Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa yang Harus Dilakukan Saat Gunung Api Erupsi? Ini Panduannya

Apa yang Harus Dilakukan Saat Gunung Api Erupsi? Ini Panduannya
ilustrasi erupsi gunung berapi (commons.wikimedia.org/Giles Laurent)
  • Erupsi gunung api dapat memunculkan ancaman lava, lahar, aliran piroklastik, gas vulkanik, dan hujan abu.
  • Instruksi evakuasi serta zona terlarang dari otoritas setempat menjadi acuan utama bagi masyarakat terdampak.
  • Saat hujan abu, masyarakat dianjurkan berlindung, membatasi masuknya abu, memakai N95 bila keluar, dan menghindari perjalanan tidak mendesak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Erupsi gunung api dapat menghadirkan beberapa ancaman sekaligus, mulai dari aliran lava, lahar, aliran piroklastik, gas vulkanik, hingga hujan abu. Dalam situasi seperti ini, langkah terpenting bukan mendekati lokasi untuk melihat aktivitas gunung, tetapi mengikuti arahan otoritas setempat, termasuk segera melakukan evakuasi ketika perintah tersebut dikeluarkan.

Bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di kawasan gunung api atau wilayah yang berpotensi terkena hujan abu, perlindungan juga tidak berhenti pada proses evakuasi. Abu vulkanik dapat mengganggu pernapasan dan mata, sementara material yang terus menumpuk dapat membebani bangunan serta membuat perjalanan menggunakan kendaraan semakin berisiko.

Panduan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta (BPBD DIY), Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, dan National Emergency Management Agency (NEMA) Selandia Baru memberikan sejumlah langkah praktis yang relevan untuk situasi tersebut. Mulai dari berlindung di dalam rumah, menutup akses masuknya abu, menggunakan respirator dan pelindung mata, sampai menghindari sungai dan daerah rendah ketika ada risiko lahar, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan ketika erupsi terjadi.

  1. Utamakan instruksi evakuasi dari otoritas

    tanda jalur evakuasi
    tanda jalur evakuasi (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)

    CDC menempatkan arahan otoritas setempat sebagai acuan utama selama erupsi. Jika masyarakat sudah mendapat peringatan untuk meninggalkan suatu wilayah karena erupsi akan terjadi, proses evakuasi sebaiknya segera dilakukan dan tidak menunggu sampai ancaman terlihat secara langsung.

    Prinsip yang sama berlaku ketika lava, lahar, atau aliran piroklastik bergerak menuju lokasi tempat seseorang berada. CDC menyarankan untuk segera meninggalkan area tersebut. Jika evakuasi menggunakan kendaraan, pintu dan jendela perlu tetap tertutup, sambil tetap memperhatikan potensi bahaya yang muncul di jalan.

    Dalam konteks Indonesia, prinsip tersebut berarti masyarakat perlu menjadikan instruksi resmi dari otoritas di wilayah terdampak sebagai dasar mengambil keputusan. Radius atau zona yang sudah dinyatakan terlarang juga tidak boleh dimasuki, sejalan dengan panduan NEMA yang meminta masyarakat menjauhi seluruh restricted zones selama aktivitas vulkanik berlangsung.

  2. Saat hujan abu, berlindung di dalam bangunan

    Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menyebar hingga warga di Jakarta Barat, Minggu (6/9/2026). (IDN Times/Anata Siregar)
    Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menyebar hingga warga di Jakarta Barat, Minggu (6/9/2026). (IDN Times/Anata Siregar)

    Jika tidak berada di zona yang harus dievakuasi tetapi wilayah mulai terkena hujan abu, berlindung di dalam bangunan menjadi salah satu langkah utama. CDC menyarankan masyarakat tetap berada di dalam ruangan jika memungkinkan, kemudian menutup seluruh pintu dan jendela agar jumlah abu yang masuk dapat dikurangi.

    NEMA juga memberikan rekomendasi serupa dan menyarankan penggunaan handuk lembap pada celah di bagian bawah pintu untuk membatasi masuknya abu. Langkah sederhana seperti ini menjadi relevan bagi rumah di kawasan terdampak karena partikel abu dapat masuk melalui berbagai celah meskipun pintu dan jendela sudah ditutup.

    CDC turut menyarankan mematikan kipas serta sistem pemanas dan pendingin udara yang dapat menarik udara dari luar. Jika memiliki hewan peliharaan atau ternak, hewan tersebut juga sebaiknya ditempatkan di tempat berlindung yang tertutup selama kondisi memungkinkan.

  3. Gunakan N95 dan kacamata jika harus keluar rumah

    Masker N95
    Masker N95 (pexels.com/CDC)

    Tidak semua orang dapat sepenuhnya menghindari aktivitas di luar ruangan selama hujan abu. Jika memang harus keluar, BPBD DIY mengingatkan untuk menggunakan masker N95 agar melindungi paru-paru dari partikel abu, termasuk ketika seseorang membersihkan abu yang sudah masuk ke dalam bangunan. Masker debu biasa dapat digunakan sebagai pilihan terakhir ketika N95 tidak tersedia, tetapi perlindungannya terhadap partikel tidak sebaik N95.

    Perlindungan mata juga perlu diperhatikan. CDC menyarankan penggunaan goggles, pakaian lengan panjang, dan celana panjang, sedangkan NEMA meminta sebanyak mungkin bagian kulit ditutup jika seseorang harus berada di luar. NEMA juga menyarankan menggunakan kacamata biasa alih-alih lensa kontak ketika terjadi hujan abu karena lensa kontak dapat meningkatkan risiko abrasi kornea.

  4. Jangan berlindung di sekitar sungai ketika ada ancaman lahar

    Ancaman selama erupsi tidak selalu datang langsung dari kawah. BPBD DIY memberi peringatan pada masyarakat yang berada di dekat sungai atau aliran air untuk mewaspadai kenaikan permukaan air dan kemungkinan munculnya mudflow atau aliran lumpur di daerah rendah.

    Jika kondisi tersebut muncul, masyarakat disarankan bergerak menuju tempat yang lebih tinggi secepat mungkin. Rekomendasi ini penting karena berada jauh dari kawah tidak otomatis menghilangkan seluruh ancaman ketika material vulkanik dapat bergerak mengikuti jalur sungai dan kawasan rendah.

    Sementara jika seseorang berada di luar ketika erupsi mulai terjadi, NEMA menyarankan segera mencari perlindungan di dalam bangunan atau kendaraan. Jika terkena hujan abu dalam perjalanan menuju tempat berlindung, hidung dan mulut perlu ditutup menggunakan masker debu atau kain ketika perlindungan pernapasan yang lebih baik tidak tersedia.

  5. Sebisa mungkin jangan berkendara saat hujan abu lebat

    Menggunakan kendaraan untuk menjauh dari zona bahaya berbeda dengan berkendara tanpa kebutuhan mendesak ketika hujan abu sedang lebat. CDC menyarankan masyarakat menghindari berkendara dalam kondisi hujan abu berat karena pergerakan kendaraan dapat membuat abu yang sudah mengendap kembali beterbangan.

    Abu juga dapat masuk dan menyumbat mesin hingga membuat kendaraan mogok. Karena itu, jika kendaraan tidak diperlukan untuk evakuasi atau kebutuhan mendesak lainnya, CDC menyarankan mesin mobil atau truk tetap dimatikan.

    Jika berkendara memang tidak dapat dihindari, jendela mobil perlu tetap tertutup. CDC juga menyarankan tidak mengoperasikan sistem AC yang membawa udara dari luar karena sistem tersebut dapat menarik abu masuk ke dalam kabin.

  6. Waspadai abu yang terus menumpuk di atap

    Berlindung di dalam rumah memang menjadi salah satu rekomendasi utama ketika terjadi hujan abu, tetapi kondisi bangunan tetap perlu diperhatikan jika hujan abu berlangsung lama. CDC memperingatkan bahwa abu yang terus jatuh selama berjam-jam dapat menambah beban pada atap bangunan dan pada kondisi tertentu berpotensi menyebabkan keruntuhan.

    Akumulasi abu juga dapat menutup saluran udara bangunan. Karena itu, jika hujan abu berlangsung selama beberapa jam, masyarakat perlu terus mengikuti informasi dari otoritas mengenai apakah masih aman berlindung di tempat atau perlu berpindah menuju lokasi yang lebih aman.

    Bagi rumah yang menggunakan talang, NEMA menyarankan memutus sambungan pipa pembuangan dari talang untuk mencegah saluran tersumbat. Sementara rumah yang menggunakan sistem penampungan air hujan disarankan memutus hubungan tangki dari sistem penampungan agar abu tidak ikut masuk ke sumber air tersebut.

  7. Gas vulkanik juga perlu diwaspadai

    Orang yang mengalami gejala ISPA
    gambar orang yang mengalami gejala ISPA (magnific.com/rawpixel.com)

    Abu bukan satu-satunya ancaman terhadap kesehatan selama erupsi. CDC menyebut gas dan asap vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, sehingga seseorang perlu segera menjauh dari area tersebut apabila mulai mengalami gejala.

    Gejala tersebut seharusnya berkurang setelah seseorang tidak lagi terpapar gas atau asap. Jika keluhan terus berlanjut, CDC menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter, sementara luka bakar akibat aktivitas vulkanik memerlukan pertolongan medis segera karena penanganan cepat dapat menyelamatkan nyawa.

    Kelompok dengan gangguan pernapasan juga perlu memberikan perhatian lebih terhadap hujan abu. NEMA mengingatkan agar orang dengan kondisi seperti asma atau bronkitis perlu tetap berada di dalam ruangan karena abu vulkanik dapat menjadi ancaman bagi kesehatan pernapasan.

  8. Informasi resmi menjadi pegangan selama erupsi

    ilustrasi erupsi
    ilustrasi erupsi (commons.wikimedia.org/Mamoxfwidayat)

    Situasi gunung api dapat berubah dan tidak semua wilayah menghadapi jenis ancaman yang sama. Karena itu, panduan umum seperti penggunaan N95, berlindung dari abu, atau menghindari perjalanan tidak menggantikan instruksi evakuasi yang diberikan otoritas ketika kondisi di lapangan sudah membutuhkan masyarakat meninggalkan suatu kawasan.

    BPBD DIY juga menyarankan masyarakat terus mengikuti informasi darurat dan tidak membebani saluran telepon dengan panggilan yang bukan bersifat darurat. Tujuannya agar komunikasi tetap tersedia bagi kebutuhan yang lebih mendesak selama penanganan bencana berlangsung.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More