Mengapa Lahan Gambut Mudah Terbakar?

- Musim kemarau menurunkan kadar air gambut, mengubah timbunan bahan organik dari sisa tanaman menjadi material yang mudah terbakar.
- Risiko kebakaran meningkat akibat pengeringan berkepanjangan dan saluran drainase yang menurunkan muka air tanah, sehingga lapisan gambut kehilangan kelembapan.
- Api dapat merambat dan bertahan sebagai bara di bawah permukaan, sulit dideteksi serta membutuhkan pembasahan hingga lapisan terdalam untuk dipadamkan.
Lahan gambut jadi salah satu kawasan yang cukup rawan mengalami kebakaran karena kondisinya bisa jauh lebih kering, terutama pada musim kemarau. Padahal, gambut dikenal mampu menyimpan banyak air, sehingga sekilas rasanya kawasan ini gak akan gampang terbakar. Namun saat kelembapannya mulai hilang, kenapa lahan gambut justru bisa jadi begitu mudah terbakar?
Masalahnya bukan sekadar cuaca panas, lho, karena kondisi gambut yang kehilangan kelembapan membuat material organik di dalamnya lebih mudah terbakar. Api yang sudah muncul bahkan dapat menjalar ke lapisan gambut dan sulit dideteksi maupun dipadamkan. Nah, sebelum menganggap kebakaran gambut sama seperti kebakaran lahan biasa, yuk, simak alasan kenapa kawasan ini begitu rentan dilahap api.
1. Gambut menyimpan banyak bahan organik yang mudah terbakar

ilustrasi kebakaran hutan (magnific.com/pvproductions) Lahan gambut terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tanaman yang menumpuk dan mengalami proses penguraian selama periode yang sangat lama. Mengingat betapa kayanya gambut dengan bahan organik, gambut sebenarnya bisa menyimpan air dalam jumlah besar ketika kondisinya tetap basah. Namun, ketika musim kemarau tiba dan membuat kadar air berkurang, material organik itu dapat berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar, lho.
Keadaan ini berbeda dengan tanah mineral yang umumnya tidak memiliki lapisan bahan organik setebal gambut. Ketika gambut berada dalam keadaan kering, api tidak hanya membakar vegetasi di atas, tetapi juga dapat menjalar ke lapisan organik bawahnya. Inilah yang menjadikan kebakaran di lahan gambut jauh lebih rumit.
2. Gambut lebih mudah kehilangan kelembapannya di musim kemarau

ilustrasi cuaca panas (magnific.com/lifeforstock) Gambut yang masih basah biasanya sulit terbakar karena kadar airnya membantu menjaga agar bahan organik tetap lembap. Masalah mulai muncul ketika kemarau berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan pasokan air mulai berkurang, sehingga permukaan hingga lapisan gambut secara perlahan mengering. Semakin kering keadaannya, semakin tinggi pula kemungkinan terbakarnya ketika terkena sumber api.
Penurunan kadar air ini juga dapat dipengaruhi oleh aktivitas manusia, seperti pembangunan saluran drainase yang mengalirkan air keluar dari area gambut. Ketika permukaan air tanah menurun drastis, lapisan gambut yang seharusnya tetap lembap pun mengering dan menjadi lebih mudah terbakar. Dengan demikian, kondisi kemarau dan perubahan sistem pengairan dapat saling memperbesar risiko kebakaran.3. Api bisa menjalar ke dalam lapisan gambut

ilustrasi api (magnific.com/jcomp) Salah satu karakteristik unik dari kebakaran gambut adalah kemampuan api untuk merambat pelan-pelan di bawah tanah. Dari luar, suatu lokasi mungkin tampak hanya mengeluarkan asap atau terbakar kecil, padahal di bawah permukaan mungkin terdapat bara api yang masih menyala. Situasi semacam ini membuat keberadaan titik api sering kali sulit diidentifikasi hanya dengan memeriksa permukaan.
Api yang bergerak di bawah tanah bisa kembali muncul di tempat yang cukup jauh dari titik awal kebakaran. Oleh karena itu, proses pemadaman tidak hanya cukup dengan menyiram permukaan karena lapisan gambut di bawah tanah masih dapat menyimpan panas. Inilah alasan mengapa kebakaran gambut sering kali memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh.4. Gambut yang kering jadi bahan bakar alami

ilustrasi hutan (magnific.com/wirestock) Bayangkan lapisan gambut sebagai tumpukan bahan organik yang sudah kering karena kehilangan banyak air selama musim kemarau. Ketika ada sumber api, bahan ini dapat membantu api terus bertahan lebih lama dan memungkinkan penyebarannya ke area lain yang juga kering. Semakin luas area gambut yang mengering, semakin banyak juga bahan yang berpotensi terbakar.
Risiko semakin meningkat kalau di sekitar area tersebut terdapat semak, rerumputan, ranting, atau sisa-sisa tumbuhan yang juga telah kering. Material-material ini bisa membantu api menyebar dari permukaan ke wilayah gambut yang lebih luas. Jadi, keadaan lahan yang kering tidak hanya mengakibatkan tanaman layu, tetapi juga bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran.5. Kebakaran gambut sulit dipadamkan dan bisa berlangsung lama

ilustrasi lahan terbakar yang sulit dipadamkan (magnific.com/pvproductions) Kebakaran di lahan gambut gak selalu benar-benar selesai meski api di permukaannya sudah kelihatan padam. Di bawah tanah, bara masih bisa bertahan dan perlahan menjalar ke bagian gambut yang kering, lalu muncul lagi ketika kondisinya mendukung. Jadi, area yang sekilas sudah aman belum tentu benar-benar bebas dari api, lho.
Proses pemadaman juga membutuhkan air dalam jumlah dan teknik yang sesuai agar bagian gambut yang terbakar benar-benar basah hingga ke lapisan terdalam. Kalau hanya permukaannya yang disiram, api di bawah tanah masih berpotensi bertahan dan menyebar. Nah, itulah kenapa menjaga gambut tetap basah selama musim kemarau menjadi salah satu bagian penting dalam mencegah kebakaran.
Lahan gambut lebih mudah terbakar karena kandungan airnya rendah, sementara material organik yang mengering bisa menjadi bahan bakar bagi api. Kebakaran juga lebih sulit ditangani karena api dapat menjalar hingga ke dalam lapisan gambut dan bertahan di bawah permukaan. Nah, sekarang jadi lebih paham kan kenapa lahan gambut perlu ekstra dijaga saat kemarau?




















