Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Kekaisaran Ottoman Runtuh? Ini Penjelasannya!

Kenapa Kekaisaran Ottoman Runtuh? Ini Penjelasannya!
ilustrasi pendirian Kekaisaran Ottoman (commons.wikimedia.org/Harbiye Askeri Müzesi)
Intinya Sih
  • Kekaisaran Ottoman mulai melemah sejak abad ke-16 ketika Sultan Süleyman I menyerahkan banyak tanggung jawab pemerintahan kepada wazir agung yang kemudian menimbulkan perpecahan internal.
  • Sistem devşirme yang awalnya efektif berubah menjadi sarang korupsi dan nepotisme, membuat para pejabat serta tentara budak lebih berkuasa daripada sultan sendiri.
  • Rangkaian perang panjang melawan Rusia hingga Perang Dunia I mempercepat keruntuhan Ottoman, yang resmi berakhir pada tahun 1922 setelah gelar sultan dihapuskan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kita akan membahas periode yang berada di garis depan wacana geopolitik di Eropa. Waktu itu adalah pertengahan tahun 1850-an, zaman ketika perawat Florence Nightingale menyelamatkan nyawa para prajurit selama Perang Krimea. Ada pula Serangan Brigade Ringan yang merupakan serangan kavaleri Inggris yang gagal total dalam Perang Krimea.

Selain itu, Tsar Nicholas I dari Rusia dianggap sebagai pencetus frasa "orang sakit Eropa" untuk merujuk pada Kekaisaran Ottoman yang sedang mengalami kemunduran di era Revolusi Industri tersebut. Meskipun, seperti yang didokumentasikan dalam buku The Rise and Fall of the Ottoman Empire, Nicholas sebenarnya mengatakan, "Kita memiliki orang sakit di tangan kita, orang yang sangat sakit." Jadi, betapa mustahilnya kejatuhan kekaisaran yang perkasa itu.

Kekaisaran Turki yang dulunya perkasa ini berkuasa sekitar lima abad sebelumnya. Awalnya, Kesultanan Utsmaniyah menaklukan Eropa sehingga umat Kristen melancarkan Perang Salib melawan Muslim pada tahun 1336, 1396, dan 1440. Namun, umat Kristen gagal menghentikan kobaran semangat umat Islam.

Kesultanan Utsmaniyah juga menumbangkan Kekaisaran Bizantium dan mengalahkan Vlad the Impaler, yang kepalanya diawetkan dengan madu dan dikirim kepada Sultan Mehmed II sebagai trofi, yang menghiasi gerbang Konstantinopel yang ditaklukkan. Bagaimana mungkin Utsmaniyah yang dulunya tak terkalahkan ini runtuh sangat parah sebagai sebuah kekaisaran?

1. Kekaisaran Ottoman mengabaikan tugas pemerintahan dan diambil alih wazir agung

Süleyman I
Süleyman I (commons.wikimedia.org/Titian)

Pada tahun 1500-an, Kekaisaran Ottoman mencapai puncak kekuasaannya. Namun, kekaisaran ini mulai merosot perlahan dan tak lagi perkasa seperti dulu. Sultan Süleyman I yang Agung merasa lelah dengan peperangan dan tugas-tugas administratif pemerintahannya. Ia pun lebih memilih untuk mengasingkan diri di haremnya.

Tanggung jawabnya semakin didelegasikan kepada wazir agung, yang memiliki kendali besar atas pendapatan kekaisaran dan memiliki wewenang untuk menuntut dan memperoleh kepatuhan yang mutlak. Dalam banyak hal, ia bisa dibilang menjadi pengganti sultan. Ia pun menabur perpecahan yang melemahkan pengaruh pemerintah.

2. Sistem rampasan perang yang berubah menjadi sarang korupsi

ilustrasi Sultan Murad IV bersama pasukan Yanisari
ilustrasi Sultan Murad IV bersama pasukan Yanisari (commons.wikimedia.org/G. Jansoone)

Pada abad ke-14, penguasa Ottoman Orhan Ghazi memanfaatkan celah dalam hukum Islam ghanimah, yang mengizinkan sultan untuk mengambil seperlima dari rampasan yang dikumpulkan tentaranya dalam pertempuran. Barang rampasan ini bukan saja berbentuk materi, melainkan tawanan manusia yang nantinya akan dijadikan tentara budak atau yang dikenal sebagai Yanisari. Namun, ketika putra Orhan, yakni Murad I, berkuasa, kekaisaran tidak lagi merampas barang. Murad I justru menculik anak-anak Kristen.

Dikenal sebagai sistem devşirme, yang digambarkan oleh How Stuff Works sebagai praktik penculikan anak laki-laki Kristen di wilayah yang ditaklukkan, kemudian mereka dilatih menjadi tentara budak dan birokrat. Pada pertengahan tahun 1500-an, sistem devşirme mengambil alih kekuasaan bangsawan Turki dan berkuasa sendiri. Mereka bukan lagi pion sultan, melainkan memaksakan kehendak pada penguasa dan menciptakan sistem nepotisme dan korupsi. Dari sinilah para sultan saling menyuap atau gratifikasi.

3. Kekaisaran Ottoman terlibat dalam perang jangka panjang

Pertempuran Oltenița terjadi antara Kekaisaran Ottoman dan Kekaisaran Rusia di Oltenița, Wallachia (sekarang Rumania) pada 4 November 1853. Ini adalah pertempuran pertama Perang Krimea.
Pertempuran Oltenița terjadi antara Kekaisaran Ottoman dan Kekaisaran Rusia di Oltenița, Wallachia (sekarang Rumania) pada 4 November 1853. Ini adalah pertempuran pertama Perang Krimea. (commons.wikimedia.org/Underlying lk)

Terjadi penurunan tajam kekuasaan Ottoman di abad ke-18. Beberapa dekade sebelumnya di tahun 1600-an didominasi oleh serangkaian perang dengan Rusia, dan konflik tersebut berlanjut hingga tahun 1700-an sampai 1800-an. Selama Perang Krimea, Rusia, Inggris, dan Prancis bersaing untuk mendapatkan pengaruh di Timur Tengah, dan khususnya Kekaisaran Ottoman, menurut Arsip Nasional Inggris.

Tsar Nicholas I pun melihat peluang untuk mengakhiri penderitaan "orang sakit Eropa" (Kekaisaran Ottoman) tersebut. Pada tahun 1853, Rusia melancarkan serangan terhadap pasukan Ottoman. Prancis dan Inggris ikut campur, yang akhirnya terlibat dalam pertempuran dengan Rusia.

4. Kekaisaran Ottoman runtuh saat Perang Dunia I

August von Mackensen memeriksa tentara Kekaisaran Ottoman tahun 1916.
August von Mackensen memeriksa tentara Kekaisaran Ottoman pada tahun 1916. (commons.wikimedia.org/The Democratic Banner)

Pemberontakan mengguncang Kekaisaran Ottoman pada akhir abad ke-18. Istilah orang sakit yang semakin melemah itu akhirnya tertatih-tatih memasuki abad ke-20. Selama Perang Dunia I, Kekaisaran Ottoman justru mendukung pihak yang salah, karena bersekutu dengan Blok Sentral. History mencatat bahwa Kekaisaran Ottoman secara resmi berakhir pada tahun 1922 ketika gelar sultan dihapuskan.

Nah, jadi sekarang kamu mengerti, kan, bagaimana Kekaisaran Ottoman runtuh. Hal ini sebenarnya sudah dipahami sejak lama, tapi sering kali terlupakan dalam ingatan sejarah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Science

See More