Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Hal yang Dialami Hewan saat Kebakaran Hutan, Gak Cuma Hilang Habitat
ilustrasi rusa di tengah pepohonan yang sudah terbakar. (pexels.com/Jeremy Li)
  • Satwa bermobilitas tinggi seperti rusa, beruang, dan burung cenderung menjauh dari api, sedangkan hewan kecil memanfaatkan liang, celah batu, lubang pohon, atau area lembap.
  • Api yang menyebar cepat, panas, dan asap membuat satwa bermobilitas terbatas seperti ular rentan terjebak; trenggiling ditemukan mati di area karhutla Ketapang.
  • Satwa yang lolos tetap menghadapi hilangnya makanan, air, dan tempat berlindung, serta risiko stres, predator, persaingan, penyakit, dan perpindahan ke habitat lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan tidak hanya menghanguskan pepohonan. Di Ketapang, Kalimantan Barat, tim pemadam menemukan seekor trenggiling yang mati di area terdampak kebakaran, sementara ular juga dilaporkan menjadi salah satu satwa yang ditemukan mati akibat api. Dilansir ANTARA, temuan tersebut menjadi gambaran langsung bahwa satwa liar ikut berada di jalur bahaya ketika api melalap habitat mereka.

Di wilayah yang sama, kebakaran dan rusaknya habitat juga dapat mendorong satwa seperti orangutan keluar dari hutan untuk mencari tempat yang lebih aman. Namun, ketika api mulai mendekat, ke mana sebenarnya hewan-hewan liar pergi dan bagaimana mereka berusaha bertahan? Berikut gambaran tiga cara yang dilakukan satwa liar untuk menyelamatkan diri dari kepungan api.

1. Hewan berusaha menyelamatkan diri dari api dan asap

ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Emma Renly)

Respons hewan ketika kebakaran hutan terjadi tidak selalu sama karena bergantung pada spesies, kemampuan bergerak, dan habitatnya. Dilansir U.S. Fish & Wildlife Service, hewan yang memiliki mobilitas tinggi seperti rusa dan beruang dapat berpindah menjauhi area yang terbakar ke tempat yang lebih aman. Burung juga dapat menggunakan kemampuan terbangnya untuk menjauh dari kobaran api, meski tidak semua burung memiliki kemampuan yang sama untuk menghindari kebakaran.

Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Ecology Letters pada 2023, hewan yang lebih kecil atau memiliki pergerakan terbatas dapat memanfaatkan tempat perlindungan alami seperti liang, celah batu, lubang pohon, atau area yang lembap. Beberapa amfibi dan hewan kecil bahkan dapat berlindung di dalam tanah atau berpindah ke bagian perairan yang lebih aman. Tempat-tempat tersebut berfungsi sebagai refugia, yakni area yang memberikan perlindungan dari panas dan api.

2. Tidak semua hewan berhasil melarikan diri

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Vadim Braydov)

Tidak semua hewan atau satwa berhasil melarikan diri ketika kebakaran hutan terjadi, terutama saat api menyebar lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk bergerak. Penelitian yang terbit dalam jurnal Ecology Letters pada 2023 juga menjelaskan, peluang satwa untuk menyelamatkan diri dipengaruhi kemampuan bergerak, waktu mendeteksi bahaya, serta kondisi lingkungan di sekitarnya. Kemampuan bertahan juga dipengaruhi oleh intensitas kebakaran dan kondisi habitat di sekitarnya.

Beberapa satwa dengan mobilitas terbatas, seperti ular dan reptil lainnya, dapat lebih rentan terjebak ketika api meluas karena tidak selalu memiliki jalur pelarian yang aman. Oleh karena itu, ketika api meluas dengan cepat, tidak semua satwa memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. Terlebih, panas dan asap juga bisa membahayakan satwa meski mereka tidak terkena kobaran api secara langsung. Sebagai contoh, seekor trenggiling ditemukan mati di tengah kawasan terdampak karhutla di Ketapang, Kalimantan Barat, menunjukkan bahwa tidak semua satwa berhasil menemukan tempat perlindungan ketika api meluas.

3. Selamat dari api bukan berarti masalahnya selesai

ilustrasi rusa di tengah pepohonan yang sudah terbakar. (pexels.com/Eloi Motte)

Selamat dari kobaran api bukan berarti kehidupan satwa langsung kembali normal setelah kebakaran berakhir. Penelitian yang terbit dalam jurnal Fire Ecology pada 2010 menemukan bahwa satwa yang bertahan harus menghadapi perubahan habitat, termasuk berkurangnya sumber makanan, air, dan tempat berlindung. Sebagian satwa juga terpaksa berpindah ke wilayah lain untuk mencari kebutuhan hidup yang hilang akibat kebakaran.

Perpindahan ini bisa membuat mereka lebih rentan terhadap stres, predator, persaingan mendapatkan makanan, hingga penyakit. Berdasarkan penelitian lain yang juga terbit dalam jurnal Fire Ecology tahun 2021, perubahan lingkungan setelah kebakaran juga dapat memengaruhi pola penyakit pada satwa liar, terutama ketika mereka berkumpul di habitat yang tersisa. Artinya, bagi satwa yang berhasil lolos dari api, perjuangan untuk bertahan hidup masih berlanjut bahkan setelah asap mulai menghilang.

Kebakaran hutan bukan hanya menghanguskan pepohonan, tetapi juga memaksa satwa berjuang mempertahankan hidup di habitat yang berubah. Bagi sebagian satwa, ancaman bahkan belum berakhir setelah api padam karena makanan, tempat berlindung, dan wilayah hidup mereka ikut hilang. Lalu, jika hutan yang menjadi rumah mereka terus terbakar, ke mana satwa-satwa ini harus pergi?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article