Sumber Referensi :
Jacob, S., Immer, A., Leclaire, S., Parthuisot, N., Ducamp, C., Espinasse, G., & Heeb, P. (2014). Uropygial gland size and composition varies according to experimentally modified microbiome in Great tits. BMC Evolutionary Biology, 14(1), 134.
Braun, M. S., Sporer, F., Zimmermann, S., & Wink, M. (2018). Birds, feather-degrading bacteria and preen glands: the antimicrobial activity of preen gland secretions from turkeys (Meleagris gallopavo) is amplified by keratinase. FEMS microbiology ecology, 94(9), fiy117.
Bush, S. E., & Clayton, D. H. (2018). Anti-parasite behaviour of birds. Philosophical transactions of the Royal Society B: Biological sciences, 373(1751), 20170196.
Whittaker, D. J., Atyam, A., Burroughs, N. A., Greenberg, J. M., Hagey, T. J., Novotny, M. V., ... & Slade, J. W. (2023). Effects of short-term experimental manipulation of captive social environment on uropygial gland microbiome and preen oil volatile composition. Frontiers in Ecology and Evolution, 10, 1027399.
Mora‐Rubio, C., García‐Longoria, L., & Marzal, A. (2025). Preening for protection: a systematic review of the antimicrobial properties of uropygial secretions. Journal of Avian Biology, 2025(2), e03425.
Caro, S. P., & Balthazart, J. (2010). Pheromones in birds: myth or reality?. Journal of Comparative Physiology A, 196(10), 751-766.
Sandilands, V. (2001). Preening behaviour in laying hens: Its control and association with other behaviors. University of Glasgow (United Kingdom).
Henson, S. M., Weldon, L. M., Hayward, J. L., Greene, D. J., Megna, L. C., & Serem, M. C. (2012). Coping behaviour as an adaptation to stress: post-disturbance preening in colonial seabirds. Journal of Biological Dynamics, 6(1), 17-37.
Kenapa Burung Rajin Merapikan Bulunya?

- Preening burung untuk menghilangkan parasit dan kotoran
- Merapikan bulu membantu mengatur suhu tubuh burung di berbagai cuaca
- Bulu yang rapi membuat terbang lebih ringan dan hemat tenaga
Kalau pernah memperhatikan burung di dahan atau tepi kolam, kamu mungkin melihat mereka sibuk menggesekkan paruh ke tubuhnya sendiri. Sekilas terihat biasa, padahal di baliknya tersimpan strategi bertahan hidup yang rumit. Merapikan bulu atau preening merupakan rutinitas vital yang menyentuh banyak aspek kehidupan burung. Mulai dari urusan kesehatan, efisiensi terbang, sampai daya tarik di mata pasangan.
Para peneliti perilaku hewan bahkan sudah lama menaruh perhatian pada kebiasaan ini karena dampaknya sangat luas. Nah, supaya tidak penasaran, mari kita telusuri lebih dalam alasan di balik aktivitas tersebut!
1. Menyingkirkan parasit yang mengganggu

Salah satu motif utama burung rajin melakukan preening berkaitan dengan keberadaan parasit eksternal, seperti kutu atau tungau. Dengan paruhnya, burung menyisir helai demi helai bulu untuk menyingkirkan organisme kecil yang menempel. Riset perilaku anti-parasit menemukan bahwa intensitas perawatan sering sejalan dengan banyaknya ektoparasit pada tubuh burung.
Selain parasit, aktivitas ini juga mengangkat kotoran, serpihan kulit mati, hingga spora jamur yang tak kasat mata. Cara ini memang tidak selalu ampuh untuk semua jenis parasit, sebab tiap spesies punya musuh alami yang berbeda. Namun, preening tetap menjadi garis pertahanan pertama sebelum masalah berkembang lebih jauh.
2. Mengatur suhu tubuh di berbagai cuaca

Bulu berfungsi layaknya mantel alami yang melindungi burung dari panas maupun dingin. Agar insulasi bekerja maksimal, helai bulu perlu berada dalam posisi rapat dan saling mengunci. Ketika preening, burung memastikan struktur ini tetap terjaga sehingga panas bisa tertahan saat suhu dingin. Di cuaca panas, bulu yang ditata ulang bisa melancarkan sirkulasi udara untuk mendinginkan tubuh. Singkatnya, merapikan bulu membantu mereka tetap nyaman di segala cuaca.
3. Membuat terbang lebih ringan dan hemat tenaga

Bulu bukan sekadar penutup tubuh, melainkan komponen aerodinamis yang menentukan kualitas terbang. Saat tersusun rapi, aliran udara dapat meluncur mulus di sepanjang sayap. Sebaliknya, bulu yang kusut atau terbuka dapat memicu turbulensi mikro yang menguras banyak energi. Akibatnya, burung harus mengepak lebih keras walaupun jarak tempuhnya belum seberapa. Kondisi ini jelas tidak ideal untuk perjalanan panjang maupun manuver cepat.
4. Menyebarkan minyak alami pelindung bulu

Di bagian pangkal ekor, burung memiliki kelenjar uropygial yang menghasilkan minyak alami. Ketika merapikan diri, burung mengambil minyak ini lalu mengoleskannya ke seluruh permukaan bulu. Lapisan tersebut membuat bulu terasa lentur, tidak rapuh, dan lebih tahan terhadap air.
Studi oleh Braun dkk. (2018) menemukan bahwa sekresi kelenjar ini mengandung aktivitas antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri perusak keratin, komponen utama bulu. Meski komposisinya berbeda antarspesies, fungsi dasarnya masih sama, yakni memperpanjang usia dan kualitas bulu.
5. Tampil menarik di hadapan calon pasangan

Sejumlah riset mengungkap kalau minyak uropygial punya aroma khas yang berubah sesuai kondisi hormonal burung. Aroma ini berpotensi berfungsi sebagai sinyal kimia yang memberi informasi tentang kesehatan dan kesiapan reproduksi.
Selain aroma, tampilan visual memegang peran penting. Bulu yang bersih, rapi, dan berkilau kerap diasosiasikan dengan individu yang bugar. Pada beberapa spesies, frekuensi preening meningkat drastis menjelang musim kawin, seolah burung tengah memoles diri sebelum “unjuk pesona”.
6. Menenangkan diri setelah situasi menegangkan

Aktivitas merapikan bulu juga berkaitan dengan kondisi mental. Gerakan berulang yang ritmis memberikan efek menenangkan, mirip kebiasaan manusia memainkan jari saat cemas. Banyak burung terlihat melakukan preening lebih intens seusai menghadapi ancaman atau konflik sosial.
Lewat sentuhan paruh, burung dapat mengenali bagian tubuh yang terasa tidak nyaman lalu menanganinya. Proses ini membantu tubuh dan pikiran kembali stabil. Setelahnya, burung bisa lanjut beraktivitas dengan kondisi yang lebih siap.
Pada akhirnya, kebiasaan preening memperlihatkan betapa detail kecil bisa menentukan kelangsungan hidup seekor burung. Dari perlindungan fisik hingga sinyal biologis, semua terjalin dalam satu rangkaian perilaku yang efisien. Melalui rutinitas inilah burung menjaga performa terbaiknya untuk bertahan dan berkembang di alam liar.

















