Potret tumpukan batang kayu tumbang (unsplash.com/Walter Martin)
Di balik reputasinya sebagai hama, rayap sebenarnya merupakan pengurai penting dalam ekosistem. Kayu mati yang dibiarkan menumpuk membutuhkan waktu sangat lama agar terurai secara alami. Aktivitas rayap mempercepat proses itu dengan menghancurkan jaringan kayu jadi partikel-partikel kecil yang kemudian dimanfaatkan mikroorganisme lain di dalam tanah.
Tanpa rayap dan organisme pengurai lain, tumpukan kayu mati akan terus bertambah dan memperlambat daur ulang unsur hara. Akibatnya, kesuburan tanah menurun lantaran nutrisi yang terkunci di dalam kayu tidak segera dilepaskan ke lingkungan. Berkat percepatan penguraian yang rayap lakukan, siklus hara kembali berjalan lancar dan hutan pun tetap produktif.
Pada akhirnya, preferensi rayap terhadap kayu mati adalah strategi adaptif demi memperoleh makanan dengan usaha minimal, sekaligus menjalankan fungsi ekologis yang tak tergantikan. Jadi, kalau melihat kayu lapuk yang dihuni rayap, ingatlah bahwa mereka sedang bekerja sebagai daur ulang alami, bukan sekadar perusak.
Referensi :
Shigo, A. L., & Marx, H. G. (1977). Compartmentalization of decay in trees (No. 405). Department of Agriculture, Forest Service.
Kirker, G. T. (2018). Wood decay fungi. John Wiley & Sons, Ltd: Chichester. 1-6., 1-6.
Himawanti, H., Widhiono, I., & Pratiknyo, H. (2019). Preferensi Rayap (F: Rhinotermitidae) Terhadap Berbagai Tonggak Pohon Jati (Tectona grandis) dan Wangkal (Albizia procera) di Kawasan Cagar Alam Bantarbolang, Pemalang, Jawa Tengah. BioEksakta: Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed, 1, 127-132.
Morris, H., Brodersen, C., Schwarze, F. W., & Jansen, S. (2016). The parenchyma of secondary xylem and its critical role in tree defense against fungal decay in relation to the CODIT model. Frontiers in Plant Science, 7, 1665.
Trisnu S., Lusyiani., & Yuniarti. (2022). Buku Ajar Hama & Penyakit Hasil Hutan. CV Banyubening Cipta Sejahtera.