Abu vulkanik tidak hanya menjadi ancaman bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api, tetapi juga dapat menimbulkan masalah serius bagi penerbangan. Partikel yang terangkat ke atmosfer setelah erupsi bisa terbawa angin hingga ratusan bahkan ribuan kilometer, membuat pesawat tetap berpotensi menghadapi abu meski terbang cukup jauh dari gunung yang sedang aktif.
Risikonya juga berbeda dengan awan atau cuaca buruk yang biasa dihadapi pesawat. Abu vulkanik dapat mengikis kaca kokpit dan permukaan pesawat, mengganggu instrumen penerbangan, hingga masuk ke mesin jet, sementara ukurannya yang sangat kecil membuat material ini tidak dapat dideteksi menggunakan radar cuaca pesawat maupun radar lalu lintas udara biasa.
Pada kondisi paling serius, abu yang masuk ke mesin dapat meleleh akibat temperatur tinggi, kemudian mengeras kembali dan menempel pada komponen di dalam mesin. Proses tersebut dapat mengganggu aliran udara, mengurangi performa mesin, hingga menyebabkan kehilangan daya dorong.
