperti Wired juga mencatat bahwa Venus dan Spica menjadi pasangan langit yang dapat dilihat dengan mata telanjang pada 1–2 September 2026.

Bagi pengamat di Indonesia, waktu terbaik untuk mencarinya adalah setelah Matahari terbenam. Arahkan pandangan ke barat hingga barat daya ketika langit mulai berubah menjadi gelap. Venus akan menjadi objek yang paling mencolok karena kecerlangannya jauh melampaui Spica. Setelah Venus ditemukan, Spica dapat dicari sebagai titik cahaya yang lebih redup di dekatnya. Tidak diperlukan teleskop untuk menikmati fenomena ini, meskipun binokular dapat membantu memperjelas pasangan tersebut. Kondisi horizon yang terbuka sangat penting karena keduanya relatif rendah di langit senja.

Fenomena ini juga menjadi kesempatan menarik untuk membandingkan dua jenis objek langit yang sebenarnya sangat berbeda. Venus adalah planet yang memantulkan cahaya Matahari, sedangkan Spica merupakan sistem bintang yang berada sangat jauh dari tata surya. Dengan kata lain, titik terang yang terlihat berdampingan itu sebenarnya berasal dari dua dunia dengan skala jarak yang luar biasa berbeda. Venus hanya berjarak puluhan hingga ratusan juta kilometer dari Bumi tergantung pada konfigurasi orbit, sedangkan cahaya Spica membutuhkan waktu sekitar ratusan tahun untuk mencapai kita. Langit seolah mempertemukan keduanya, padahal ruang di antara mereka sangat luas.

2. Bulan bertemu gugus bintang Pleiades

ilustrasi Bulan dan gugus bintang Pleiades (commons.wikimedia.org/Der Messer)

Belum selesai menikmati Venus dan Spica, langit Indonesia kembali menawarkan pertemuan menarik pada 3 September. Kali ini Bulan akan tampak berdekatan dengan Pleiades, gugus bintang terbuka yang juga dikenal sebagai M45 atau Seven Sisters. Berita astronomi dari kanal Starwalk.space menempatkan peristiwa ini pada dini hari dengan arah pandang ke timur. Fenomena langit tersebut menggambarkan bahwa Pleiades akan tampak seperti kumpulan titik cahaya kecil di dekat Bulan.

Pleiades sebenarnya bukan sekadar kumpulan tujuh bintang. Dengan mata telanjang, dari lokasi yang cukup gelap, manusia biasanya dapat mengenali sekitar enam atau tujuh bintang paling terang. Namun, gugus tersebut sebenarnya berisi jauh lebih banyak bintang yang terikat secara gravitasi. Dengan menggunakan binokular, jumlah bintang yang dapat terlihat akan meningkat drastis sehingga Pleiades tampak seperti sekumpulan permata kecil yang bertaburan di sekitar Bulan. Karena itu, pasangan Bulan dan Pleiades pada September ini juga sangat menarik bagi penggemar fotografi langit.

Bagi pengamat Indonesia, kuncinya adalah bangun lebih awal. Cari lokasi dengan pandangan terbuka ke arah timur sebelum Matahari terbit dan hindari area yang terlalu terang. Bulan yang sedang menuju fase akhir akan membantu menunjukkan posisi Pleiades, tetapi cahaya Bulan juga dapat membuat sebagian bintang redup sulit terlihat. Jika ingin mendapatkan tampilan yang lebih dramatis, gunakan kamera dengan tripod dan eksposur yang cukup. Jangan lupa bahwa konfigurasi tersebut hanya merupakan perspektif dari Bumi; Bulan berada sangat dekat dengan kita, sementara Pleiades berjarak sekitar 440 tahun cahaya.

3. Bulan berpapasan dengan Mars sebelum fajar

ilustrasi Bulan dan Mars (unsplash.com/Kevin Buman)

Pada 6—7 September, Bulan kembali menjadi aktor utama. Kali ini ia akan tampak berdekatan dengan Mars, planet yang sering dijuluki Planet Merah karena warna permukaannya. Berdasarkan kalender astronomi, pasangan Bulan dan Mars dapat diamati pada dini hari dengan arah pandang ke timur. Konjungsi ini menjadi menarik karena Mars terlihat sebagai titik kemerahan yang jauh lebih redup dibandingkan dengan Bulan.

Waktu pengamatan menjadi faktor penting. Fenomena ini bukan tontonan yang ideal selepas Matahari terbenam, sebab Mars berada di langit pagi. Pengamat sebaiknya mencari lokasi dengan horizon timur yang tidak terhalang bangunan, pepohonan, atau pegunungan. Semakin dekat dengan Matahari terbit, langit semakin terang sehingga objek redup seperti Mars akan semakin sulit ditemukan. Karena itu, pengamatan sebaiknya dilakukan sebelum cahaya fajar terlalu kuat.

Pertemuan Bulan dan Mars juga memberikan gambaran sederhana mengenai pergerakan Bulan di langit. Bulan bergerak relatif cepat terhadap latar belakang bintang, sehingga dari satu hari ke hari berikutnya ia dapat terlihat berpindah dari satu kawasan langit ke kawasan lainnya. Akibatnya, Bulan tampak seperti sedang “mengunjungi” planet yang berbeda-beda. Padahal tidak ada pertemuan fisik antara kedua benda langit tersebut. Mereka hanya kebetulan berada pada arah pandang yang berdekatan jika diamati dari Bumi.

4. Bulan dan Jupiter tampil sebagai pasangan terang

ilustrasi Bulan dan Jupiter (unsplash.com/Luca Bravo)

Setelah Mars, Bulan kembali bertemu planet lain. Pada 8—9 September, giliran Jupiter yang berada di dekat Bulan. Data observasi mencatat jarak tampak keduanya sekitar 0,8—0,9 derajat, sehingga pasangan ini termasuk salah satu konfigurasi Bulan-planet yang sangat menarik pada September. Keduanya dapat diamati dari Indonesia menjelang fajar dengan arah pandang ke timur.

Jupiter akan jauh lebih mudah dikenali dibandingkan dengan Mars karena kecerlangannya jauh lebih tinggi. Bahkan, tercatat Jupiter berada pada magnitudo -1,8 hingga -1,9 pada periode tersebut. Dengan mata telanjang, Jupiter akan terlihat seperti titik cahaya sangat terang yang tidak berkelap-kelip sebanyak bintang. Jika menggunakan binokular atau teleskop kecil, pengamat juga dapat berkesempatan melihat beberapa satelit Galilea Jupiter sebagai titik-titik kecil di sekitarnya, meskipun konfigurasi satelit berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Bagi pemburu foto langit, pasangan Bulan dan Jupiter juga cukup bersahabat. Keduanya bisa dimasukkan dalam satu frame menggunakan kamera dengan lensa yang memiliki bidang pandang cukup luas. Namun, jangan berharap detail permukaan Bulan dan satelit Jupiter langsung muncul sempurna dalam satu pengaturan kamera karena tingkat kecerahan kedua objek sangat berbeda. Untuk sekadar menikmati fenomenanya, mata telanjang sebenarnya sudah cukup. Yang paling penting justru memilih lokasi dengan horizon timur yang terbuka dan datang sebelum fajar.

5. Epsilon-Perseid mencapai puncaknya

‎ilustrasi Epsilon-Perseid bersama galaksi Bimasakti (commons.wikimedia.org/Julia Kravchuk)

September tidak hanya menghadirkan planet dan Bulan. Ada pula hujan meteor September Epsilon-Perseid yang diperkirakan mencapai aktivitas maksimum sekitar 9–10 September. Menurut kalender astronomi yang dirangkum In-The-Sky.org, hujan meteor ini memiliki aktivitas rendah dengan ZHR sekitar 5–8 meteor per jam dalam kondisi ideal. Artinya, fenomena ini memang tidak seheboh Perseid pada Agustus, tetapi tetap menarik karena puncaknya berdekatan dengan fase Bulan baru sehingga cahaya Bulan tidak terlalu mengganggu.

Istilah ZHR atau zenithal hourly rate juga perlu dipahami supaya ekspektasi pengamat tidak terlalu tinggi. Angka delapan meteor per jam bukan berarti setiap orang pasti melihat delapan meteor dalam satu jam. ZHR merupakan angka teoritis dalam kondisi ideal, termasuk radian berada tinggi di langit, langit benar-benar gelap, dan tidak ada gangguan cuaca. Di dunia nyata, jumlah meteor yang terlihat bisa jauh lebih sedikit. Untuk Indonesia, kondisi atmosfer, polusi cahaya, dan posisi radiant akan sangat menentukan hasil pengamatan.

Kabar baiknya, Bulan baru terjadi pada 11 September, hanya beberapa hari setelah puncak hujan meteor. Artinya, periode sekitar 9–10 September memiliki langit yang relatif gelap. Pengamat sebaiknya meninggalkan pusat kota dan mencari lokasi minim polusi cahaya. Tidak perlu menggunakan teleskop karena meteor bergerak cepat dan dapat muncul di berbagai bagian langit. Justru pandangan mata yang luas lebih berguna. Berbaring atau duduk dengan nyaman, biarkan mata beradaptasi dengan kegelapan, lalu bersabarlah. Hujan meteor bukan pertunjukan yang berjalan sesuai permintaan manusia.

6. Bulan sabit dan Venus menjadi pasangan paling fotogenik

ilustrasi Bulan dan Venus (commons.wikimedia.org/Glenn Beltz)

Kalau harus memilih salah satu fenomena paling cantik untuk difoto pada September, Bulan sabit dan Venus pada 13—14 September layak menjadi kandidat utama. Tercatat pertemuan keduanya dapat diamati dari Indonesia pada petang hari dengan arah pandang ke barat. Venus akan tampil sangat terang, sementara Bulan sabit tipis memberikan komposisi visual yang dramatis. Bahkan terdapat geometri okultasi Venus oleh Bulan pada periode tersebut, meskipun keterlihatan detail okultasinya bergantung pada lokasi pengamat dan kondisi langit.

Fenomena ini menarik karena Bulan dan Venus merupakan dua objek paling terang yang dapat terlihat di langit setelah Matahari. Venus tidak menghasilkan cahaya sendiri; sinarnya berasal dari pantulan cahaya Matahari pada atmosfer dan permukaannya. Bulan juga tidak bercahaya sendiri. Ketika keduanya muncul berdekatan, manusia seolah mendapatkan “duet cahaya” di langit senja. Namun, secara fisik, keduanya berada pada jarak yang sangat berbeda dari Bumi dan tidak benar-benar berdekatan.

Buat pengamat Indonesia, jangan menunggu sampai malam terlalu larut. Setelah Matahari terbenam, cari horizon barat yang terbuka dan mulai mengamati ketika langit masih memiliki semburat cahaya. Venus biasanya akan menjadi objek pertama yang mudah ditemukan. Setelah itu, cari sabit Bulan di dekatnya. Fenomena ini sangat cocok untuk fotografi lanskap karena siluet bangunan, pepohonan, pegunungan, atau garis pantai dapat dimasukkan ke dalam komposisi. Namun, jangan melihat Matahari secara langsung ketika masih berada di sekitar horizon karena dapat merusak mata.

7. Bulan bertemu Antares, jantung merah Scorpius

ilustrasi Bulan dan Antares (commons.wikimedia.org/Ox1997cow)

Pada 17 September, Bulan kembali melakukan “kunjungan” ke objek langit lain, yakni Antares, salah satu bintang paling terkenal di rasi Scorpius. Kalender astronomi mencatat jarak tampak Bulan dan Antares sekitar 0,6 derajat. Dari Indonesia, keduanya dapat diamati pada petang hari dengan posisi di sekitar selatan hingga barat daya.

Antares memiliki warna kemerahan yang menarik jika diamati dengan mata telanjang. Bintang ini merupakan superraksasa merah dan termasuk salah satu bintang paling terang di langit malam. Warna merahnya juga menjadi alasan mengapa Antares sejak zaman dahulu sering dikaitkan dengan Mars. Bahkan, nama Antares secara etimologis berkaitan dengan gagasan “saingan Ares”, nama Yunani untuk Mars. Jadi, ketika Bulan tampak berdekatan dengan Antares, pengamat sebenarnya sedang menyaksikan Bulan bertemu salah satu bintang merah paling terkenal di langit.

Dari Indonesia, pengamatan dapat dilakukan setelah Matahari terbenam, selama Antares masih berada cukup tinggi di atas horizon. Semakin gelap langit, warna kemerahan Antares akan lebih mudah dibedakan. Pasangan ini juga menarik untuk fotografi, karena Bulan dapat menjadi sumber cahaya utama dalam frame, sedangkan Antares muncul sebagai titik kecil berwarna kemerahan. Sekali lagi, kedekatan tersebut hanya ilusi perspektif. Bulan hanya berjarak sekitar 384 ribu kilometer dari Bumi, sedangkan Antares berada pada skala ratusan tahun cahaya.

8. Hari tanpa bayangan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia

ilustrasi ekuinoks saat Matahari terbenam (commons.wikimedia.org/Biswarup Ganguly)

Jika tujuh fenomena sebelumnya terjadi di langit, fenomena kedelapan justru dapat diamati melalui sesuatu yang sangat dekat dengan kita; yaitu bayangan benda di permukaan Bumi. BMKG menjelaskan bahwa hari tanpa bayangan atau kulminasi utama terjadi ketika Matahari berada tepat di zenit suatu lokasi. Akibatnya, benda tegak dapat menghasilkan bayangan yang sangat pendek atau seolah-olah menghilang karena bayangannya bertumpuk dengan benda tersebut.

September 2026 menjadi sangat menarik karena salah satu momen penting terjadi di Pontianak pada 23 September sekitar pukul 11.35 WIB. BMKG secara resmi mencatat bahwa Matahari tepat berada di atas Kota Pontianak pada waktu tersebut. Tanggal ini juga berdekatan dengan ekuinoks September, ketika Matahari melintasi ekuator langit. Karena Indonesia membentang luas dari barat ke timur dan berada di sekitar ekuator, fenomena kulminasi utama tidak terjadi serentak di semua kota. Setiap wilayah memiliki tanggal dan waktu masing-masing.

Fenomena ini bisa menjadi eksperimen sains sederhana yang sangat menarik. Siapkan tongkat atau benda tegak yang berdiri lurus di permukaan datar, kemudian amati panjang bayangannya mendekati waktu kulminasi lokal. Ketika Matahari mencapai posisi paling tinggi, bayangan akan menjadi sangat pendek. Namun, jangan pernah mengamati Matahari secara langsung dengan mata telanjang, kamera, maupun teleskop tanpa filter Matahari yang sesuai. Untuk mengamati hari tanpa bayangan, yang perlu diperhatikan justru bayangannya, bukan menatap sumber cahaya secara langsung.

9. Harvest Moon menutup September dengan cahayanya

ilustrasi fenomena Harvest Moon (unsplash.com/Ganapathy Kumar)

Penghujung September menghadirkan salah satu fenomena paling populer, yaitu Harvest Moon. Purnama September 2026 terjadi pada 26 September pukul 16.49 UTC, atau sekitar 23.49 WIB. Untuk wilayah WITA dan WIT, waktunya bergeser menjadi 27 September karena perbedaan zona waktu. Purnama ini juga menjadi fenomena utama yang dapat diamati dari Indonesia.

Istilah Harvest Moon berasal dari tradisi penamaan purnama di belahan Bumi utara. Purnama ini secara tradisional dikaitkan dengan masa panen dan purnama yang berada paling dekat dengan ekuinoks September. Jadi, Harvest Moon bukan nama astronomis resmi untuk sebuah jenis Bulan yang berbeda. Bulan tidak tiba-tiba berubah ukuran, komposisi, atau warna hanya karena diberi nama Harvest Moon. Bahkan, Wired menegaskan bahwa tidak ada perubahan fisik khusus pada Bulan ketika purnama tersebut terjadi.

Bagi masyarakat Indonesia, purnama tersebut tetap menjadi tontonan langit yang mudah dinikmati. Bulan akan tampak terang dan dapat diamati tanpa teleskop. Jika ingin mendapatkan foto yang menarik, perhatikan waktu Bulan terbit di lokasi masing-masing dan manfaatkan objek di foreground seperti gedung, pepohonan, candi, gunung, atau garis pantai. Jangan pula buru-buru menyebutnya supermoon. Status supermoon membutuhkan kriteria geometris tertentu, terkait kedekatan Bulan dengan perige, bukan sekadar karena Bulan sedang purnama. Jadi, Harvest Moon pada September 2026 tetap menarik, meskipun tidak harus diberi embel-embel “super”.

September 2026 memperlihatkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki posisi yang sangat menarik untuk mengamati langit. Negara kepulauan yang membentang di sekitar ekuator ini tidak hanya menjadi penonton fenomena astronomi yang terjadi jauh di luar angkasa, tetapi juga memiliki fenomena khas yang terasa langsung di permukaan Bumi. Dari Venus yang berdampingan dengan Spica pada awal bulan, Pleiades yang muncul di dekat Bulan, Mars dan Jupiter yang menemani Bulan menjelang fajar, sampai Bulan sabit yang berduet dengan Venus, langit Indonesia sepanjang September seperti memiliki agenda pertunjukan sendiri. Ditambah lagi dengan Epsilon-Perseid yang hadir ketika langit relatif gelap, Antares yang tampak kemerahan, serta hari tanpa bayangan yang dapat diamati di wilayah-wilayah tertentu, September bukan bulan yang layak dilewatkan begitu saja oleh pencinta astronomi.

Fenomena langit tidak selalu membutuhkan teleskop mahal atau perjalanan ke observatorium. Beberapa pertunjukan terbaik September justru dapat diamati dengan mata telanjang dari halaman rumah, pantai, dataran tinggi, persawahan, atau tempat lain yang memiliki pandangan langit yang luas. Walau sembilan fenomena langit September 2026 yang bisa diamati dari Indonesia menarik untuk disimak, waktu, posisi ideal, dan cuaca tetap jadi penentu utama untuk melihat dengan jelas fenomena tersebut. Jadi, segera tandai tanggalnya untuk menikmati fenomena langit tersebut, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article